Pangeran Philip, Rasanya Jadi Suami Ratu Inggris, Awalnya Tertekan

Vallesca Souisa | 15 April 2021 | 07:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Pangeran Philip, tutup usia pada Jumat (9/4) lalu. Duke of Edinburg, yang merupakan keturunan bangsawan Yunani-Denmark ini meninggalkan banyak kisah. Selama 7 dekade ia mendampingi Ratu Elizabeth II, mengorbankan beberapa hal, demi pengabdian pada kerajaan. Salah satu yang menarik adalah hari di mana ayah Elizbeth II, Raja George VI meninggal dunia di tahun 1952.

Di samping duka yang mendalam, hari itu menandai Elizabeth II yang harus meneruskan tahta. Di lihat dari jauh, mungkin sesuatu yang menyenangkan menjadi seorang Ratu. Sebaliknya, justru banyak beban tanggung jawab dan pengorbanan. 

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh penulis Inggris, Inggrid Seward pada 2020 lalu, ia memberikan insight tentang bagaimana hari-hari awal Pangeran Philip, ketika Elizabeth II dinobatkan menjadi Ratu. 

Ketika tahu, bahwa Elizbeth II akan segera menjadi Ratu Inggris, reaksinya bukan kegirangan tapi sebaliknya. Dan menurut orang terdekatnya, reaksi itu tak terlupakan. “Dia (Philip) ekspresinya benar-benar datar. Tak bergairah. Seolah dunia telah runtuh di hadapannya,” ungkap Mike Parker, teman dari Pangeran Philip, yang ada bersama Philip dan Elizabeth di Kenya, ketika berita kematian George VI disampaikan. 

“Dia seperti melihat bahwa kehidupannya sebagai suami yang ideal dan impiannya tentang keluarga berakhir,” ujar Mike Parker. Setelah diam beberapa saat dalam ekspresi yang sangat datar, Philip mengambil koran. Dia taruh koran itu di hadapannya. Dia membaca dan menatap berita yang tertulis lekat-lekat. Selama lima menit, matanya hanya tertuju pada surat kabar. “Dia sangat terkejut, seperti tak percaya dan dia tahu ada konsekuensi atas semua ini,” ungkap Pamela Mountbatten, asisten Elizabeth II.

Philip tahu, sejak hari itu, perannya sebagai kepala keluarga akan berubah sepenuhnya. Perannya hanya akan menjadi pelengkap, pendukung sang istri, yang adalah seorang penguasa Inggris. Dimulai dari aturan berjalan. Sejak berita kepergian ayah Elizbeth II, Raja George VI, Philip diminta berjalan beberapa langkah di belakang Elizabeth II, yang telah menyandang titel Ratu. “Di tahun 1952, semuanya berubah dengan cepat, sangat cepat,” ungkap Pangeran Philip. 

Terlebih setelah seremoni penobatan Ratu Elizabeth II di tahun 1953, segala sesuatunya berubah. Pangeran Philip harus meninggalkan kariernya di angkatan laut kerajaan, dia kini yang harus lebih melihat anak-anaknya, karena sang ratu harus mengurus tugas negara. 
Beberapa bulan pertama dalam masa kekuasaan Ratu Elizabeth II, suasana hati Philip kurang baik. 

Hidup di istana Buckingham dengan segala aturan dan protokolnya awalnya membuat Philip cukup tertekan. Salah satunya digambarkan oleh penulis Ingrid Seward, gimana Philip merasa tak bebas. Pangeran Philip sesungguhnya sebal, kini siapapun termasuk teman-temannya tidak bisa bikin janji langsung dengannya dan tidak bebas menemuinya. Janji temu dengannya harus melalui staf kerajaan. 

Pangeran Philip juga harus belajar mengalahkan egonya. Karean sejak istrinya memegang kendali monarki, sang Ratu menjalankan banyak tugas, di mana Philip tidak dilibatkan. Ratu Elizabeth II menjalankan pertemuan setiap minggu dengan Perdana Mentri. Setiap hari dia mengecek surat-surat berkaitan dengan negara: laporan kabinet, telegram dari kantor kementrian luar negeri, dokumen, draft-draft perjanjian, kerjasama, yang tidak satupun dari berkas-berkas itu boleh dilihat suaminya. “Philip merasa seperti dipinggirkan. Ini benar-benar sulit untuknya,” terang Mike Parker. 

“Padahal di Angkatan Laut tadinya dia memberi komando untuk kapalnya. Di kediaman Philip dan Elizabeth sebelumnya, di Clarence House, dia pun masih berperan. Tapi di Buckingham Palace? Semuanya berubah,” lanjut Mike Parker. 

Pangeran Philip semakin merasa tertekan sekaligus tegang, ketika anak-anaknya, harus menggunakan nama belakang atau gelar dari Windsor, mengikuti garis keturunan sang Ratu. Bukan menggunakan namanya, dari keluarga Mountbatten. Philip merasa terluka. “Saya mungkin satu-satunya lelaki di negara ini yang tidak boleh memberikan nama keluarga saya untuk anak-anak saya sendiri,” bilang Philip. Momen ini juga dituangkan ke dalam serial yang mengupas tentang Kerajaan Inggris “The Crown” tayang saat ini di Netflix. 

“Kenyataan namanya tidak boleh dipakai, sangat menyakitkan buatnya. Dia telah menyerahkan segalanya, dan kini, namanya tak boleh dipakai anaknya sendiri? Ini membuat dia merasa kurang bahagia untuk beberapa saat.”


 

Penulis : Vallesca Souisa
Editor : Vallesca Souisa