Alasan Sammy Simorangkir Memaksa Pulang dari Rumah Sakit setelah Operasi

Supriyanto Senin, 6 Juli 2020 17:00:23
Sammy Simorangkir mengalami kecelakaan yang membuatnya harus melakukan operasi kaki. (Seno/tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Sammy Simorangkir mengalami kecelakaan yang membuatnya harus melakukan operasi kaki.  Mantan vokalis Kerispatih itu mengatakan, operasi kaki tidak terlalu lama. Melihat kondisinya, dokter pun langsung memperbolehkan untuk pulang tak lama setelah melakukan operasi.

"Ya kalau kata dokter, saya termasuk habis operasi jam 8, jam 10 kaki sudah angkat, bercanda sama istri, jadi menurut dokter saya kuat, jadi boleh pulang," ujar Sammy Simorangkir  di Rumah Sakit Hermina, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (5/7).

Dalam kecelakaan, Sammy mengalami patah tulang kaki. Kakinya masih digips untuk sementara waktu.

Sammy masih mengenakan kursi roda dan alat bantu untuk berjalan. Suami Viviane itu juga tidak diperbolehkan menahan beban dalam waktu dekat.

"Enggak ada (pantangan makanan) yang penting kaki enggak boleh nahan beban selama dua minggu, tapi kalau diangkat-angkat, digerakin terus, harus, engkel yang susah kayak kehalang besi," kata Sammy.

Sammy mengatakan, dirinya memang meminta dokter untuk buru-buru pulang alasannya di rumah sakit orang yang ingin menjenguk dibatasi.

"Hari ini pulang, sebenarnya masih harus di rumah sakit, tapi saya maksa pulang," ujar Sammy.

"Peraturan rumah sakit tidak membolehkan, siapa pun Anda kita harus ikuti peraturan dong, tadinya kalau banyak yang jenguk saya mendingan di rumah sakit tapi kalau enggak ada yang jenguk bawa makanan saya mendingan saya pulang," pungkas Sammy Simorangkir.

(pri)

Penulis Supriyanto
Editor Binsar Hutapea
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
loading...
YANG INI LEBIH HEBOH
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.