TABLOIDBINTANG.COM -  Muhammad Sholeh, kuasa hukum terdakwa kasus pembunuhan dan penipuan, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, telah memastikan bakal membacakan nota pembelaan atau pleidoi, Selasa, 18 Juli 2017 hari ini dalam sidang di Pengadilan Negeri Kraksaan.

"Besok pasti kami bacakan. Tidak akan ada penundaan lagi," kata Sholeh dihubungi TEMPO, Senin, 17 Juli 2017.

Sholeh mengatakan tidak ada penambahan poin-poin tertentu dalam substansi pledoi yang gagal dibacakan pada Rabu pekan lalu. Artinya, tim kuasa hukum terdakwa siap untuk membacakan pleidoi sebanyak 55 halaman itu hari ini.

Baca juga

Dalam pernyataan sebelumnya, Sholeh mengatakan pihaknya meyakini dalam fakta persidangan, tidak ada satupun saksi yang menyatakan kalau Dimas Kanjeng ini menyuruh ataupun ikut terlibat.

"Beban tanggung jawab, pertanggungjawaban pidana itu tidak bisa dibebankan kepada guru, tapi dibebankan kepada siapa yang melakukan pembunuhan, siapa yang melakukan perencanaan kalau ada perencanaan," ujar dia menambahkan. Sholeh mengatakan perkara pembunuhan ini mestinya berhenti pada beberapa orang yang sudah diproses persidangan bukan kepada Dimas Kanjeng, kecuali kalau itu menggunakan hukum perdata.

"Kalau hukum perdata, yang namanya bos atau petinggi itu bisa diminta pertanggungjawaban ganti rugi terhadap kesalahan yang dilakukan pegawai maupun anak buah. Tetapi kalau hukum pidana tidak bisa," ujarnya. Sholeh menilai fakta persidangan tidak dipakai oleh JPU. "Tetapi bertumpu pada keterangan BAP, yang sebagian itu sudah dicabut baik oleh tersangka nantinya atau para saksi," kata Sholeh.

Seperti diberitakan sebelumnya, Taat Pribadi terjerat dua kasus hukum, yakni pembunuhan dan penipuan berkedok penggandaan uang. Adapun kasus pembunuhan menimpa dua pengikutnya, Abdul Ghani dan Ismail Hidayah. Keduanya dibunuh karena dinilai bakal membongkar praktik penipuan yang ia jalankan.

Taat Pribadi diduga kuat berperan menyuruh, membantu, dan memberikan kesempatan kepada sejumlah orang. Di antaranya tersangka Wahyu Wijaya, Wahyudi, Kurniadi, Boiran, Muryat Subiyanto, Achmad Suryoo, Erik Yuliga Diriyanto, Anis Purwanto, dan Rahmad Dewaji untuk membunuh Abdul Ghani.

Sedangkan kasus penipuan Taat Pribadi berdasarkan laporan korban atas nama Prayitno Supriadi, warga Jember. Berawal dari laporan itu, kasus pembunuhan terungkap. Dari Prayitno pula, polisi menerima sejumlah barang bukti yang digunakan Taat dan anak buahnya menipu ribuan korbannya.

Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada 22 September 2016 lalu di padepokannya di Dusun Sumber Cengkalek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Penangkapan itu melibatkan seribu lebih personel karena mendapatkan perlawanan dari ribuan pengikutnya.

 

TEMPO.CO