| Indeks Artikel |
|---|
| Indonesian Idol Bukan Lagi Nomor Wahid, Tapi Mengapa Kita Masih Butuh Acara Ini? |
| Halaman 2 |
| Halaman 3 |
| Seluruh halaman |
KEADAANNYA memang beda. Jumat, 16 Juli silam, saya beserta kawan yang biasa menulis Indonesian Idol untuk tabloid ini datang ke ballroom mall Central Park, Jakarta Barat.
Tidak banyak kegaduhan maupun keriuhan layaknya hajatan besar tengah berlangsung. Lahan parkir sepi. Jumlah pengunjung belum banyak, meski satu jam lagi acara dimulai.
Rombongan kami dipersilakan masuk setelah menunjukkan kartu pers. Kami lantas naik ke lantai 17 tempat hajatan Indonesian Idol berada. Tidak banyak sejawat wartawan yang meliput Indonesian Idol 2010 malam itu. Selain beberapa kawan dari media yang satu group usaha dengan RCTI, hanya sedikit wartawan non-group yang datang. Termasuk kami.
Betul, tak salah lagi. Keadaannya sudah beda. Antusiasme orang dan media pada Indonesian Idol (II) sudah berkurang memasuki seri ke-6 tahun ini. Dulu, saya ingat, saat satu-dua kali meliput II pertama beberapa tahun lalu, suasana Balai Sarbini di sisi jembatan Semanggi, tempat acara berlangsung saat itu, begitu riuh sampai susah bergerak.
Dulu, orang begitu mengidolakan Delon, Joy, Nania, Dirly, Ihsan, atau Rini. Tapi kini, meski masih ada yang mengidolakan Gilang, Igo, atau Citra, antusiasmenya jelas berkurang.
Mengapa bisa demikian?
Sebelum menjawab pertanyaan besar itu, mari bicara fakta. Memasuki bulan Juli, saya meminta data rating TV pada Nielsen Audience Measurement untuk mengetahui sejauh mana penampilan II menurut rating. Dari data Nielsen, untuk acara yang dikategorikan sebagai talent search alias kontes mencari bakat yang paling banyak ditonton selama periode 1 Mei-10 Juli adalah Indonesia Mencari Bakat (IMB) di Trans TV. Program tersebut memperoleh rating sebesar 4,6 %. Peringkat berikutnya adalah Indonesian Idol 2010 dengan rating 2,3 %.
Data ini berdasar survey kepemirsaan TV di 10 kota (Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin) pada penonton TV usia 5 tahun ke atas di semua kalangan. Data Nielsen juga menunjukkan, penonton TV menghabiskan rata-rata 21 menit per hari menyaksikan talent search. Penonton program jenis ini umumnya perempuan dengan rentang usia beragam, remaja (5-19 tahun), dan dewasa (30 tahun ke atas) dari kalangan ekonomi menengah bawah (yang pengeluaran rutin bulanan rumah tangganya di bawah Rp.1.750.000).
Melihat data ini saya tak mau langsung percaya. Ada anggapan II lebih banyak ditonton kalangan ekonomi AB alias menengah ke atas (pengeluarannya di atas Rp.1.750.000). Saya meminta lagi data dari periode sama untuk penonton talent search.
Hasilnya ternyata sama. Untuk target pemirsa golongan ekonomi AB di 10 kota yang di-survey Nielsen, IMB memperoleh rating 5,1 %. Di urutan dua ditempati II dengan rating 3,1 %.
Kemudian kami dapat salinan data rating 100 acara paling banyak ditonton di periode 4-10 Juli. IMB berada di posisi 2 dengan rating pekan itu 6,4 % dan share 23,6 %. Sementara II terpaut jauh di urutan 76 dengan rating 2,2 % dan share 11,8 %.
Oke, tak dapat dibantah lagi: II disalip IMB.
- Mengapa Audrey dan Gamaliel (Mungkin) Akan Lebih Tenar dari Sinta dan Jojo? - 16-08-2010
- Tak Hanya Sinta dan Jojo, Semua Acara TV Berpotensi Menebar Racun - 09-08-2010
- Indonesian Idol 2010, Apa yang Membuat Igo Mengungguli Citra? - 08-08-2010
- Mengapa Harus Berpikir Sejuta Kali Sebelum Posting APAPUN ke Internet? - 02-08-2010
- Mengapa Kita Jatuh Cinta pada Sinta & Jojo-Keong Racun? - 29-07-2010



