Cerita Masa Remaja Ammar Zoni: Bengal, 15 Kali Pindah Sekolah, dan Juara Silat

Wayan Diananto | 10 Mei 2015 | 02:42 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - KONON, popularitas yang didapat secara instan di panggung hiburan akan menguap dalam waktu cepat. Itu sebabnya, mereka kerap disebut meteor.

Bukan bintang. Meteor berkelebat dengan cahaya lalu raib tak jelas rimbanya. Sementara bintang, punya daya untuk bersinar. Namun, untuk menjadi bintang yang bisa berpijar sendiri tidak mudah. Apa yang kini diraih Ammar Zoni lewat sinetron berating tinggi 7MH melewati proses yang panjang dan berliku. 

Si tampan ini memiliki masa lalu yang tak sepenuhnya bahagia. Ibunya, Sri Mulyatini, wafat ketika Ammar baru kelas 6 SD. Sejak itu, Ammar cilik tumbuh menjadi anak yang bengal. Tidak sabar menghadapi polah putranya, Suhendri Zoni mengirim Ammar ke Muara Labuh, Solok Selatan, Sumatera Barat.

“Setelah Ibu meninggal, saya menjadi anak yang bengal. Sementara Ayah jarang di rumah. Lelah menangani saya, akhirnya beliau mengirim saya ke Padang. Tidak persis di Padang, karena instruksi berikutnya, saya mesti dirawat Kakek dan Nenek yang tinggal di Muara Labuh, Solok Selatan,” kenang bintang film Retak Gading ini.

Keputusan ini diambil Suhendri, setelah Ammar menjadi pribadi yang susah diatur. Akibatnya, penggemar Leonardo DiCaprio ini sejak SD pindah sekolah hingga 15 kali! Mulai dari sekolah di Jakarta, Batam, Bandung, sampai akhirnya terdampar di Solok Selatan.

Kali pertama menginjak Solok, Ammar syok bukan kepalang. Bayangkan, tidak ada minimarket di sana layaknya mayoritas ibu kota provinsi. Yang ada, hanya pasar tradisional. Itu pun hanya buka hari Senin dan Kamis. Jangankan minimarket, listrik pun langka.

Penerangan memakai lampu tungku atau obor. Saat tiba di sana, listrik dihasilkan generator turbin dengan memanfaatkan energi dari aliran sungai.

Dengan listrik byarpet, mau tidak mau Ammar harus mengucap perpisahan dengan ponsel dan gadget. Kondisi ini membuatnya merasa seperti diisolasi. Ammar mulai bertanya: mengapa Ayah sekejam ini?

Namun justru di Solok Selatan dia memetik banyak pelajaran. “Setelah menetap beberapa minggu di sana, saya belajar survive, sopan santun. Usia Kakek hampir 100 tahun. Beliau masih sehat. Kakek saya menjabat semacam ketua adat. Kalau berbicara dengannya, saya tidak menatap langsung. Mesti menunduk. Itu bagian dari norma kesantunan,” Ammar mengenang.

Kami menapaki masa kecil Ammar ketika dia bertandang ke kantor Bintang tahun lalu. Dia kemudian teringat, di Muara Labuh dia berkenalan dengan silat Luncua. Dalam bahasa setempat disebut silek Luncua, silat asli dari Muara Labuh. Ammar menekuni silat ini setahun lebih. Penyuka warna hitam ini kemudian bergabung dengan Perguruan Pencak Silat Garuda Putih (PSGP).

Kesempatan emas datang. Dia dipercaya mewakili PSGP berlaga di beberapa kompetisi termasuk Pekan Olahraga Daerah (Porda).

“Saya juara 2 untuk pencak silat kategori silat laga. Sebetulnya saya juga menekuni silat tradisional (silat tradisional dan silat laga berbeda-red.). Kemenangan saya di Porda membuat saya sadar betapa silat ditinggalkan generasi muda. Kala itu saya berpikir, nanti kalau pulang ke Jakarta, saya ingin mengajar pencak silat,” Ammar menukas.

(wyn/gur)

Penulis : Wayan Diananto
Editor: Wayan Diananto
Berita Terkait