Mengenang Putri Diana: Tangisan Saat Berada di Istana

Redaksi | 1 September 2020 | 01:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Sejak Putri Diana resmi tercantum dalam silsilah House of Windsor setelah perkawinannya dengan Pangeran Charles  pada 29 Juli 1981, wajah Keluarga Kerajaan ibarat terbelah dua. Di satu sisi, memancarkan formalitas dan berjarak dengan rakyat jelata. Sedang sisi lainnya memancarkan keterbukaan, kehangatan, dan bahkan passion. Charles mewakili sisi wajah yang pertama. Sedang Diana menciptakan sisi wajah yang kedua. 

Tak heran bila anak-anak mereka, William dan Harry, mau tak mau harus menyesuaikan diri. Di satu saat, bersama ibunya mereka tampak gembira bermain jet ski di Club Med, memakai T-shirt dan tubuh berlumur suncream. Di saat lain, bersama sang ayah mereka tampak berpose kaku dengan jas dan sepatu mengkilat. Ibaratnya, rambut terurai seperti ibunya, sedang pakaian dijahit seperti ayahnya. 

Dalam buku Diana: Her True Story (1992), yang menurut pengarangnya, Andrew Morton, ditulisnya berdasarkan wawancara dengan Diana, Keluarga Kerajaan digambarkan dingin, tanpa emosi, bahkan kejam. Tidak seperti citra keluarga Inggris pada umumnya yang gembira dan saling peduli. Kaum royalist menuduh isi buku itu hanya isapan jempol. Tapi, tiga tahun kemudian, dalam wawancaranya  di program Panorama BBC yang terkenal itu, Diana mengkonformasikan dirinya memang berada di belakang penulisan buku itu. Reputasi Keluarga Kerajaan pun serta merta tercoreng, ketika Diana mengatakan mereka sama sekali tidak berusaha memberikan dukungan padanya, waktu Charles terlibat cinta dengan wanita lain. Diana juga mengatakan penyakit bulimia yang pernah dideritanya adalah semacam "tangis minta tolong" yang tidak pernah dijawab oleh satu pun anggota Keluarga Kerajaan. 

 

Sebelum wawancara itu, tepatnya enam bulan setelah terbitnya buku Diana: Her True Story, Perdana Menteri Inggris waktu itu, John Major, mengumumkan pada Parlemen bahwa Diana dan Charles memutuskan untuk berpisah, tapi tidak ada rencana untuk bercerai. Spekulasi bahwa Ratu punya andil dalam perpisahan itu langsung merebak. Betapa tidak. Popularitas Charles sebagai calon raja telah dikalahkan daya pikat Diana. Banyak pengamat Keluarga Kerajaan beropini, kondisi itu tidak berkenan di hati Ratu. Maka perpisahan itu hanya rekayasa yang akan berujung pada perceraian. Sebab, kendati Diana mengatakan tidak mau bercerai, hukum di Inggris mensahkan seseorang menceraikan pasangannya secara sepihak, setelah masa perpisahan melewati 5 tahun.

Belum lewat 5 tahun, pada Desember 1995 Charles menerima surat dari Ratu berisi saran agar mereka bercerai. Dan Charles setuju. Diana tak menunggu sampai didepak. Akhirnya, pada Februari 1996 Diana mengumumkan persetujuannya untuk bercerai dengan Charles. ''Saya telah memberikan (kepada Istana) semua yang mereka inginkan. Dan mereka masih belum puas,'' kata Diana pada Daily Mail, untuk menjawab tuduhan teman-teman Charles terhadapnya, bahwa dia manipulator yang tidak punya malu. 

Bagi kebanyakan wanita yang berasal dari kelasnya, menjadi anggota House of Windsor tentulah membahagiakan. Asalkan menuruti kemauan Keluarga Kerajaan, semua pasti beres. Tapi Diana malah memberontak terhadap kemunafikan itu, dan mencari jalannya sendiri. Padahal risikonya mahal. Perceraian itu diikuti dengan dicopotnya gelar Her Royal Highness yang disandang Diana. Tapi siapa bisa menyangkal, seperti yang diucapkan Perdana Menteri Tony Blair, Diana telah menjadi "The People's Princess"? 

 Hampir semua yang Diana lakukan berlawanan dengan kekolotan Keluarga Kerajaan. Diana pernah bersalaman, bahkan memeluk penderita AIDS dan lepra. Bahkan pernah, di tengah malam Diana mengajak si sulung William mengunjungi kaum gelandangan di jalan-jalan di London. Sebelum Diana, tak ada anggota Keluarga Kerajaan yang melakukannya. Inilah yang membuat Diana terasa atraktif di mata media, dan membuat formalitas dan kekakuan Keluarga Kerajaan makin terasa. 

Dalam membesarkan anak-anaknya, Diana mengedepankan aspek emosional. Sedang Keluarga Kerajaan lebih menekankan pada aspek tugas dan nasib (sebagai keturunan darah biru). Diana, yang orangtuanya bercerai, ingin menjadi ibu yang baik. Maka dia mencoba memperkenalkan pada William dan Henry kehidupan yang sebenarnya. Misalnya, membiasakan mereka mengantre di toko saat membayar barang yang mereka beli. Dalam wawancara dengan Le Monde, Diana mengatakan betapa berarti baginya bila bisa dekat dengan anak-anaknya. ''Ayah saya mengajarkan agar saya memperlakukan orang lain tanpa membeda-bedakan. Saya yakin ini juga akan dilakukan William dan Henry,'' kata Diana. 

Suka atau tidak, Keluarga Kerajaan akan merasa kehilangan Diana. Sebab, Dianalah satu-satunya anggota Kerajaan yang sanggup mewakili semangat zamannya. Selain semangat kesetaraan, yang terpenting lainnya adalah kesadaran terhadap hak wanita untuk memilih jalan hidupnya.
 

(Artikel ini pernah dimuat dalam Tabloid Bintang Indonesia edisi September 1997)

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi