Adjis Doaibu dan Asal Mula Nama Panggungnya

Wayan Diananto | 11 Februari 2017 | 20:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Cek Toko Sebelah (CTS) telah menembus angka 2,5 juta penonton lebih.

Banyak pemerhati film menyebut, salah satu kekuatan CTS terletak pada takaran komedinya yang pas. Tak sampai mengganggu alur drama yang kokoh sejak awal. Elemen komedi itu disangga 20 komika. Salah satu yang aktingnya menonjol, Adjis Doaibu (28).  

Adjis menutup 2016 dengan CTS, mengawali tahun ini dengan film Jomblo Ngenes. Awal bulan depan, ia akan tampil bersama Ricky Harun dan Nikita Willy di film From London to Bali. Ia tengah populer di industri film.

Di sinilah tantangannya. Ibunda Adjis, Rohma Lubis, mengingatkan  putranya, “Yang penting popularitas itu jangan sampai membuatmu berubah menjadi orang lain. Dan jangan tinggalkan ibadah.” Nasihat ibu menjadi kompas Adjis di belantara industri hiburan.

Adjis mengakui, popularitas beberapa kali mengubahnya menjadi orang lain. Semenjak terkenal, ia dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Duit seolah tidak berhenti mengalir. Saat itulah, Adjis terjerumus ke lubang hitam. Lubang hitam yang dimaksud adalah gaya hidup hedonisme, mulai berkenalan dengan ganja dan pil. 

Kali pertama menjajal ganja, orang tua Adjis tidak tahu. Yang mereka tahu, komika kelahiran 3 Mei itu kerja, sering pulang pagi atau jarang pulang. Rohma mendiamkan. Diamnya ibu ini justru membuat Adjis berpikir, “Apakah ibu diam karena saya mulai berubah?” Sejak itulah Adjis diserbu rasa bersalah. Saat itu pula, Adjis memutuskan untuk berubah, meski ibu tidak menyalahkannya. 

Yang diberikan Rohma dan suaminya, Fauzi Helmi Batubara-red., kebebasan. Tugas Adjis mempertanggungjawabkan kebebasan itu, jangan sampai kebablasan. Selain ibu, Adjis punya alasan lain untuk meninggalkan dari gaya hidup kebablasan itu. 

“Sejak menjajal ganja, saya enggak bisa berpikir jernih. Saya menjadi orang bodoh. Pernah, saya menjajal ganja sesaat sebelum naik panggung di sebuah mal di Tangerang, di pengujung 2013. Saya tampil sendirian. Beberapa detik saya terdiam. Bingung mau ngomong apa. Pembicaraan saya melantur. Ngaco. Berantakan. Saya malu kepada diri sendiri,” ujarnya.

Setelah manggung, Adjis teringat perkataan salah satu personel Slank, Bimbim. Kira-kira begini bunyinya, “Lebih baik berkarya dengan sadar meskipun karya itu dirasa kurang oleh orang lain, daripada menghasilkan karya yang memuaskan orang lain namun prosesnya dilakukan dalam kondisi tak sadar.” Adjis kian mantap menceraikan ganja. 

Tidak salah pemilik nama asli Abdul Aziz Batubara itu menggunakan “Doaibu” sebagai nama panggung. Ibu memberkahi langkah-langkahnya di industri hiburan. Dengan doa ibu, Adjis ikut kompetisi Street Comedy di Jakarta dan meraih gelar juara. Kemenangan itu mengantar Adjis ke panggung stand-up comedy di Metro TV. Kemenangan itu membukakan pintu ke lokasi syuting. Ia dilirik sutradara Fajar Bustomi untuk membintangi film Tak Kemal Maka Tak Sayang.

Padahal, nama panggung itu didapat tidak sengaja. Pada 2006, Adjis memandu acara musik off-air “We Are Pop” di Mayestik, Jakarta. Panitia menghubungi Adjis lewat telepon. “Aziz, kami sedang merancang materi promosi. Nama lengkapmu siapa?” 
    “Abdul Aziz.”
    “Aduh, kok serius banget namamu?”
    “Kalau begitu, Aziz aja, deh.”
    “Kalau Aziz aja, terlalu singkat dan penonton bingung ini Aziz yang mana?”

Percakapan melalui telepon itu terjadi ketika Aziz berada di pinggir jalan. Saat itu, sebuah truk melintas. Di belakang truk itu, ada tulisan “doa ibu”. Saat itulah inspirasi datang, menerangi pemikiran. Adjis menjawab pertanyaan panitia, “Nama saya Adjis Doaibu.” 

 

(wyn/gur)

 

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto