Mochamad Theo Zaenuri, Pengakuan Kelompok Marjinal Lewat Kacamata Kayu

Yuriantin Selasa, 25 Juli 2017 19:30:56
Mochamad Theo Zaenuri (Bambang Setiawan / tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Belasan kacamata dari kayu menghiasi sudut ruang pameran yang diselenggarakan DBS Bank beberapa pekan lalu di Jakarta.

Kacamata gaya ini tampil dalam berbagai bentuk dan warna lensa yang stylish. Beberapa di antaranya, beralaskan sarung kacamata batik kaya warna.

Kacamata ini merupakan produk dari komunitas Sahawood di Malang yang beranggotakan para mantan pecandu narkoba, mantan narapidana, dan penderita HIV/AIDS.

Komunitas yang berdiri sejak 2015 lalu ini menjadi solusi pendanaan bagi yayasan Sadar Hati yang fokus menangani berbagai isu kelompok marjinal tersebut. 

Menurut aktivis sekaligus pendiri yayasan Sadar Hati, Mochamad Theo Zaenuri, selama ini yayasan yang berdiri sejak 2002 silam ini terlalu bergantung pada donor asing. 

"Semakin lama, dana asing ini semakin mengecil, otomatis kami harus survive sendiri," beber pria yang akrab disapa Theo ini.

Beberapa usaha mulai dari pertanian organik hingga menjajakan pernak-pernik dilakukan, namun gagal membuahkan pemasukan bagi yayasan yang berdiri atas keprihatinan Theo akan kondisi teman-temannya yang menjadi korban penyalahgunakan narkoba, Hingga tercetuslah ide memproduksi kacamata kayu dengan label Sahawood.

Ide ini datang dari seorang warga negara Australia di kala Theo sedang membahas perkembangan isu AIDS di Indonesia dengannya tahun 2011 lampau.

"Waktu itu teman yang dari Australia membawakan kacamata kayu dan kami tertantang untuk memproduksinya," sambungnya.

Theo mengaku tertarik karena kacamata dari kayu unik dan belum banyak diproduksi berbeda dengan kacamata plastik.

"Kalau kacamata plastik, pasti kan kulak dari Tiongkok, jadi nantinya para anggota komunitas tidak belajar suatu keahlian." imbuh pria 42 tahun ini.

Bermodalkan dana yayasan, Sahawood mulai memproduksi kacamata dari kayu jati dan sonokeling daur ulang. Menurut Theo, kayu jati yang dipilih biasanya berwarna lebih tua.

Berbeda dengan sonokeling yang sudah memiliki warna yang lebih gelap dan corak yang lebih bagus, maka tak heran kacamata dari sonokeling lebih diminati.

Kayu ini diperoleh dari sisa mebel dan kusen rumah lama, sedangkan engsel kacamata dari rantai motor. Harga kacamata kayu ini dibanderol mulai dari Rp 550.000-Rp 600.000. Para pengrajin pun memperoleh Rp 100.000 untuk satu kacamata yang mereka produksi. 

Total sebelas pengrajin di Kota dan Kabupaten Malang memproduksi 50 kacamata dengan mesin manual per minggunya.

Untuk menjadi anggota komunitas, ujar Theo, harus mendapat rekomendasi dari para staf pendamping. Sahawood juga terbuka untuk siapapun yang berlatar belakang penggunaan narkoba dan penderita AIDS.

Tidak hanya para mantan pecandu, mantan napi atau para penderita AIDS, Sahawood juga memperkerjakan para wanita kurang mampu untuk membuat sarung dan tabung kacamata.

Dengan omzet sekitar 8-9 juta rupiah, sekitar 10 persen dari laba bersih digunakan untuk donasi biaya pemulihan adiksi narkoba, biaya pendidikan anak kurang mampu, dan untuk program HIV/AIDS yang disalurkan lewat yayasan Sadar Hati.

Omzet tersebut kata Theo, tidak termasuk pendapatan dari pesanan ekspor dari Inggris dengan kontrak 600 buah kacamata per enam bulan dan pesanan kacamata custom. 

Meski baru berjalan 1,5 tahun, Sahawood telah membawa dampak positif bagi para anggotanya yaitu pengakuan dari lingkungan sekitar.

"Mereka memperoleh pendapatan, bisa hidup layak, diterima dan memperoleh pengakuan kembali dari masyarakat terutama keluarga," ucap Theo. 

Diakui Theo, bukan tanpa kendala, Sahawood terus membangun kepercayaan para anggotanya sembari mencari solusi berbagai kebijakan yang tidak mendukung bisnis sosial ini. 

"Kami harus meyakinkan para anggota bahwa produk ini laku dijual dan terkadang mengikuti kompetisi untuk memperoleh dana hibah," tutur Theo. Dikarenakan sulitnya memperoleh pinjaman lunak akibat ketiadaan jaminan. 

Ke depannya, Sahawood akan merambah berbagai produk dari kayu seperti jam tangan dan lampu serta bertekad melatih komunitas serupa di daerah sekitarnya. 

 

(yuri / gur)

 

Penulis Yuriantin
Editor Tubagus Guritno
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.