TABLOIDBINTANG.COM -  Beberapa tahun lalu Foster Huntington menjual apartemennya di New York, berhenti dari pekerjaannya sebagai desainer di rumah mode ternama, Ralph Lauren, dan mengendarai Volkswagen Syncro keluaran 1987.

Huntington meninggalkan segala kenyamanan dan kemewahan yang pernah dimilikinya untuk sebuah perjalanan yang tak pasti akan berujung di mana.

Sebagaimana ditulis di New Yorker, dia kemudian menghabiskan hari-harinya dengan berselancar, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dia kunjungi, dan memotret mobil van tua yang diparkir di tempat yang amat indah yang “Instagramable”.

Baca juga

Saat itu demam Instagram baru dimulai dan dia berhasil menjadi salah seorang yang dikenal karena gambar-gambar indahnya.

Hingga saat ini dia sudah memiliki lebih dari sejuta followers. Huntington memakai sejumlah tanda pagar (hashtag) saat mengirimkan foto-fotonya, seperti #homeiswhereyouparkit dan #livesimply, tapi yang dia lebih sering pakai adalah #vanlife.

Ada banyak vanlifer seperti Huntington yang meninggalkan kehidupan yang berjejak di satu tempat dan memilih berkeliling dengan van yang lega.

Meski ada yang menggunakan van mewah dan baru seperti Mercedes Sprinter, kebanyakan mereka menggunakan VW tua dari dekade 1980-an.

“Mobil ini multifungsi seperti pisau Swiss Army,” kata Corey Smith. “Juga akan kelihatan keren waktu difoto.”

Hippie era digital ini belakangan menjamur di sejumlah negara karena ada banyak hal yang membuat hal ini memungkinkan.

Yang utama, mereka tak perlu dipusingkan lagi oleh pekerjaan, karena di era digital seperti sekarang ini, mereka tidak harus bekerja 9-5 dan menetap di kantor. Banyak pekerjaan yang memungkinkan kita untuk bekerja dari jauh.

Selain pekerjaan jarak jauh seperti itu, kini banyak professional vanlifers, yaitu mereka yang benar-benar mengandalkan kehidupan di dalam van.

Mereka ada yang menjadi endorser di media sosial, penulis perjalanan, atau menerbitkan buku hasil dari foto-foto yang mereka ambil. Mereka adalah nomaden digital yang hidup dalam perjalanan dan dihidupi oleh perjalanan.

Ada dua hal yang kemudian timbul dari hal ini:

Pertama, mobil yang awalnya memiliki citra dinamis, karena berfungsi sebagai alat untuk memindahkan kita, kini memiliki konotasi sebagai sebuah tempat tinggal, sebuah rumah yang selama ribuan tahun dianggap sebagai simbol suatu yang statis.

Kedua, jika mereka terus berpindah, lalu apa makna rumah di mata mereka?

Bagi para vanlifer--mereka yang tinggal dalam van--mobil adalah rumah mereka.

Seperti tagar yang dipakai oleh Hutington, #livesimply, trend ini adalah bentuk ekstrem dari simple living yang dipraktikkan di banyak tempat, terutama Eropa. Simple living atau slow living ini bukan hidup malas-malasan, tapi adalah upaya untuk hidup cukup.

“It’s about working out what we simply can’t live without,” tulis Nathan Williams di bukunya Interiors for Slow Living.

Dengan demikian, bagi mereka tidak penting bagaimana menjejali van mereka dengan peralatan layaknya di rumah. Sebagian besar van mereka memuat perangkat seperlunya.

Tetap saja, interior van tersebut tidak terlihat rapi dan nyaman layaknya rumah, tapi mereka memiliki keyakinan untuk bisa hidup tanpa banyak hal yang menurut orang modern harus ada di dalam sebuah rumah.

Di sini gerakan #vanlife tidak hanya menyajikan keasyikan berpetualang dengan bebas, tapi juga mengajukan sebuah gaya hidup baru. Kemampuan mereka untuk hidup dalam mobil bukan karena di mobil itu ada semua peralatan yang biasa kita jumpai dalam rumah, tapi karena mereka siap untuk hidup secukupnya.

Hal kedua yang mereka sajikan adalah perubahan konsep akan sebuah rumah. Dalam konsep konvensional, rumah berarti tempat di mana kita bisa tinggal secara permanen. Namun, bagi para vanlifer, konsep itu berubah. Rumah tak lagi harus permanen.

Lalu, apa arti rumah bagi mereka?

Penulis Pico Iyer mencoba menjawab hal itu. Iyer bukanlah vanlifer, tapi dia adalah orang yang terus menerus mempertanyakan home dan kampung halaman karena dia selalu berpindah. Dia yakin, ada 220 juta orang di dunia yang bernasib sama.

“Home for them is really a work in progress. It's like a project on which they're constantly adding upgrades and improvements and corrections. And for more and more of us, home has really less to do with a piece of soil than, you could say, with a piece of soul,” kata dia dalam TedTalks.

Rumah, bagi mereka, bukanlah tanah yang dipijak, tapi hati yang berlabuh. “Tentu saja, saat ada yang bertanya kepada saya, ‘Di mana rumahmu?’ Saya tidak akan menunjuk pada bangunan fisik. My home would have to be whatever I carried around inside me. And in so many ways, I think this is a terrific liberation,” kata Iyer.

“Kalau ada yang bertanya kepada saya, ‘Di mana rumahmu?’ Saya akan berpikir tentang kekasih saya atau sahabat saya atau lagu yang menemani saya saat bepergian. Merekalah rumah bagi saya.”

Alamat, kemudian, tak lagi berguna. Mungkin masih dibutuhkan secara administratif, tapi salah satu fungsinya sudah hilang.

“Dari mana kamu berasal, kini sudah semakin tidak penting dibanding ke mana kamu akan pergi. Semakin lama kita semakin berakar pada masa kini dan masa depan, bukan lagi masa lalu.”

“Dan rumah, kita tahu, bukan hanya tempat di mana kita dilahirkan dan dibesarkan. Rumah adalah tempat di mana kita menjadi diri sendiri.”

Tapi Iyer pun mengakui bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang memamnggil-manggil untuk berdiam. Kerinduan purba untuk menetap dalam “gua” yang sunyi.

“Movement is a fantastic privilege,” kata dia di akhir ceramah.

“But movement, ultimately, only has a meaning if you have a home to go back to. And home, in the end, is of course not just the place where you sleep. It's the place where you stand.”

 

HOME.CO.ID