Ketika Perusahaan Pakaian Dalam Mengungkap Rahasia Kerajaan Lewat Sebuah Buku

Yuriantin Minggu, 14 Januari 2018 09:30:00
Ketika Perusahaan Pakaian Dalam Mengungkap Rahasia Kerajaan Lewat Sebuah Buku (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Kerajaan Inggris mencabut hak promosi barang dengan mencantumkan keluarga kerajaan Inggris sebagai pelanggan (royal warrant). Keputusan ini dilakukan terhadap butik pakaian dalam mewah, Rigby & Peller sejak tahun lalu. Alasannya, di tahun itu direktur perusahaan Rigby & Peller, June Kenton (82) merilis autobiografi Storm In a D Cup. 

June yang juga pengukur bra profesional (bra fitter) ratu Elisabeth II membeberkan beberapa informasi terkait keluarga kerajaan lewat bukunya. June bercerita pernah melakukan pengukuran bra di kamar ratu di mana anjing corgi berlarian di kaki sang ratu. 

Buku tersebut juga membuat anekdot tentang putri Diana yang membawa pulang poster pakaian dalam untuk pangeran William dan pangeran Harry untuk dipasang di rumah mereka. 

Dalam sesi wawancara untuk keperluan promosi bukunya, June membahas soal percakapan personal dengan ratu Elizabeth II terkait saudarinya, putri Margaret. June mengaku dia lalai mengirimkan kopi buku tersebut ke istana sebelum dipublikasikan. 

Menanggapi keputusan ini, June mengungkapkan kesedihannya. "Tidak pernah terpikir sekalipun ketika menulis buku ini, saya akan membuat orang lain kesal," ucapnya seperti dikutip dari laman People.

Rigby & Peller yang didirikan tahun 1939 juga mengeluarkan pernyataan, "Rigby & Peller sangat sedih akan keputusan ini dan tidak bisa mengelaborasi lebih lanjut tentang pembatalan ini atas rasa hormat terhadap Yang Mulia Ratu Inggris dan Royal Warrant Holders Association."

Sekitar 800 perusahaan memegang royal warrant ini termasuk perusahaan mobil Land Rover dan jam tangan Cartier.   

(yuri / wida)

Penulis Yuriantin
Editor Wida Kriswanti
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.