TABLOIDBINTANG.COM -  Beberapa waktu lalu, ketika sedang berwisata ke sebuah pulau terpencil di bagian utara Indonesia, yang tinggal sedikit lagi sudah sampai Filpina, saya  menginap di rumah kepala dusun.

Rumah itu cukup “mewah” untuk ukuran pulau tersebut. Terbuat dari tembok, ada beberapa kamar, dan punya instalasi listrik sendiri memakai solar cell.

Ada juga kamar mandi yang cukup fungsional. Yang membuat saya kaget saat memasukinya adalah, karena ada dua kakus. Satu kakus jongkok dan tepat di sebelahnya adalah kakus duduk. Tentu saja, kedua kakus itu tidak mungkin dipakai secara bersamaan. Keduanya ada sebagai alternatif, mau pilih yang mana.

Baca juga

Saat malu-malu bertanya ke tuan rumah kenapa harus ada dua kakus, dia menjelaskan bahwa rumahnya kerap didatangi wisatawan dari kota seperti kami.

Maklum, di sana tidak ada hotel atau penginapan. Nah, masalahnya, banyak tamu yang tidak bisa buang air dengan nyaman di atas toilet jongkok.

Jamban dan kamar mandi adalah soal budaya dan peradaban. Bukan sekadar sebuah ruang yang punya fungsi khusus. Kadang ada jarak antara ruangan itu dengan manusia yang menggunakannya.

“The civilisation of a people can be measured by their domestic and sanitary appliances,” kata George Jennings yang menciptakan sistem flush seperti yang kita kenal dalam kakus modern.

Meski belakangan ini sejumlah penelitian menunjukkan bahwa posisi jongkok saat buang air besar itu lebih “sehat”, kakus duduk sudah terlanjur dianggap lebih beradab.

Lebih mewakili sesuatu yang bersifat modern dan urban. Mungkin karena ada jarak evolutif antara cara buang air yang amat tradisional dengan toilet duduk.

Apalagi belakangan ini toilet duduk mengalami perkembangan teknologi yang cukup signifikan, mulai dari pembersih dengan air hangat, dudukan yang bisa memanas, temperatur yang bisa diatur, pemakaian sensor gerak, dan lain sebagainya.

Perkembangan teknologi sanitasi sesungguhnya berjalan lambat. Baru dalam beberapa puluh tahun terakhir ini ada perkembangan luar biasa.

Sebelumnya, orang mungkin hanya peduli pada dua temuan penting: penemuan S trap oleh Alexander Cummings pada 1775 dan pematenan flush untuk toilet umum oleh Jennings pada pertengahan abad ke-19.

S-trap adalah pipa pembuangan berbentuk S yang memungkinkan ada air jernih tersisa di kloset setelah kita flush. Fungsi air yang terjebak itu adalah sebagai “tabir” dari segala bau yang ada di pipa pembuangan.

Itulah yang membuat kita terhindar dari bau tak sedap dari dalam pipa setelah kita membersihkan kloset. Di sejumlah negara saya masih menjumpai kloset tanpa S-trap, dan itu sangat mengganggu.

Bersamaan dengan penemuan flush untuk toilet umum, pada The Great Exhibition di Crystal Palace, Inggris, sejumlah penemuan di bidang toilet juga dipamerkan dan dianggap sebagai sebuah pencapaian.Penemuan yang sederhana itu hampir bersamaan dengan perkembangan listrik oleh Thomas Alfa Edison.

Agak aneh memang, setelah peradaban manusia selama puluhan ribu tahun, jauh setelah manusia bisa membuat Piramida dan Colosseum yang megah, kita baru bisa mengatasi hal ini pada 2-3 abad lalu. Mungkin selama ini manusia mengangap urusan kakus adalah urusan belakang yang prioritasnyapun belakangan.

Untungnya, kemudian, kakus “yang putih, funksional, dan didesain agar mudah digunakan (utilitarian)”, sudah menjadi simbol dari peradaban modern. “Toilet menjadi simbol nilai-nilai modern yang higenis dan bersih. Selayaknya mempresentasikan peradaban yang progresif,” kata Barbara Penner, profesor di bidang sanitari dan penulis buku Bathroom (2014).

Tapi ada nilai-nilai yang tidak berubah di kalangan masyarakat seiring berjalannya waktu. Hal inilah yang kadang menciptakan jarak antara kemodernan yang ditawarkan dengan manusia yang memakainya.

Salah satunya diceritakan oleh teman saya saat meliput sebuah kongres partai politik berbasis agama yang dilaksanakan di sebuah hall di mal modern dan besar. Seperti halnya para pengguna balai pertemuan itu, para peserta kongres juga menggunakan toilet umum di area hall.

Masalahnya, urinoir di sana tidak memiliki tombol flush, tapi menggunakan sensor gerak. Air baru mengucur setelah mereka yang buang air kecil berlalu dari hadapan urinoir. Ini celaka, karena mereka kemudian tidak bisa mensucikan diri dari air seni. Padahal, tanpa pensucian, celana mereka akan najis dan tidak bisa dipakai sembahyang. Mau pakai tisu juga mustahil, karena tisu itu akan dibuang ke mana?

Urinoir ini memang dirancang di dunia Barat yang meski menggunakan teknologi modern, tak memungkinkan orang untuk mensucikan diri dari najis. Untuk mengatasinya, pengelola gedung menyediakan ember berisi air dan gayung di samping setiap urinoir.

Jadi, ini bukan masalah teknologi atau peradaban, tapi masalah perbedaan budaya antara pembuat toilet dengan kita yang memakainya.

 

HOME.CO.ID