
KEMELUT soal pajak film impor yang berlangsung sejak Februari lalu mengakibatkan terhentinya pasokan film Hollywood, khususnya produksi studio besar yang tergabung dalam MPAA (Motion Pictures Association of America).
Minat masyarakat untuk datang ke bioskop menurun. Imbasnya, pendapatan pengusaha di sektor perfiman merosot tajam.
"Sebagai contoh, pada bulan pertama tahun 2011, pendapatan dari pajak tontonan untuk wilayah DKI Jakarta tercatat 3.9 miliar (rupiah). Sementara pada bulan Juni 2011 turun ke angka 1.8 miliar. Berarti terjadi penurunan lebih dari 50 persen," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Djonny Syafruddin, dalam jumpa pers di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Sabtu (23/7).
Krisis ini, lanjut Djonny, membuat nafas para pengusaha bioskop seperti tersengal-sengal. Agar tidak sampai terjadi pengurangan karyawan, sebagian biaya operasional pun ditutupi dengan berhutang.
"Kami punya hati nurani. Kami berkomitmen, nggak akan ada PHK sebelum bioskop itu benar-benar ditutup. Kami cari cara untuk menekan biaya. Hampir semua gedung bioskop itu mengontrak pada mall. Jadi, saya mendatangi satu per satu pengelola mall, meminta tolong agar uang sewa gedung bisa ditunda paling tidak dua sampai tiga bulan. Alhamdulillah mereka mengerti," bebernya.
Krisis ini memang tak lama lagi akan berlalu. Namun, adakah imbas hutang-hutang pengusaha bioskop pada harga tiket untuk ke depannya?
"Tidak ada pengaruh soal harga tiket. Kami mikir, saat ini masyarakat juga sedang susah," jawab Djonny disambut tepuk tangan wartawan yang hadir.
(ari/ade)
Tambah Komentar
- Sinetron Ramadhan RCTI: Dari Sujud Ke Sujud Tayang, Dikejar Surga Batal - 25-07-2011
- Silva Kavadia Blak-blakan Soal Keperawanan - 25-07-2011
- Tampil di Java Rockinland 2011, God Bless Makin Sangar - 24-07-2011
- The Cranberries Ajak Penonton Java Rockinland 2011 Bernostalgia - 24-07-2011
- Ada Gurita Cikeas di PT Omega Film? - 24-07-2011



