MARET 2010, salah seorang personel boyband asal Jepang, KAT-TUN, Jin Akanishi (26) membuat kejutan. Di tengah cemerlangnya nama KAT-TUN, Akanishi memutuskan mundur.
Johnny & Associates, perusahaan hiburan terkemuka di negeri matahari terbit yang menaunginya resmi mengumumkan KAT-TUN keliling konser Asia dengan lima anggota saja. Apa alasannya?
Akanishi ingin konsentrasi bersolo karier. Keputusannya tak main-main. Mei--di saat anggota KAT-TUN sibuk tur--Akanishi segera terbang ke Ameriak demi persiapan konser tunggalnya.
Musim gugur ini ia pun dipadatkan dengan jadwal tur ke Los Angeles dan tujuh kota lain di negeri Paman Sam itu.
Loncatan ini patut diacungi jempol. Bayangkan, ia menjadi artis Johnny's pertama yang mampu merambah pasar Amerika seorang diri! Memang apa sih sesungguhnya yang membuatnya berani maju seorang diri?
“Aku suka menciptakan musik. Aku punya banyak karya musik yang kuciptakan sendiri. Aku ingin mempertunjukkannya pada banyak orang. Begitulah, menyandang predikat musisi solo Akanishi pasti lebih bisa leluasa menonjolkan idealismenya.
“Konserku dinamai You & Jin karena 'You' mengacu pada seluruh fans sedangkan 'Jin' adalah aku. Maksudnya... aku punya banyak teman (fans) di banyak negara dan menurutku kami berkerja sama. Tak peduli apa warna kulit mereka--kuning, putih, cokelat--atau tak peduli mereka straight, gay, lesbi, semua bekerja sama demi mewujudkan satu impian menyuguhkan pertunjukkan hebat,” ungkapnya.
Lebih leluasa, apakah itu berarti karya Akanishi bakal jauh beda dengan selama ia di KAT-TUN?
“Aku rasa sangat beda. Yang sekarang lebih hip hop, pop ala barat. Aku mencoba membikin ballad juga sih, tapi kok nuansanya tetap musik pesta, haha,” ujar pria yang menjalani debut aktingnya di layar lebar lewat Bandage Januari lalu.
Menikmati performa solonya, Akanishi tak menampik tanggung jawabnya lebih besar.
“Saat di grup, kalau aku membuat kesalahan ada orang lain yang menutupinya. Tapi kalau sendirian, aku yang harus bertanggung jawab atas semuanya. Tapi aku senang karena aku bisa menciptakan gaya bermusikku sendiri. Yang pasti ini tentang bersenang-senang,” ujar sahabat Yamashita Tomohisa ini.
Meski begitu kan tetap saja audiens Amerika beda dengan yang biasa dihadapi di Jepang. Adakah persiapan khusus?
“Aku dengar penonton Amerika lebih aktif. Mereka suka menari dan bergoyang. Di Jepang, biasanya orang lebih suka diam menonton. Jenis musikku, musik klub, aku ingin semuanya bergerak,” sambungnya.
Menilik antusiasme Akanishi, mudah menebak ia tipe pekerja keras yang selalu bertekad memberi penampilan terbaik dalam setiap hal yang dikerjakan.
“Aku benci kalah. Sebenarnya bukan kalah dalam kompetisi dengan orang lain karena sejujurnya justru aku bukan sosok kompetitif. Tapi aku bisa sangat frustasi kalau tak bisa mencapai keinginan yang kutetapkan saat aku sudah bekerja sebaik-baiknya. Jujur, terkadang itu sangat menganggu. Tapi aku adalah aku. Aku ingin hidup sesuai dengan jalan yang ingin kujalani. Aku sadar bukan orang sempurna. Ada sisi baik dan buruknya. Itu wajar, jadi tak ada yang berusaha ingin kuubah. Yang penting aku selalu mencoba untuk bahagia. I'm mostly a happy person,” tegasnya.
dari Berbagai Sumber
(yoci/gur)
Tambah Komentar
- Hirano Aya Sakit Kronis - 09-11-2010
- Keiichiro Koyama, Memadukan Sensitivitas, Kerja Keras, dan Sikap Positif dalam Berkarya - 25-10-2010
- Tegoshi Yuya, Idola yang Ceria dan Percaya Diri - 20-10-2010
- Erika Sawajiri Selebriti Paling Teguh Pendirian - 18-10-2010
- Ikuta Toma Sudah 5 Tahun Pacari Ichikawa Yui? - 14-10-2010




Komentar
RSS feed untuk komentar ini