MENYAMBUT 2012, belum lama ini saya menonton lagi film 2012 (rilis 2009) karya Roland Emmerich.
Tujuannya, apa lagi kalau bukan melihat bagaimana kiamat digambarkan di film. Rasanya mengasyikkan "mengalami serunya" kiamat tapi diri ini baik-baik saja.
Namun, usai nonton, saya masih tak percaya kalau kiamat betulan terjadi tahun 2012 ini. Pandangan saya pada film ini pun masih sama seperti saat saya menuliskan ulasan filmnya di blog saya 2009 silam tak lama setelah filmnya rilis. Buat saya, 2012 bukanlah film kiamat. 2012 hanya sekadar film kesekian tentang bencana--sebuah sub-genre yang pernah populer di akhir 1970-an (Earthquake, Poseidon) dan 1990-an (Twister, Volcano, Deep Impact, Dante's Peak, Independence Day).
Berikut ini yang saya tulis di blog saya:
Siapa Bilang “2012” (2009) Film Kiamat?!
Film tentang kiamat yang pertama saya tonton bukan bikinan Hollywood. Tapi film karya anak negeri, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar (1985). Pada sebuah adegan, Sunan Kalijaga (Deddy Mizwar) berkhotbah di tanah lapang, mengingatkan ummat akan pasti bakal datangnya kiamat.
Adegan lantas berpindah pada bencana kiamat dimaksud. Orang-orang beterbangan, gunung meletus, ombak dan badai mengamuk, rumah porak poranda. Karena filmnya bersetting masa lalu, kiamat digambarkan terjadi di masa lalu. Tidak ada mobil atau ciri kehidupan modern diperlihatkan. Kita tahu sampai tulisan ini dibuat, kiamat belum terjadi. Artinya, kiamat yang diperlihatkan pada penonton adalah bayangan di benak ummat sang wali.
Saat menontonnya, saya tak dibuat terpukau efek visualnya. Beda dengan yang ini, 2012 (2009). Sepanjang dua setengah jam kita digeber efek visual seperti apa jadinya hari-hari menjelang akhir bumi (gempa bumi, gunung meletus, tsunami setinggi Everest).
Film ini hanya reaksi Hollywood yang jeli melihat peluang pasar. Hollywood tak ingin membuat film tentang ramalan bangsa Maya yang (mungkin sedang iseng atau atau ada kesibukan lain) tak sempat membuat kalender setelah tahun 2012 menurut ukuran Masehi atau menguliknya lebih jauh seperti buku-buku soal 2012 yang banyak beredar sekarang (buku-buku itu umurnya akan pendek, sebab selepas 2012 dan tak ada apa-apa hanya akan jadi lelucon). Hollywood mengambil kesimpulan sendiri : 2012 terjadi kiamat. Jelinya lagi, Hollywood merilis 2 tahun sebelumnya— ketimbang saat kejadiannya berlangsung lantaran takut tak laku dan jadi pepesan kosong.
Itu semua dilakukan agar “sang bintang” rekaan Hollywood bisa tampil maksimal. Saya beri tanda petik karena yang saya maksud bukan orang atau bintang Hollywood betulan. “Sang bintang” di film in bukan John Cusack, Danny Glover, Amanda Peet yang memang di Hollywood-pun belum berstatus bintang besar. Sang bintang di film ini adalah efek khusus.
Sejak komputer menambahi adegan film-film Hollywood, sineas di sana seakan bisa menuangkan imajinasi terliar mereka apapun itu. Kitasudah melihat dinosaurus hidup lagi, alien dan macam-macam. Maka, mengapa tak sekalian membayangkan seperti apa kiamat terjadi?
Rolland Emmerich didapuk jadi sutradara. Saya pernah begitu mengaguminya. Filmnya, Independence Day (1996) saya anggap film terbaik yang saya tonton zaman SMA dulu (usai nonton di bioskop, saya dan kawan terpikir untuk tak keluar ruang teater dan bersembunyi untuk menontonnya lagi). Hingga sekarang, saya terkenang-kenang pada pidato patriotis presiden Amerika di film itu (Bill Pullman) dan tentu efek khususnya.
Kali ini, setelah berkali-kali memporak-porandakan bumi dan isinya (Independence Day, Godzilla, The Day After Tomorrow), Emmerich membikin induk dari segala film bencana. Dibilang induk karena, bagi penonton yang jeli (atau penggemar film-film bencana), Emmerich menggabungkan semua film bencana dalam filmnya. Kita akan dibuat dejavu pada film Volcano dan Dante’s Peak (saat gunung meletus), Poseidon Adventure (kapal pesiar terguling), Speed (trailer loncat saat gempa vukanik mirip bus melompati jembatan buntung di Speed), Titanic (adegan hampir enggelam di perahu), hingga Independence Day (pesawat kabur dikejar api) dan The Day After Tomorrow (air bah) buatannya sendiri. Bagian hubungan ayah-anak juga mengingatkan kita pada War of the World-nya Steven Spielberg.
Dengan minimnya kreativitas Emmerich kali ini, film ini seharusnya tidak perlu dianggap serius. Apalagi memfatwakan haram seperti yang dilakukan MUI Malang.
Terlihat betul ulama di sana tak mengkaji filmnya betul sebelum bikin fatwa. Alih-aih soal kiamat, filmnya lebih pas disebut kisah bahtera Nuh versi modern.
Sebagai karya sinema film ini tak punya esensi cerita selain klise kisah-kisah yang sudah berkali-kali ada di film bencana. “Sang bintang” efek khusus pun tampil melempem karena tak kreatif. Tidak ada istimewanya sama sekali.***
Kita tentu ingat, saat filmnya rilis terjadi kehebohan di sini. Ada ulama melarang pemutaran filmini. Namun, bioskop toh tetap memutarnya.
Yang terjadi kemudian, antrean mengular di bioskop ingin menyaksikan "kiamat versi Hollywood". Anda mungkin salah satunya (ayo, ngaku!).
Pelajaran terbesar film ini bukanlah orang makin ingat Tuhan setelah nonton kiamat di bioskop, tapi setelah dilarang-larang ulama orang malah jadi penasaran ingin ke bioskop buat nonton.
(ade/ade)
Tambah Komentar
- Memori Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie Dalam “Buku Harian Nayla” - 26-03-2012
- Tayang Ulang, "Buku Harian Nayla" Jadi Trending Topics - 26-03-2012
- Mengenang Nike Ardilla - 22-03-2012
- Nonton Lagi “Ada Apa dengan Cinta?”, Sebuah Perayaan - 10-02-2012
- Mengenang HIM Damsyik, Mengenang Sitti Nurbaya dan Datuk Meringgih - 04-02-2012




Komentar
Tolong ya... kalo bikin artikel gini jangan pake kata SAYA... itu seperti mencurahkan isi hati gitu loh...
Sperti artikel yang ADE buat ttg LEBIH MEMILIH CHERRYBELLE ...
RSS feed untuk komentar ini