SBY Minta Para Tokoh Ikut Meredakan Tensi Politik Setelah Pemilu

TEMPO | 3 Mei 2019 | 23:59 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Susilo Bambang Yudhoyono meminta para tokoh ikut meredakan tensi politik setelah Pemilu. “Jika terjadi perbedaan yang fundamental maka dialog dan pertemuan tentunya dapat menghadirkan solusi yang baik bagi bangsa dan negara,” kata SBY dalam keterangan tertulis pada Jumat, 3 Mei 2019.

Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat ini muncul setelah bertemu dengan Sinta Nuriyah, Alissa Wahid, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan tokoh Gerakan Suluh Kebangsaan, di National University Hospital (NUH). Pada Jumat, 3 Mei 2019, para tokoh ini datang menjenguk Ani Yudhoyono yang tengah dirawat.

Tensi politik setelah Pemilu 2019 lalu cenderung naik. Saling deklarasi kemenangan dari kedua pasangan calon presiden-wakil presiden, tudingan kecurangan pemilu, sampai ancaman people power terjadi pada rentang waktu beberapa bulan ke belakang. 

Pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi - Ma’ruf Amin. Jokowi, saat deklarasi kemenangannya yang pertama di resto Plataran, Menteng, Jakarta, menyebut telah mengutus delegasi untuk berkomunikasi dengan kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Belakangan diketahui, delegasi tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. Pada 22 April lalu, Luhut sempat menelepon Prabowo untuk mengatur pertemuan, namun akhirnya gagal karena Prabowo beralasan sedang sakit flu.

"Ya memang saya sudah telepon sama pak Prabowo, bicara per telepon. Ya kami kan teman," kata Luhut saat ditemui di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin, 22 April 2019.

Ma’ruf Amin juga menyatakan keinginannya bertemu Sandiaga Uno dengan tujuan rekonsiliasi. Sandiaga Uno, pun sempat menyanggupi ajakan bertemu tersebut. Namun hingga saat ini pertemuan antar calon wakil presiden itu belum juga terlaksana.

Pendapat berbeda diungkapkan oleh koordinato juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak. Menurutnya, narasi rekonsiliasi setelah pemungutan suara pemilihan presiden 2019 yang disuarakan sejumlah tokoh tidaklah tepat. Dahnil menilai tak perlu ada rekonsiliasi lantaran tidak ada pihak yang sedang berkonflik. "Pertanyannya begini, rekonsiliasi apa? Emang ada yang sedang berantem? Emang ada yang sedang konflik? Enggak ada," kata Dahnil ketika dihubungi, Jumat, 26 April 2019.

TEMPO.CO

Penulis : TEMPO
Editor : TEMPO