| Indeks Artikel |
|---|
| Lukas Podolski, Melempem di Klub, Beringas di Timnas |
| 2 |
| Seluruh halaman |
KETIKA Joachim Loew memasukkan Lukas Podolski dalam daftar pemain Jerman yang berlaga di Piala Dunia 2010, banyak yang menganggap keputusan sang pelatih itu bukanlah tindakan yang tepat. Alasannya, performa Podolski tengah melempem. Buktinya, di kompetisi Bundesliga -- sebutan untuk liga utama Jerman -- musim lalu, ia paceklik gol. Dari 27 pertandingan bersama FC Koln, ia hanya menceploskan 2 gol.
Dengan produktivitas yang minim itu, mereka yang tak setuju dengan keputusan Loew itu pasti bertanya-tanya: bagaimana mungkin gelandang serang yang hanya sanggup mencetak 2 gol dalam satu musim bisa disertakan dalam kompetisi maha besar seperti Piala Dunia?
Tapi bukannya tanpa alasan Loew memboyong penyerang berdarah Polandia itu ke Afrika Selatan. “Jelas Podolski tidak mendapatkan musim terbaiknya di musim kompetisi kali ini. Saya rasa, Anda bisa melihat dan merasakan hal itu. Tapi, kalau berbicara kiprahnya di timnas, itu persoalan lain. Rasio golnya amat tinggi bila membela Jerman,” kata Loew kala itu.
Faktanya, Podolski selalu tampil kinclong saat berseragam putih hitam. Boleh saja ia hanya mencetak 2 gol dari 27 pertandingan bersama Koeln, atau ketika masih bersama Bayern Muenchen Podolski hanya sanggup mencetak 15 gol dalam 72 penampilannya di Bundesliga. Tapi, bersama Der Panzer, pemain 25 tahun itu membukukan 39 gol dalam 74 laga internasional. Inilah yang membuat Loew begitu yakin akan kiprah Podolski di Piala Dunia kali ini.
Belakangan, keputusan Loew memboyong pemain yang punya tinggi 1,8 m ini ikut ke negeri Nelson Mandela terbukti tak sia-sia. Dalam laga Jerman kontra Australia, Podolski mencetak sebuah gol yang dibikinnya pada menit ke-8. Ia juga memberi assist untuk Thomas Mueller sebelum striker muda itu mencetak gol ketiga Jerman di babak kedua. Jerman menang telak 4-0 atas tim berjuluk socceroos itu.
Sayangnya, di laga kedua melawan Serbia, penampilan ayah satu anak ini tak seimpresif ketika menghadapi Australia. Di babak kedua Podolski bahkan gagal mengeksekusi tendangan penalti. Padahal, andai Podolski berhasil menyarangkan bola ke gawang Vladimir Stojkovic, skor akan seri 1-1. Jerman pun kalah.
"Aku gagal mengeksekusi penalti. Biasanya lebih akurat. Aku sangat geram. Kekalahan itu tentunya cukup pahit. Padahal, dengan kemenangan, kami tinggal selangkah lagi menuju 16 besar," ucap Podolski.
Tapi tak adil rasanya menyalahkan kekalahan Jerman hanya pada Podolski. Faktor terbesar penyebab kekalahan Jerman, karena sejak menit ke-36 mereka harus bermain dengan sepuluh orang setelah Miroslav Klose diganjar kartu merah. Striker Bayern Muenchen itu mendapat kartu kuning kedua usai melanggar Dejan Stankovic.
Podolski membayar lunas kegagalannya itu dengan tampil menawan melawan Ghana. Memang ia tak mencetak gol, tapi pergerakannya selalu membahayakan tim benua Afrika itu. Di pertandingan ini Jerman menang 1-0. Penampilan Podolski kian gemilang saat membantu timnya melumat Inggris 4-1 di babak perdelapan final. Satu dari empat gol itu diciptakan Podolski.



