Sastrawan Ashadi Siregar Meluncurkan Novel Menolak Ayah, Mengangkat Adat Batak

TEMPO Selasa, 7 Agustus 2018 20:20:09
Novelis Ashadi Siregar menandatangani novelnya yang diluncurkan di Rumah Budaya Tembi, Bantul, Sabtu, 4 Agustus 2018 (TEMPO)

TABLOIDBINTANG.COM - Ashadi Siregar meluncurkan novel setelah 36 tahun berpuasa menulis novel. Novel yang diberi judul Menolak Ayah itu mengangkat adat Batak di kampung halamannya dengan latar belakang pemberontakan PRRI/Permesta. “Setelah Orde Baru terbongkar, muncul keinginan mendekonstruksi sejarah versi Orde Baru,” kata Ashadi Siregar usai acara peluncuran novelnya di Rumah Budaya Tembi di Bantul, Sabtu, 4 Agustus 2018.

Ashadi Siregar yang mulai dikenal lewat Cintaku di Kampus Biru pada era 70-an itu mencontohkan, soal kecenderungan agama-agama formal dari Timur Tengah, seperti Kristen dan Islam yang masuk ke masyarakat Batak. Kemudian dia dekonstruksi versi novel dengan memunculkan lagi agama asli.

Sejarawan Budiawan yang hadir sebagai pembahas dalam peluncuran novel ini mengatakan, dekonstruski lewat novel itu juga memunculkan soal perlawanan tokoh Aceh, Tuanku Imam Bonjol. Dalam narasi sejarah resmi, Imam Bonjol berperang melawan Belanda lewat Perang Paderi. Namun Ashadi mendekonstruksi dengan memunculkan peperangan tersebut sekaligus ekspansi ke Tanah Batak dengan islamisasi di sana.

Dekonstruksi juga memunculkan pemberontakan PRRI/Permesta adalah sebenarnya dilatarbelakangi koreksi daerah atas kebijakan pusat yang mengabaikan pembangunan daerah. Masa itu, pemerintah pusat lebih menganakemaskan Jawa ketimbang daerah lain, terutama Sumatera. Sedangkan sejarah resmi menyebut pemberontakan PRRI/ Permesta adalah bentuk sparatisme.

Sastrawan Martin Aleida tertarik mengupas kisah manusia-manusia dalam novel itu yang mengangkat adat Batak. Kisah tentang tokoh utama, Tondinihuta yang putus sekolah karena tiada biaya dan akhirnya menjadi kenek bus Sibual-buali trayek Pematang Siantar-Bukittingi. Kemudian diajak bergabung dalam pasukan PRRI. Juga soal ayahnya, Pordumutua yang meninggalkan Todi dan ibunya ke Jawa menjadi perwira Angkatan Darat di sana. Banyak istilah Batak dikenalkan Ashadi Siregar dalam novelnya yang menurut Martin disampaikan secara sastrawi populer. “Ini novel yang mengungkapkan secara rinci etnografi Batak,” kata Martin.

Ashadi Siregar mengakui Menolak Ayah adalah novel serius yang dibuat paling lama ketimbang novel-novel sebelumnya. Novel setebal 434 halaman itu mulai dibuat usai pensiun dari pegawai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 2010 hingga 2016 dan diterbitkan 2018. Lantaran banyak fakta empiris dalam novel itu yang harus dicek lewat referensi silang. Terutama riset tentang latar belakang cerita yang dibangun. “Itu kan fakta empiris ya, harus riset benar. Sesuai prinsip jurnalisme, verifikasi,” kata Ashadi Siregar yang memimpin Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya (LP3Y) sejak 1992-2014.

Tapi kisah-kisah manusia di dalam novelnya adalah imajinasinya. Berbeda dengan novel yang ditulis sebelumnya yang tidak perlu melalui riset khusus dan verifikasi karena sudah diketahuinya. Novel yang digarap serius mulai dilakukan pada dua novel terakhir sebelumnya, yaitu Indera Lepas (1979) dan Sunyi Nirmala (1982).

TEMPO.CO


Penulis TEMPO
Editor Suyanto Soemohardjo
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore