Utamakan Kualitas Akting, Aliando Tak Peduli Jumlah Penonton Filmnya

Wayan Diananto Sabtu, 12 Januari 2019 05:00:00
Aliando mengakui bermain dalam film layar lebar memiliki tantangan yang lebih berat. (Dok. Markuat)

TABLOIDBINTANG.COM - Diakui Aliando Syarief, beban main film makin berat. Dua tahun terakhir misalnya, merangkul sejuta penonton belum tentu masuk daftar 10 film Indonesia terlaris. Pada 2017, film Sweet 20 yang menghimpun 1,04 juta penonton berada di peringkat ke-11. 

Tahun lalu lebih gila lagi. Empat film Indonesia yakni Kuntilanak (1,2 juta penonton), Sebelum Iblis Menjemput (1,1 juta), Eiffel I'm in Love 2 (1,08 juta), serta Milly & Mamet (juga 1,08 juta namun hingga kini masih beredar di bioskop) menghuni posisi ke-11 hingga 14. Asal Kau Bahagia (AKB) yang dirilis pengujung tahun lalu diharapkan publik mampu melewati film-film itu.

“Wah, enggak perlu diperlombakan dari segi jumlah penonton, sih. Sudut pandang saya tidak mengarah ke sana,” Aliando merespons.

Sebagai pemain, tugas Aliando menunjukkan kualitas akting sesuai arahan sutradara. Karenanya, jumlah penonton bukan tujuan utama. Ia juga tak peduli pencapaian filmnya dibanding-bandingkan dengan Prilly yang lebih dulu sukses lewat waralaba Danur. 

“Kalau AKB banyak yang menonton, itu bonus. Buat saya yang penting pesan film sampai kepada penonton,” Ali menyambung.

Target Ali sederhana, penonton merasakan bahwa kualitas aktingnya meningkat dari film sebelumnya. Kuncinya, berakting sepenuh hati dan tidak dibuat-buat.

“(Sehingga mereka tahu bahwa) Ali di film dan di kehidupan sehari-hari itu berbeda sekali,” imbuh pemeran Abay di sinetron Pesantren & Rock n' Roll: Reborn.

(wyn / gur)

Penulis Wayan Diananto
Editor Tubagus Guritno
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.