Dewi Perssik Menangis Ungkap Penyesalan Saat Ayah Kandungnya Meninggal

Supriyanto Selasa, 18 Juni 2019 20:00:00
Dewi Perssik masih bersedih atas meninggalnya sang ayah tercinta (Supri/tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Dewi Perssik masih bersedih atas meninggalnya sang ayah tercinta, Mochammad Aidil pada 9 Juni 2019 di RS Siloam, Jakarta. Pemilik goyang gergaji itu pun menangis tatkala mengingat momen haru bersama mendiang ayah.

"Kan tanggal 9 itu papi saya belikan HP baru, upload kebersamaan kita, upload di Instagram. Itu papi saya ada IG-nya waktu itu, diupload tanggal 9. Terus tanggal 10 kami bawa ke Jakarta," ucap Dewi Perssik tak kuasa menahan air mata usai mengisi acara di Trans TV,Jl.Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (18/6). 

Dewi Perssik mengaku menyesal karena kurang sigap untuk membawa ayahnya ke rumah sakit agar mendapat perawatan khusus. Namun rupanya terlambat.

"Penyesalan saya, tahu gitu nggak langsung saya bawa ke rumah sakit. Tapi kepengin papi saya juga lekas sembuh, akhirnya dibawa ke rumah sakit. Tanggal 10 bulan Juni saya bawa jenazah ke Jember," sambung Dewi Perssik sambil menangis.

Bagi istri Angga Wijaya itu, sang ayah adalah tempatnya untuk curhat. Bagi Dewi Perssik, ayahnya adalah pahlawan sejati. "Saya tuh sangat dekat sama papi. Saya kalau kenapa-kenapa, ya ceritanya sama Papi. Papi tuh pahlawan saya," ungkap Dewi Perssik.

Meski sedih, Dewi Perssik pun kini mulai mengikhlaskannya. Walau berat, itu semua harus dilakukan Depe. "Iya tapi butuh waktu, jujur saya belajar ikhlas itu berat sekali. Sekarang ini saya masih merasa papi saya itu ada, karena tujuh harian saya pamit, sampai Jakarta pagi," pungkas Dewi Perssik.

(pri)

Penulis Supriyanto
Editor Suyanto Soemohardjo
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.