Tawuran di Manggarai, Kenapa Terus Berulang?

TEMPO | 7 Maret 2017 | 21:30 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Tawuran antarwarga di kawasan Manggarai sudah sering terjadi. Kawasan itu seakan sudah seperti arena perang saudara. Pemerintah sudah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi masalah itu. Namun sejauh ini hasilnya belum terlihat.

Ahad lalu insiden serupa terjadi lagi. Dua remaja tewas diduga terkena peluru senapan angin dan enam lagi masih menjalani perawatan di RS Polri Kramatjati. "Sudah lima saksi diperiksa," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, Selasa, 7 Maret 2017.

 

Kelompok yang tawuran tidak selalu sama. Namun kelompok yang terlibat hanya itu-itu saja dan berasal dari Pegangsaan (Tambak) dan  Menteng (Menteng Jaya) di Jakarta Pusat serta  Manggarai (Manggarai Atas dan Bawah), Manggarai Selatan, dan Bukitduri di Jakarta Selatan.

Daerah Tambak, sejak dahulu memiliki lokasi yang strategis karena dekat jalan raya. Warganya banyak menjadi buruh bangunan, pedagang, atau tukang ojek. Meskipun begitu penghasilan warga Tambak tetap saja minim. Investigasi Mahalah Tempo tahun 1999 menemukan menyekolahkan anak bukan lagi menjadi prioritas sebagian besar warga Tambak. Urusan perut jauh lebih penting.

Wilayah lain yang menjadi biang tawuran adalah Manggarai Bawah. Wilayah ini banyak dihuni keluarga yang secara ekonomi jauh dari pas-pasan, sulit sekali menggali rezeki meski cuma membuka warung. Mengadu untung di balik kartu domino menjadi pilihan pahit yang banyak ditempuh pemuda dan orang tua.

Kawasan itu lantas akrab dengan sebutan "Tuyul". Alasannya, para penjudi yang kalah itu selalu menggadaikan barang-barang kepada rentenir, mulai dari jam tangan, kemeja di lemari, hingga kaus oblong dan celana panjang yang dipakainya. Mereka baru pulang ke rumah bila sudah setengah bugil.

Situasi ini agak kontras dibandingkan dengan wilayah Manggarai Atas. Penduduk di situ menguasai stasiun kereta api yang menghasilkan pekerjaan "lumayan" berlimpah. Sebut saja membersihkan kereta api Argo Bromo, tukang ojek, hingga timer angkutan umum. Tidak jarang anak Manggarai Bawah selalu mencari gara-gara untuk merebut lahan.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo pada 5 januari 2015 kepada Tempo menyebutkan geng disekitaran Manggarai sangat banyak. “Ada sekitar 35 geng,” kata Imam. Geng-geng itu dibentuk berdasarkan nama jalan atau singkatan. Beberapa nama yang ada dalam catatan Imam, antara lain, adalah Kapuk, Tuyul, Gelatik, Asrama 16, Sawo, Bores, Pasipur, Mandala, Ampuh, Blimbing, Galih, dan ABS. Anggota geng tersebut kerap bergabung dengan geng lain yang tak terafiliasi wilayah tempat tinggal.

Sejumlah insiden tawuran di kawasan Manggarai:

 

8 Januari 2017

Tawuran di depan Stasiun Manggarai sekitar pukul 17.00. Penyebab tawuran tidak diketahui

19 November 2016
Kejadian : Tawuran terjadi pukul 17.00 WIB. Penyebabnya tebutan daerah mengelap mobil antara warga Manggarai, Jakarta Selatan, dan warga Tambak, Jakarta Pusat.
Korban : -

20 Juli 2014
Kejadian : Puluhan ramaja bersenjata tajam salaing berhadapan di kawasan Manggarai. Tawuran dibubarkan setelah polisi membubarkan dengan tembakan.
Korban : -

30 November 2014
Kejadian : Saling lempar batu terjadi antara warga Jalan Tambak, Menteng dengan warga Gang Tuyul, Manggarai, Jakarta Selatan. Bentrokan ini merupakan susulan yang terjadi pada malam hari sebelumnya.
Korban : -

25 Desember 2014
Kejadian : Tawuran terjadi di terowongan Manggarai sebanyak dua kali dalam sehari pukul 05.00 dan 15.30 WIB. Sekitar 200 warga dari Manggarai dan Tambak. Tawuran ini berlanjut hampir setiap malamnya sampai awal Januari 2015. Penyebab awal tawuran karena saling serang petasan antara warga.
Korban : 1 petugas terluka

 

TEMPO.CO

Penulis : TEMPO
Editor: TEMPO
Berita Terkait