TABLOIDBINTANG.COM -  Beberapa tahun lalu, di suatu senja yang tenang, saya duduk di atap sebuah biara Orthodox di Lembah Natrun, Mesir.

Di sebelah saya ada Abuna (Romo) Shedraq yang berjubah hitam dan berjenggot panjang. Kami menatap langit yang perlahan berubah menjadi merah. Warna itu terpantul pada lautan pasir yang terbentang hingga cakrawala.

Meski berada di tengah padang pasir, biara ini sebenarnya dikelilingi oleh taman dan kebun hijau. Pohon-pohon kurma dan zaitun menaungi tanaman-tanaman keras yang lebih kecil.

Baca juga

Saat saya bertanya kenapa para biarawan di sini berjuang keras untuk menghijaukan padang pasir, Abuna dengan tersenyum menjawab, “Agar kiamat datang lebih cepat.”

Dia tidak sedang bercanda. “Kalau kehidupan di dunia ini selesai, kita akan segera bertemu Tuhan,” begitu katanya saat saya bertanya kenapa ingin cepat kiamat.

Dalam sejumlah agama, berubahnya padang pasir menjadi lahan hijau memang dianggap sebagai nubuat kiamat. Entah mengapa. Bisa jadi memang karena nubuat itu benar, atau mungkin karena itu adalah sebuah kemustahilan.

Mungkin karena susahnya itulah, sejak lama manusia menjadikan taman-taman hijau sebagai puncak sebuah peradaban. Taman Gantung Babilonia yang dibangun oleh Raja Nebuchadnezzar II untuk istrinya, Ratu Amithys, adalah salah satunya.

Kisah ini dianggap mitos, karena hingga kini tak ada bukti arkeologis yang bisa membuktikan keberadaannya, seperti juga Atlantis yang gemah ripah loh jinawi.

Tapi, cerita tentang taman nan indah di atas bukit ini diceritakan oleh banyak penulis sejarah, mulai dari pendeta Babilonia, Berossus (290 sebelum Masehi), hingga para penulis Yunani dan Romawi.

Dalam kehidupan modern, tingkat “peradaban” sebuah kota amat ditentukan oleh seberapa besar taman-taman yang dimilikinya.

Tentu saja, itu bukan satu-satunya indikator. Tapi, saya mungkin termasuk yang tidak setuju jika ada yang mengatakan bahwa ruang terbuka kota--baik yang hijau atau tidak--hanyalah make-up, pupur yang hanya berfungsi mempercantik kota.

Ruang terbuka bukan hanya penghias yang hanya menghabiskan anggaran. Ia juga bisa berfungsi sebagai pendongkrak ekonomi, karena taman kota terbukti bisa menaikkan harga properti di sekitarnya antara 5-15 persen. Peningkatan ini tentu juga berdampak pada NJOP dan pajak bumi dan bangunan.

Taman kota, tentu saja, bisa menaikkan kualitas hidup hingga kesehatan orang sekitar. Namun, yang lebih penting dari itu, taman kota dan ruang terbuka lainnya bisa mengembalikan kemanusiaan kita.

Kehidupan modern di era digital memaksa kita teralienasi, hidup dalam kotak-kotak maya yang membuat kita terpisah satu sama lain. Tak ada ruang interaksi, karena kita tak punya pilihan lain selain mengunjungi mal. Di mal, kita berada dalam kerumunan yang tak saling menyapa, melakukan kepentingannya sendiri-sendiri, bahkan tidak saling bertatap mata.

Ruang terbuka hijau atau ruang terbuka lainnya memberi kita kesempatan untuk merasakan kembali menjadi sebuah komunitas: sekumpulan orang yang punya agenda yang sama. Kita bisa bertemu orang yang tak dikenal saat latihan yoga di Taman Suropati, menikmati peragaan busana di Taman Menteng, atau bermain sepeda dan papan luncur di Kalijodo.

Orang mungkin masih ingat bagaimana di akhir 1990-an di Taman Lalu Lintas, Bandung, diam-diam lahir komunitas underground para pecinta skateboard. Mereka inilah yang kemudian berdiaspora, mengembangkan komunitas di tempat lain, termasuk melahirkan tren distro di kota tersebut.

Kota bukan sekadar tempat untuk kita yang kebetulan tinggal di area yang sama. Kota adalah kumpulan masyarakat, penghimpun komunitas.

Sebuah kota yang baik membuat penduduknya saling bertemu, terkait, dan berinteraksi. Interaksi inilah yang membuat kita tetap menjadi manusia dan bukan hanya data yang tersimpan di Badan Statistik.

Taman kota di era modern adalah salah satu tiang demokrasi, berbeda dengan Taman Babilonia atau taman-taman kota di masa lalu yang eksklusif untuk keluarga kerajaan. Itulah mengapa ruang terbuka bukan hanya make-up, tapi

Sayangnya, pembangunan ruang publik ini kerap dilupakan dalam pembangunan kota-kota di Indonesia. Para pemimpin daerah lebih senang jika ada banyak mal atau gedung bertingkat di kotanya. Itu membuat mereka lebih mentereng.

Untungnya, belakangan ini ada sejumlah pemimpin kota yang punya pikiran berbeda. Walikota Bandung Ridwan Kamil, Walikota Surabaya Tri Risma, dan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama adalah di antaranya. Mereka membangun banyak taman dan ruang terbuka yang memungkinkan masyarakat saling bertemu.

Dampaknya sangat terasa, terutama di Surabaya dan Bandung. Selain ada banyak kegiatan, interaksi itu membuat kota-kota tersebut mulai memiliki identitas. Kebanggaan akan kota mulai tumbuh dan kota akan hidup.

 

HOME.CO.ID