Melestarikan Kain Tenun Flores sekaligus Memberdayakan Masyarakat

Yuriantin | 9 Juli 2017 | 22:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Jelajah keindahan Flores, NTT, selama 40 hari mengantar Cendy Mirnaz dan Annisa Hendrato jatuh cinta pada tenun ikat khas Flores.

Ketika pada 2012 melepas penat di Flores usai menyelesaikan tugas akhir kuliah mereka, Cendy dan Annisa diajak seorang penduduk lokal, Daniel David, mengenal lebih dalam tentang tenun ikat Flores di Kampung Watublapi, Maumere.

"Di sana, kami kagum dengan tenun warna alam yang belum pernah kami lihat sebelumnya," ungkap Cendy.  

Berangkat dari kekaguman inilah, Cendy, Annisa, dan Daniel mendirikan label Watublapi yang menjual kain tenun Flores di Jakarta. Sayangnya, label ini tidak bertahan lama akibat kesibukan kerja Cendy dan Annisa. Namun, minat keduanya akan tenun tidak berhenti sampai di sini. 

Didorong keinginan bekerja sama dengan perajin tenun dari seluruh Indonesia serta keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, keduanya mantap mendirikan label baru, Noesa, pada 2014. Seorang teman kuliah mereka, Shinta Uli, ikut bergabung dua tahun kemudian.

"Kami merasa tidak bisa berguna bagi orang lain kalau hanya kerja kantoran. Jadi kami mantap keluar dari pekerjaan dan nekat membuat Noesa," ungkap Cendy, yang sebelumnya berprofesi desainer grafis. 

Berbeda dengan label sebelumnya, Noesa tidak hanya menjual kain tenun namun memproduksi berbagai produk mode dengan motif tenun Flores, seperti tas, dompet, hingga aksesori kalung, gelang, dan tali kamera yang jadi produk favorit dengan rentang harga mulai dari 50 ribu hingga jutaan rupiah. Anak muda yang menjadi target pasar menyambut baik produk Noesa.

"Banyak anak muda yang datang ke pameran kami, sampai banyak pelanggan loyal yang beli produk Noesa berkali-kali," ucap Cendy.

Tingginya minat konsumen disambut Noesa dengan meningkatkan kualitas produk. Salah satunya dengan mengadakan lokakarya atau workshop internal.

"Awalnya para perajin tidak punya sistem kerja yang pasti. Jadi kami bantu membuat sistem dan standar desain serta warna produk," sambung lulusan Universitas Bina Nusantara ini. 

Lokakarya ini juga membantu mengatasi warna yang terbatas pada warna merah biru. Kini, perajin yang tergabung dalam kelompok bernama Watubo ini memproduksi rata-rata 200 barang dengan warna variatif per bulannya. Tawaran untuk berkolaborasi dengan bisnis lain seperti kafe dan restoran pun mulai berdatangan. Rencananya, Noesa akan membuka toko fisik di Ubud, Bali. 

Keberhasilan Noesa memberdayakan perajin Watubo menarik minat anak muda Watublapi untuk ikut melestarikan kain tenun. Awalnya beranggotakan kurang dari 20 orang, kelompok Watubo kini dihuni lebih dari 25 orang.

Selain penghasilan yang diperoleh dari sistem penjualan beli putus, Watubo juga mendapatkan penghasilan pasif dari penginapan Orinila yang dibangun swadaya bersama Noesa. Penginapan ini mulanya dibangun sebagai akomodasi untuk tim Noesa ketika berkunjung ke Watublapi. 

Noesa tidak membatasi penenun untuk berkolaborasi dengan pihak lain.

"Hanya karena mereka kerja sama dengan kami, bukan berarti tidak boleh kerja sama dengan orang lain. Tujuan adanya workshop juga biar mereka mandiri, tidak bergantung terus pada kami,” tutur Cendy.

Penenun Watubo bebas mengelola open trip mandiri untuk mencari pelanggan bagi kain tenun produksi mereka sendiri. 

Upaya Noesa menuai pujian. Noesa acap dijuluki sebagai bisnis sosial karena membawa dampak positif bagi masyarakat Flores terutama kelompok penenun. Noesa menyadari adanya citra ini, namun tidak lantas mengubah arah bisnis mereka.

"Kami tidak mengawali dari bisnis sosial. Orang lainlah yang melabeli kami sebagai bisnis sosial, jadi itu bukan bagian dari pemasaran kami," terang Cendy.

Dengan dampak yang mereka ciptakan, Noesa berharap bisa mengembangkan kain tenun di daerah lain di NTT dan menjadi label internasional yang berkolaborasi dengan perajin di seluruh Indonesia, sejalan dengan nama Noesa sendiri yang berarti kepulauan.

 

(yuri / gur)

 

Penulis : Yuriantin
Editor: Yuriantin
Berita Terkait