25 Tahun Tabloid Bintang, 25 Ikon Hiburan Indonesia

Dude Harlino, Awalnya Hanya Figuran yang Numpang Lewat dan Dibayar 15 Ribu Rupiah

Indra Kurniawan Minggu, 13 Maret 2016 17:00:03
Dude Harlino (Ryan/tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Sanggar Ananda, Jakarta, pimpinan Aditya Gumay, siang itu kedatangan seorang mahasiswa Universitas Indonesia.

Mengenakan kaus oblong dipadu celana jin, Dude Harlino (35) menemui Aditya dengan tujuan belajar akting. Kedatangannya ke sanggar bukan inisiatif sendiri melainkan atas rekomendasi karibnya di kampus, Mahdi, yang sudah bergabung lebih dulu. 

“Mau, enggak datang ke Sanggar Ananda?” ajak Mahdi.

“Ngapain?” tanya Dude.

“Latihan akting,” jawab Mahdi singkat.

“Akting itu yang mau jadi artis, ya?” Dude bertanya lagi.

“Sudahlah, lihat saja. Kalau suka, ikut. Kalau enggak suka, ya pulang saja,” tandas Mahdi.

Penasaran, Dude datang. Pertama, biasa saja. Datang kali kedua, hatinya belum tergerak. Sampai pada kedatangan ketiga, ia tertarik bergabung di sanggar yang didirikan pada 1986 itu. 

<a href="http://www.tabloidbintang.com/profile/dude-harlino">Dude Harlino</a> (Ryan/tabloidbintang.com)
<a href="http://www.tabloidbintang.com/profile/dude-harlino">Dude Harlino</a> (Ryan/tabloidbintang.com)

Dua tahun Dude menimba ilmu akting di Sanggar Ananda. Dasar-dasar akting dikuasai, Dude mencoba peruntungan di dunia hiburan.

“Mas Adit bilang: kalau mau serius masuk ke dunia entertainment, saya kasih alamat beberapa rumah produksi. Katanya dia punya teman di beberapa rumah produksi itu," Dude Harlino mengingat pesan Aditya Gumay.

Satu per satu produsen sinetron ia datangi. Terkadang ia jalan bersama bersama Olga Syahputra dan Ruben Onsu.

“Saya niatkan saat itu. Ketika belajar akting di teater, saya merasakan kepuasan batin dan ingin karya saya bisa dilihat banyak orang. Hampir semua produsen di Jakarta saya datangi. Enggak hanya kasting sinetron, kasting film, iklan, dan model video klip pun saya ikuti,” cerita suami Alyssa Soebandono.

Hasilnya, nihil. “Enggak ada yang mengontak saya lagi setelah itu,” bebernya.

Dude mencoba jalur lain, yaitu figuran. Perkenalannya dengan beberapa agensi figuran terjadi di tempat kasting yang ia datangi.

“Saya mau jadi figuran karena benar-benar ingin lihat proses produksi sebuah sinetron dan bagaimana akting real pemain sinetron. Sambil cari pengalaman juga,” akunya.

Cowok berdarah Minang ini menjadi figuran sinetron Tersanjung, Kehormatan, dan Dewi Fortuna. Meski hanya menumpang lewat dan dibayar 15 ribu rupiah, dia menghargai proses belajar ini.

“Cukup lama saya jadi figuran di Multivision,” ucapnya.

Satu tahun menjadi figuran, nasib baik mulai berpihak ketika lolos 30 besar audisi serial Ada Apa dengan Cinta? dan dikontrak Sinemart.

Meski akhirnya gagal tampil di sinetron Ada Apa dengan Cinta, Sinemart melibatkannya dalam sederet sinetron-sinetron berikutnya, termasuk menjadikannya bintang.

Sinetron Cincin (2006) membuat perhatian pencinta sinetron terpusat kepada Dude. Sejak itu ia tak terbendung. Cincin (2006) dan Intan (2007) menahbiskannya sebagai Raja Sinetron.

Saat itu, semua orang mengharapkannya jadian dengan lawan mainnya, Naysilla Mirdad. Akting Dude juga terasah lewat film Di Sini Ada Setan (2003), Gue Kapok Jatuh Cinta (2005), dan Dalam Mihrab Cinta (2010). Tahun ini, sinetron barunya, Catatan Hati Seorang Istri 2, segera tayang.

Gelar Aktor Terfavorit di ajang Panasonic Gobel Awards diraihnya lima kali. Meski begitu, ia tidak jemawa. Ia merasa harus terus belajar.

Bertahan di dunia hiburan selama 17 tahun bukan waktu yang pendek. Menurut Aditya, karier Dude bakal lebih panjang lagi. Ia bahkan mendorong Dude untuk naik kelas menjadi produser.

“Selain kemampuan akting yang prima, kedisiplinannya, dan enggak neko-neko, sikap santunnya menjadi kekuatannya untuk terus eksis di dunia entertainment,” kata Aditya.

 

(ind/gur)

 


Penulis Indra Kurniawan
Editor Tubagus Guritno
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore