Kampus Tangguh Bencana: Kontribusi Perguruan Tinggi Dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana

Saul R.J. Saleky Minggu, 7 November 2021 10:16:28
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan beragam potensi kekayaan alam juga memiliki sejumlah kerentanan terhadap bencana.

TABLOIDBINTANG.COM - Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan beragam potensi kekayaan alam juga memiliki sejumlah kerentanan terhadap bencana. Kerentanan tersebut diakibatkan oleh sejumlah faktor, misalnya faktor geografis, geologis, sosio-ekonomis, dan hidrometeorologis. Setiap faktor tersebut memiliki dampak tersendiri terhadap tingkat kerentanan bencana.

Kondisi ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, sehingga yang dibutuhkan adalah kemampuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Bencana bisa terjadi kapan saja, dan di mana saja. Kesiapsiagaan adalah kata kunci yang tepat dalam menghadapi situasi ini. Kerangka berfikir tentang pengurangan risiko bencana menghendaki adanya peran serta semua pihak dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Pengurangan risiko bencana juga merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. Dengan demikian upaya penguranagn risiko bencana merupakan tanggung jawab smeua pihak. Perguruan tinggi merupakan salah satu komponen intelektual yang memiliki posisi dan peran strategis dalam upaya pengurangan risiko bencana. Peran serta perguruan tinggi dapat diwujudkan melalui perwujudan Kampus Tangguh Bencana.

Tulisan ini bermaksud untuk menambah wawasan tentang pentingnya peran serta perguruan tinggi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui pembentukan Kampus Tangguh Bencana, sebagai bagian dari pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Terkait Kebencanaan

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) merupakan komitmen global dari para pemimpin dunia, sebagai kelanjutan dari Tujuan Pembangunan Milenium (TPM), dalam pelaksanaan pembangunan yang mengutaman keselamatan manusia dan planet bumi. Salah satu di antaranya adalah tujuan ke-13 yang mengedepankan aksi iklim, yakni mengambil tindakan  segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Di antara dampak perubahan iklim adalah adanya ancaman bencana, terutama bencana hidrometeorologis.

Dari tiga target yang ingin dicapai dari tujuan ini, salah satunya tentang perbaikan pendidikan, penyadaran, dan juga kapasitas baik manusia, maupun institusi terhadap mitigasi perubahan iklim, adaptasi, pengurangan dampak, dan peringatan dini. Dari target ini, jelas terlihat adanya ruang partisipasi yang terbuka sangat luas bagi perguruan tinggi dalam upaya pengurangan risiko bencana, sebagai bagian dari pencapaian target ketiga pada tujuan ketiga belas dari TPB.

Tujuan ini tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan tujuan-tujuan lainnya. Dengan demikian berbicara tentang upaya pengurangan risiko bencana dalam kaitannya dengan perubahan iklim, secara simultan juga berbicara tentang kehidupan di bawah air, kemiskinan, pendidikan, dan sebagainya.

Mewujudkan Kampus Tanggung Sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bencana

Perguruan tinggi merupakan institusi dengan tingkat paparan terhadap perkembangan teknologi yang sangat tinggi. Karena itu, institusi pendidikan tinggi dituntut untuk mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan. Konsekuensi logis dari tuntutan ini terutama berkaitan dengan perubahan paradigma dalam pengelolaan institusi.

Salah satu di antara perubahan yang diharapkan dapat dilakukan oleh perguruan tinggi yaitu berkaitan dengan peran serta perguruan tinggi secara aktif dan massif dalam upaya pengurangan risiko bencana. Peranserta ini dapat diimplementasikan melalui pembentukan Kampus Tangguh Bencana.

Melalui Kampus Tangguh Bencana, perguruan tinggi dapat mengintegrasikan upaya-upaya pengurangan risiko bencana ke dalam aktivitas tridharma perguruan tinggi. Pengintegrasian pada pendidikan dapat dilakukan dalam beragam bentuk, baik sebagai mata kuliah tersendiri, maupun sebagai bagian dari mata kuliah tertentu.

Pengintegrasian pada kegiatan-kegiatan penelitian dapat diwujudkan melalui adanya Pusat Studi Kebencanaan, atau dengan mengintegrasikan isu kebencanaan ke dalam rencana induk penelitian dan peta jalan penelitian, yang memungkinkan makin banyaknya tema-tema penelitian terkait kebencanaan dan upaya pengurangan risiko bencana di perguruan tinggi.

Selanjutnya, pengintegrasian dalam pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan KKN tematik kebencanaan, pelaksanaan penyadar-tahuan kebencanaan dan dampaknya, serta pengurangan risiko bencana kepada masyarakat di sekitar kampus, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan integratif tersebut dapat dilakukan secara kelembagaan maupun perorangan, oleh dosen, dan mahasiswa.

Perguruan tinggi sebagai komponen penting dalam upaya pengurangan risiko bencana, dapat meningkatkan peransertanya melalui perwujudan Kampus Tangguh Bencana dalam rangka mewujudkan ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

***

Penulis:
Dr. Saul Ronald Jacob Saleky
Dosen Politekik Negeri Ambon, 
Pengurus Gerakan Pramuka Indonesia, 
Pemerhati Kebencanaan 


Penulis Saul R.J. Saleky
Editor Tubagus Guritno
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore