TABLOIDBINTANG.COM -  Seorang teman meminjamkan novel The Museum of Innocence dan hingga saat ini saya belum mengembalikannya.

Novel karya Orhan Pamuk itu saya saya bungkus rapi agar tidak cacat saat membawanya ke mana-mana. Maklum, saya membacanya berkali-kali. Ada banyak hal yang membuat saya begitu jatuh cinta pada karya Pamuk yang ini, melebihi karya dia yang lain seperti Snow atau My Name is Red.

Seperti banyak novelnya, Pamuk bernostalgia akan Turki di masa lalu. Kali ini kisahnya bermula di tahun 1970-an, ketika Turki masih begitu mengagumi Eropa. Layaknya novel Pamuk lainnya, The Museum of Innocence menceritakan kelas menengah Turki saat itu.

Baca juga

Adalah Kemal, pemuda kaya yang hidup sangat Eropa, jatuh cinta pada sepupu jauhnya, Fusun, yang hidup jauh lebih sederhana. Selain menceritakan kisah cinta mereka, Pamuk juga mendeskripsikan secara detil kehidupan kelas atas Turki saat itu.

Kisah cinta ini tak selamanya indah, karena Kemal sempat menyia-nyiakan cinta Fusun dan Fusun menikah dengan orang lain. Meski demikian, Kemal tetap menemani Fusun sepanjang hidupnya.

Yang menarik, bersamaan dengan saat menulis kisah ini pada 1998, Pamuk juga membuat sebuah museum yang bernama sama, Masumiyet Muzesi dalam bahasa Turki.

Saat membuat novel, Pamuk mengumpulkan ribuan benda yang ditumpuk di kantor dan rumahnya. Ia kemudian bekerja sama dengan sejumlah arsitek untuk mewujudkan museum ini: İhsan Bilgin dan Cem Yücel dari Turki, serta Gregor Sunder Plassmann dari Jerman.

Museum yang dibuka pada 28 April 2008 ini bukan museum Pamuk, karena lebih terkait dengan Kemal. Isinya adalah benda-benda kenangan yang dimiliki, dipakai, atau dilihat Kemal dalam novel itu.

Dalam novel tersebut, Kemal memang mengumpulkan semua barang yang terkait dengan Fusun untuk mengenang perempuan yang dicintainya itu. Kemal membawa kenangan akan cintanya itu sepanjang hidup.

Di museum, benda-benda itu dimasukkan ke dalam kotak kaca atau dibingkai dan diletakkan di hampir semua lantai yang dihubungkan oleh tangga kayu. Ada 83 kotak yang mewakili 83 bab dalam novel. Di dalamnya terdapat benda-benda seperti karcis bioskop, korek api, botol minuman keras, hingga gagang pintu.

Ada juga kamar dengan tempat tidur single bed tempat Kemal dan Fusun diam-diam menghabiskan hari, sepeda roda tiga yang dipakai oleh Kemal kecil. Anting-anting kupu-kupu yang dipakai oleh Fusun. Termasuk asbak dan ribuan puntung rokok Fusun yang Kemal kumpulkan saat mereka bertemu di apartemen tak terpakai milik orangtua Kemal.

Museum ini dibuat Pamuk di sebuah bangunan bersejarah yang didirikan pada 1897 di Jalan Cukurcuma, Istanbul. Sebuah apartemen biasa yang tidak terlalu besar dibanding museum pada umumnya. Hanya warna merahnya yang mencolok.

Secara arsitektural, ini bukanlah museum modern dengan desain yang mendatangkan decak kagum. Juga tak ada teknologi wah yang membuat kita ternganga-nganga. Tapi, museum ini dibuat dengan konsep yang jelas dan tertata.

Setiap fase dalam hubungan Kemal-Fusun, terpisahkan oleh cahaya lampu berbeda. Cahaya yang turun melalui lubang tangga melukiskan kontur dari hubungan percintaan keduanya. Juga menerangi benda-benda kenangan.

Siapapun yang memasuki museum itu akan disambut oleh 4.213 puntung rokok Fusun. Setiap lantai yang kita tapaki akan membuat kita tenggelam semakin dalam pada kisah cinta keduanya. Seperti dalam novel, wuwungan apartemen adalah kamar tempat Kemal menghabiskan sisa hidupnya

Tak aneh pada 2014, museum ini mendapat anugerah European Museum of The Year, penghargaan paling prestesius di bidangnya. Setahun sebelumnya, Pamuk mendapat Mary Lynn Kotz Award untuk buku katalog museum Seylerin Masumiyet (Obyek-obyek Inosens).

Museum ini menimbulkan pertanyaan, apakah fungsi museum sebenarnya jika isinya bukan kumpulan kenangan tentang manusia yang nyata?

Pertanyaan berikutnya adalah, seperti apa museum yang ideal hingga museum Pamuk ini layak mendapat penghargaan?

Museum ini memang tidak mengumpulkan benda dan artefak dari orang yang pernah hidup di sekitar kita. Meski demikian, dengan melihat koleksinya, orang tidak hanya mendapatkan gambaran tentang dunia Kemal yang fiksi, tapi juga menyaksikan rekaman kehidupan Turki di suatu masa lewat tokoh Kemal.

Itulah mengapa, selain benda-benda yang pernah disentuh oleh Kemal, museum itu juga menyimpan sejumlah foto atau lukisan yang menggambarkan Istanbul pada beberapa dekade lalu, antara 1950-an hingga awal 2000-an.  

Pamuk mungkin memang seorang romantis yang selalu menengok pada keindahan di masa lalu. Hampir semua novelnya memang menceritakan kerinduannya akan masa-masa tersebut. Terutama setelah masyarakat Turki semakin condong ke kanan, ketika Pamuk dan kelas menengah yang mendukung sekulerisme semakin tersisih.

Kemampuan museum ini dalam bercerita yang kemudian menjadi pertimbangan para juri European Museum of the Year. Mereka memuji model keberlanjutan (sustainability) dari museum itu.

“Museum ini radikal, mengeksplorasi secara mendalam makna-makna psikologis dari pengumpulan benda-benda. Museum itu membuat kita memandang barang-barang di sana sebagai metafora dan kendaraan untuk membawa perasaan, kenangan, dan kebudayaan. Museum ini menginspirasi dan memunculkan inovasi, sebuah paradigma baru tentang museum,” kata juri dalam catatan mereka.

 

HOME.CO.ID

 

TAG