TABLOIDBINTANG.COM -  Presiden Direktur PT Modern International Tbk Sungkono Haris membeberkan alasan perusahaannya menghentikan kegiatan operasi 7-Eleven yang dijalankan anak perusahaannya, PT Modern Sevel Indonesia. Seluruh gerai 7-Eleven di Indonesia kini telah ditutup.

Sungkono menjelaskan 7-Eleven mulai kehilangan pendapatannya dari penjualan alkohol dan makanan kecil sejak April 2015 karena adanya aturan pelarangan penjualan alkohol oleh pemerintah. "Pelarangan penjualan minol mempengaruhi penjualan snack an confectionary sehingga penurunan penjualan sangat terasa," kata dia dalam pernyataan tertulis, Jumat 14 Juli 2017.

Sepanjang tahun 2015, kata Sungkono, perusahaan juga telah menutup gerai-gerai 7-Eleven yang tidak mempunyai performa yang baik sebanyak 20. Hingga November 2014, 7-Eleven telah membuka 500 gerai yang tersebar di Pulau Jawa.

Baca juga

Selain itu, pada 2016 para calon investor mengundurkan diri karena persyaratan yang berat dari prinsipal Seven Eleven Inc (SEI). Sepanjang tahun itu pun sebanyak 25 gerai 7-Eleven ditutup.

Penutupan gerai juga dilakukan sepanjang 2017. Setidaknya ada 40 gerai 7-Eleven yang ditutup karena belum mencapai break event point.

Sungkono menyadari bahwa ekspansi gerai 7-Eleven dilakukan terlalu cepat di awal dengan sebagian besar kebutuhan ekspansi tersebut dibiayai oleh pinjaman. Kewajiban pembayaran bunga dan pokok pinjaman yang signifikan menggangu modal kerja yang dapat digunakan untuk operasi bisnis 7-Eleven.

Ditambah lagi dengan daya beli masyarakat yang melemah sejak tahun 2015 dan terus berkelanjutan di tahun 2016 dan awal 2017, serta pertumbuhan bisnis retail yang melambat juga menjadi salah satu kendala dalam pengembangan bisnis 7-Eleven. Selain itu, persaingan bisnis retail khususnya di bidang Convenience Store semakin lama semakin tinggi dan ketat dengan banyaknya pemain baru yang masuk.

Kondisi 7-Eleven makin terperosok ketika transaksi penjualan bisnis 7-Eleven oleh PT Charoen Pokphand Restu Indonesia (CPRI) entitas anak PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk batal karena tidak ada kesepakatan antara CPRI dan SEI pada Mei 2017. Penghentian operasional bisnis 7-Eleven pun dilakukan karena keterbatasan sumber daya pada 30 Juni 2017.

"Dihentikan karena keterbatasan sumber daya dan modal untuk mengoperasikan bisnis serta ekspansi 7-Elven sehubungan dengan gagalnya transaksi dengan para investor ataupun calon pembeli sehingga tidak ada dana masuk," ujar Sungkono.

Akibat penghentian operasional 7-Eleven ini, Laporan Keuangan Audit Perseroan per 31 Desember 2016 dan Laporan Keuangan Tidak Diaudit Perseroan per 31 Maret 2017 masing-masing membukukan kerugian perusahaan sebesar Rp 638 miliar dan Rp 456 miliar.

Penutupan gerai juga mengakibatkan sebanyak 960 karyawan PT Modern Sevel Indonesia di PHK. "Ini pilihan terbaik untuk menyelamatkan lini bisnis lainnya," kata Sungkono.

Meski telah ditutup, 7-Eleven masih memiliki persediaan barang senilai Rp 18 miliar seperti tercatat dalam Laporan Keuangan per 31 Maret 2017. Untuk itu, perusahaan memutuskan untuk masih mengoperasikan dua gerai 7-Eleven di Mangga Besar dan Rawa Mangun untuk menampung dan menjual sisa persediaan dagangan dari gerai lain yang sudah ditutup.

 

TEMPO.CO