“aku akan menunjukkan kepada para penonton intisari musikku selama sepuluh tahun terakhir. Dan di rangkaian konser The Era inilah tonggak sejarahnya,” ujar Jay Chou (31) kepada Global Times beberapa saat sebelum konsernya di Beijing, Sabtu (3/7).
Ya, tak terasa sepuluh tahun sudah Jay memberi kontribusinya di industri hiburan Asia. Proses panjang yang dilewati membuat namanya kokoh sebagai salah satu musisi Asia paling berkibar. Bahkan di dunia internasional pun Raja R&B Taiwan ini mulai dikenal—meski lebih fokus pada sepak terjangnya di kancah akting. Terlebih ketika didaulat bermain bersama Seth Rogen dan Cameron Diaz di The Green Hornet yang bakal rilis tahun depan. Segala prestasi dan pencapaiannya ini membuat Jay lebih matang sebagai seorang bintang pekerja seni.
“Sepuluh tahun lalu aku sangat berhati-hati tentang musik. Tak ada harapan muluk-muluk, hanya ingin musikku diterima siapa pun yang mendengar. Sekarang aku merasa lebih percaya diri dan dewasa. Punya keberanian lebih untuk bereksperimen dengan gaya dan ide baru. Pokoknya ini era baru untukku,” tegas Jay.
Jay tak sekadar gembar-gembor. Kedewasaan dan eksperimen fresh yang dijanjikannya nyata terlihat di rangkaian konser The Era. Setelah 11 Juni lalu menggebrak panggung Taipei Arena sebagai gong pembuka, Jay kembali memuaskan para penontonnya di Shanghai (25/6) dan Beijing (3/7). Tak sia-sia ongkos 86 juta yuan atau sekitar 115 miliar rupiah) digelontorkan demi menghasilkan atraksi terbaik bertema futuristik 4D ini di hadapan para fans dan pecinta musik.
“Setiap konser selalu akan ada nuansa futuristiknya dengan tata panggung dan pencahayaan hi-tech. Aku akan membawa penonton masuk ke dunia futuristik selama tiga jam diiringi tiga puluh lagu.” Ngomong-ngomong lagu, apa Jay enggak pusing memilih mana saja yang harus dibawakannya di antara seratus lebih hit miliknya? Oh, Jay mengaku itu bukan hal mudah.
“Aku berusaha memasukkan seluruh unsur musik yang mewakili kesepuluh album. Ada hip hop, balada, dan tentunya sentuhan elektronik. Tapi untuk tetap mempertahankan sisi fresh-nya, aku juga mulai memperkenalkan dua atau tiga lagu dari album terbaru The Era,” tutur pria yang sudah meraih lebih dari 350 penghargaan ini.
Terus mengedepankan pembaharuan dan ide-ide anyar tak melulu membuat Jay aman. Tetap ada beberapa pihak yang mengkritik dan khawatir genre musiknya terlalu bervariasi, sehingga tak ada kesatuan dan benang merah yang bisa ditarik. Jay bukannya tutup mata dengan segala kekhawatiran yang terlontar. Makanya ia menegaskan, rangkaian konsernya akan berjalan sesuai idealisme bermusiknya.
“Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski akan muncul banyak elemen, semuanya akan berpadu menjadi satu genre: genre Jay Chou,” ungkapnya. Tak hanya pemilihan lagu, tata panggung, dan pencahayaan, Jay yang dikenal perfeksionis juga tak meremehkan urusan kostum.
“Total ada 12 kostum yang ganti-ganti akan kupakai. Ada kostum ala ksatria, tentara futuristik, dan pakaian sutra tradisional China. Semuanya akan disesuaikan dengan lagu yang kubawakan.” Ah, jadi makin enggak sabar menunggu konser di Singapura 24 Juli mendatang. Tunggu liputan Bintang, ya!
Selain sibuk loncat dari satu kota ke kota lainnya untuk menggelar konser, Jay juga tengah dihadapkan pada kegiatan di bidang akting.
“Aku sedang mengerjakan sekuel film perdanaku dulu, Secret. Cerita keseluruhannya berbeda, tapi aku tetap akan menjadi aktor dan sutradaranya,” paparnya antusias.
Hmmm, sepertinya makin semangat ya setelah kelar syuting The Green Hornet? Apalagi dengar-dengar banyak yang memuji aktingnya di debut film Hollywoodnya itu. Termasuk sang sutradara, Michael Gondry, yang kagum dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Maklum, kalau Anda rajin mengikuti berita industri hiburan Taiwan, Jay dikenal sebagai salah satu sosok selebriti yang anti bahasa Inggris. Meski banyak media internasional yang mewawancarainya, Jay seolah bergeming dan memilih tetap menggunakan bahasa Mandarin dengan bantuan penerjemah.
Padahal sebenarnya dalam hati ia juga pernah menyatakan kekhawatirannya, kalau sang penerjemah salah tangkap maksudnya. Cuma tetap saja saat itu bahasa Inggris menjadi momok buat Jay. Eiits, tapi itu dulu. Saat menonton trailer The Green Hornet, kami dibuat terperanjat. Bahasa Inggris Jay berkembang pesat. Tapi ia masih malu mengakuinya, meski sang sutradara sendiri yang memujinya.
“Aduh, kalian, kan tahu Michael (Gondry) orang Perancis. Mungkin dia juga tak mengerti betapa buruknya bahasa Inggrisku,” katanya sambil tersenyum. Ah, jangan merendah gitu dong, Jay!
(yoci/gur)
Tambah Komentar
- Pesona Bintang-bintang Taiwan di 'Summer's Desire' - 23-08-2010
- Vic Chou, Imej Baru di 'Love You 10000 Years' - 23-08-2010
- Menikmati Curhat Jay Chou di 'The Era' - 29-07-2010
- Perhatian Jay Chou Kepada Para Penggemarnya - 21-07-2010
- Wang Lee Hom, Membagi Arti Kebahagiaan di Album Baru - 21-07-2010



