Pengakuan Taufik Hidayat yang Kapok Berada dalam Pemerintahan

Indra Kurniawan | 12 Mei 2020 | 13:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Pensiun jadi atlet bulutangkis, Taufik Hidayat duduk di kursi pemerintahan. Ia dipercaya menjabat Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Satlak Prima periode 2016-2017 dan Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Kemitraan Kemenpora era kepemimpinan Imam Nahrawi.

Namun belakangan namanya teseret kasus suap Imam Nahrawi, yang didakwa menerima suap sebesar 11,5 miliar rupiah dan gratifikasi 8,648 miliar rupiah dari sejumlah pejabat Kemenpora dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Taufik menjadi saksi dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, pekan lalu.

Taufik mengakui mengantar uang 1 miliar rupiah kepada asisten Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. Hanya saja ia tidak tahu menahu kegunaan uang tersebut. Dia hanya melakukannya tanpa ada kecurigaan.

"Gue nggak tahu (buat apa). Tapi gue tahu itu duit. Karena gue baru, ada yang nitip, ya udah deh gue ambil. Gue akui gue salah. Cuma kan nggak berpikir panjang," kata Taufik melalui podcast Deddy Corbuzier yang dipublikasikan, Senin (11/5).

Diperiksa KPK, Taufik Hidayat mengaku tidak takut. Yang ia takutkan justru penggiringan opini oleh media hingga muncul anggapan dia terseret kasus korupsi.

"Orang kalau udah judulnya KPK, udah negatif. Entah cuma dimintai keterangan, entah cuma diperiksa,karena masuk situ orang nge-judge-nya kayak salah aja. Padahal enggak tahu masalahnya seperti apa," jelasnya.

Pernah berada dalam pemerintahan, ayah dua anak ini kapok. Dia merasa visi misinya tidak sejalan dengan apa yang ia lihat, rasakan, dan alami sendiri selama di sana.

"Asli gue kapok. Maksudnya, gua tadinya emang cuman pengin belajar karena ya mertua gue di pemerintahan.Terus kadang ada pikiran mereka, siapa lagi sih selain bokap yang mau nerusin situ. Akhirnya gue, cuma yang memang tadinya di organisasi olahraga ya di bulutangkisnya sendiri, akhirnya masuk pemerintahan," cerita menantu Agum Gumelar.

"Ternyata waduh enggak sejalan nih, bahkan kiamatlah. Bisa dibilang kasarnya, siapa pun menterinya akan sama saja. Itu harus setengah gedung dibongkar. Tikusnya banyak banget," bebernya.

(kur)

 

Penulis : Indra Kurniawan
Editor: Indra Kurniawan
Berita Terkait