Naik MRT Lagi, Jokowi - Iriana Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas

TEMPO | 25 Maret 2019 | 18:45 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Presiden Jokowi dan Iriana Widodo menjajal moda transportasi baru Mass Rapid Transport atau MRT untuk kedua kali, Kamis 21 Maret 2019. Pada kesempatan itu menjadi momen yang berbeda karena Jokowi dan Iriana langsung berinteraksi dengan difabel. Jokowi dan Iriana Widodo naik MRT dari Stasiun Lebak Bulus sampai Istora Senayan. Setelah menyusuri beberapa gerbong, Jokowi dan Iriana akhirnya sampai di gerbong penyandang disabilitas, tepat ketika MRT berhenti di Stasiun Fatmawati.

Presiden Jokowi berbincnang selama sekitar 10 menit dengan penyandang disabilitas tentang aksesibilitas di MRT. "Bagaimana rasanya Indonesia punya transportasi nyaman? Saya berterima kasih, teman-teman mau memberikan masukan bagi penyediaan fasilitas yang dapat dijangkau seluruh masyarakat," ujar Jokowi. Penyandang disabilitas yang satu gerbong dengan Jokowi mendapat kesempatan menyampaikan berbagai temuan di lapangan yang aksesnya belum terpenuhi. Penyandang disabilitas yang pertama mendapat kesempatan mempresentasikan temuan di lapangan adalah pengguna kursi roda.

Cucu Saidah, Inisiator Kajian Aksesibilitas dari Jakarta Barrier Free Tourism atau JBFT, menyampaikan temuan di lapangan sekitar 3 menit. Salah satu aspirasi yang disampaikan Cucu mengenai bentuk pintu tapping ticket yang masih menghalangi pengguna kursi roda masuk. "Jarak antar pintu tapping masih sempit, sehingga kursi roda tidak dapat masuk," kata Cucu.

Jokowi mengatakan segera memerintahkan dinas dan kementerian terkait untuk terus melakukan perbaikan dan pengembangan fasilitas. "Jangan khawatir, semua ini bisa langsung diperintahkan dan dapat dilaksanakan. Semua terus berjalan," ujar Jokowi.

Penyandang disabilitas lain juga menyampaikan aspirasinya mengenai akses yang setara dengan bantuan penerjemah bahasa isyarat. Adalah Annisa Rahmania yang menyampaikan aspirasinya. "Kami berharap ada akses yang setara bagi seluruh masyarakat, termasuk kami (insan tuli), terutama dalam mengakses informasi yang tersedia di stasiun MRT, seperti penggunaan bahasa isyarat bagi para petugas pendamping," ujar Annisa yang diterjemahkan juru bahasa isyarat bernama Tamiyang.

Jokowi, bersama Tamiyang, belajar beberapa kata dalam bahasa isyarat. Salah satunya berbunyi "MRT Bisa Akses". "Ini makanya lagi belajar," kata Jokowi ketika diminta wartawan memperagakan bahasa isyarat secara lebih jelas. Tempo juga berkesempatan berbincang dengan Jokowi mengenai aksesibilitas di stasiun MRT bagi tunanetra. Salah satunya, lantai bertekstur timbul atau guiding block yang berfungsi mengarahkan tunanetra ke gerbong MRT. Pada beberapa stasiun, masih banyak guiding block yang terputus. Padahal guiding block ini saling terintegrasi.

Guiding block yang terputus berpotensi menyesatkan tunanetra ke tempat yang ingin dituju. Juga dapat menjadi tempat bebas penumpang umum berdiri di atas lantai penunjuk. Akibatnya, tunanetra bakal tertabrak atau menabrak orang. Jokowi mengatakan guiding block sudah tersedia. Baru setelah dijelaskan potensi tunanetra tersasar jika guiding block terputus atau tidak tersedia, Jokowi langsung menyadari perbedaan lantai penunjuk yang terputus dan tak tersedia merupakan hal yang berbeda.

"Iya. Kalau bolong bisa menyasarkan tunanetranya, ya? Tapi tenang, pasti akan diatasi. Tinggal diperintahkan. Sampai saat ini semua masih berkembang dan diperbaiki," ujar Jokowi. Tempo juga sempat berbincang dengan Iriana Jokowi mengenai ketersediaan akses dan fasilitas MRT bagi perempuan dan ibu yang membawa anak. Menurut penilaian Iriana, setelah dua kali menjajal MRT, fasilitasnya sudah cukup baik. "Nyaman, sudah nyaman," ujarnya.'

Jokowi, sebelum turun di Stasiun MRT Istora Senayan, berjanji memenuhi aspirasi 10 penyandang disabilitas yang hari itu bersama-sama melakukan uji coba MRT. Ketika pengeras suara di dalam gerbong menyebutkan Stasiun Istora Senayan, Jokowi dan Iriana Widodo berpamitan.

TEMPO.CO

Penulis : TEMPO
Editor: TEMPO
Berita Terkait