SEORANG wartawan senior yang sering diminta memberi pengarahan pada finalis kontes-kontesan (mereka ini bakal jadi seleb), punya nasihat yang selalu diulang.
“Kalau sudah jadi artis, sudah top, boleh bikin sensasi apa saja, boleh ganti-ganti pacar, dll. Satu yang tidak boleh: jangan sekali-kali berselingkuh dengan suami/istri orang. Kalau itu kalian lakukan, karier keartisan kalian akan hancur,” kata dia bersemangat.
Biasanya para calon artis hanya mesem saja mendengarnya. Tapi nasehat itu benar. Anda pasti ingat daftar seleb yang melakukan ini dan bagaimana publik merespon. Zaman boleh berubah, generasi alay terus bertambah, markus (sudah ditangkap atau masih berkeliaran) makin agresif, tapi berselingkuh dengan suami/istri orang, apalagi sampai menyebabkan perceraian, tetap kesalahan yang bisa memancing cibiran tajam. Bahkan mungkin tak termaafkan.
Selebriti dan reputasi dua hal yang mesti menyatu. Predikat perusak atau perebut suami/istri orang jelas bukan sesuatu yang bisa melengkapi popularitas seorang seleb. Apalagi kalau motif ekonomi (bukan cinta) tercium lebih kuat.
Seleb perempuan berselingkuh dengan suami orang, dibenci ibu-ibu. Seleb pria menyelingkuhi istri orang, dicaci ibu-ibu juga bapak-bapak. Eksistensi seleb ditentukan penerimaan publik. Memang tak semata tergantung imej atau citra diri, tapi juga karya. Imej hancur, karya tak istimewa, ya siap-siap terlupakan.
Semua seleb yang berselingkuh dengan suami/istri orang, tahu itu kesalahan dengan konsekuensi serius. Buktinya tak satu pun dari mereka mau mengaku. Bahkan saat (akhirnya) menikahi selingkuhannya pun segala dalih harus dikerahkan demi menjaga citra diri.
“Peceraian kami tak ada hubungannya dengan orang ketiga” atau “Kami baru berhubungan setelah sama-sama bebas” itu kalimat yang sering kita dengar. Pengingkaran itu makin menunjukkan bahkan si pelaku pun menolak perselingkuhan.
Tapi bagaimana kalau perselingkuhan terjadi karena cinta? Alamak. Cinta memang buta. Tapi publik tidak. Semakin banyak retorika dimuntahkan hanya akan membuat publik kian jengkel. Roadshow ke media cetak dan infotainment, bahkan mengerahkan tim kampanye seperti ikut pilkada, tak selalu bisa membantu memulihkan citra.
Tak mau karier hancur, jangan selingkuh. Mau nekat selingkuh, jangan terkejut popularitas redup dan job melayang. Tapi yang lebih berat dari sekadar job dan popularitas, hukuman dari rasa bersalah dan pandangan menghakimi dari setiap mata.
Tambah Komentar
- Mengapa Hollywood Lebih Suka Bikin Film Sekuel dan Kita Berbondong Menontonnya? - 12-05-2010
- Mana Lebih Kontroversial: Pencalonan Jupe, Istri Berebut Jabatan Suami, atau Politik Uang? - 02-05-2010
- 'There's Something About Gary' atau: Mengapa Wanita Suka Bad Boy? - 28-04-2010
- Kalau Tidak Kuat-kuat Iman, Ya Bubar Jalan - 27-04-2010
- Mengapa Selebriti Harus Pikir Sejuta Kali Sebelum Ikut Pilkada - 20-04-2010




Komentar
RSS feed untuk komentar ini