Ayu Diah Pasha Ungkap Masalah Generasi Muda Terhadap Kain Batik

Wayan Diananto | 12 November 2018 | 12:30 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Ayu Diah Pasha (54) menyebut batik telah menjadi DNA budaya orang Indonesia. Sayang, batik sampai saat ini masih berjarak terhadap generasi muda. Hal itu diungkap Ayu Diah Pasha saat menghadiri CHI Award 2018, ajang apresiasi kepada para pahlawan warisan batik Indonesia di Plaza Indonesia, Jakarta, pekan ini. Menurut Ayu Diah Pasha, salah satu problem generasi muda yakni tidak bisa membedakan kain batik print, batik cap, dan tulis.

“Selama saya mengurus Ikatan Pencinta Batik Nusantara dan bergabung dengan CHI Awards, masalahnya masih banyak anak muda yang belum bisa membedakan kain batik print, cap, dan tulis. Enggak hanya anak muda, bahkan, banyak orang seusia saya yang masih belum bisa membedakan,” ungkap Ayu Diah Pasha kepada tabloidbintang.com di Jakarta.

Ayu Diah Pasha mengingatkan, batik diakui menjadi warisan budaya tak benda versi Unesco sejak 2 Oktober 2009. Sejak itu, 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Dunia menghargai proses membuat batik. Namun batik punya masalah yang kompleks. Selain generasi muda berjarak terhadap batik, populasi pembuat canting sangat sedikit. Di Pekalongan, pembuat canting cap hanya 25 orang. Di Solo lebih parah lagi, tinggal 10.

“Padahal batik Oey Soe Tjoen misalnya, orang rela mengantre 3 sampai 5 tahun demi membeli kain batik Oey Soe Tjoen seharga 30 juta rupiah. Makin lama makin langka orang mau membatik. Kalau pun membatik, motifnya yang gampang agar cepat dijual. Anak-anak muda lebih senang menjual ponsel ketimbang batik. Kita perlu mencari solusi untuk semua ini,” terang Ayu Diah Pasha.

(wyn/ari)

Penulis : Wayan Diananto
Editor: Wayan Diananto
Berita Terkait