Memori Jatuh Cinta pada Sang Aktor

Vallesca Souisa Wednesday, 12 April 2017
ilustrasi: Deposit Photos

TABLOIDBINTANG.COM - Tak sengaja saya membaca kolom Anna Benjamin David (46), seorang penulis di beberapa majalah ternama di Amerika. Sub judul kolom ini menarik, membuat saya senyum-senyum sendiri. Demikian bunyinya: “Saya menulis profil selebriti bertahun-tahun. Apakah pekerjaan itu membuatku memiliki kekasih seorang seleb?”

Saya jadi ingat, atasan saya pernah bertanya, selepas melihat foto-foto saya dengan seorang artis, “Kamu akrab sekali dengan bintang ini. Nanti jangan-jangan jatuh cinta lagi?” Lalu dia bercerita kalau dulu ada masanya dia nge-fans dengan seorang nara sumber artis, mewawancarai si artis, membina hubungan baik, kasmaran, jatuh cinta, hingga patah hati. Saya terhibur mendengar kisahnya. Kemudian dia bertanya, “Apa kamu enggak pernah terbawa perasaan?”

Saya menjawab, “Ah, enggak. Saya sudah terbiasa menghadapi bintang kece.” Maaf mas, ketika itu saya mendustaimu. Sesungguhnya, di balik casing sok tangguh ini, saya wanita biasa yang mudah terbuai kata manis, sikap hangat, dan dada bidang.

Sebut saja namanya William, seorang aktor. Saya berkenalan dengan William sekitar dua tahun lalu di acara jumpa pers, di mana kebetulan saya memandu acara jumpa pers tersebut. William bukan pemeran utama serial ini, namun memiliki banyak fans fanatik. Ia memiliki mata indah menggoda dan attitude yang dijamin bikin cewek klepek-klepek.

Kendati demikian, dia bukan prioritas artis yang ingin saya wawancara di belakang panggung, karena dia bukan sang bintang utama. Tapi kemudian, orang dari manajemennya menghampiri, menawarkan saya untuk mewawancarai William. Duh, gimana ya, saya suka enggak enakkan. Akhirnya saya bilang, saya akan mewawancarai William di lain hari, “biar lebih intim,” saya berkelit. Si aktor pun antusias.

ilustrasi: Deposit Photos
ilustrasi: Deposit Photos

Tibalah hari di mana saya dan dirinya harus bertemu, di sebuah stasiun televisi. Kata manajernya, “Tunggu sebentar ya, mbak. Habis syuting saja kayaknya, biar aman.” Saya mengiyakan. Saya duduk menunggu tak jauh dari bilik tempat William menunggu tampil. Dia bisa melihat saya dan saya bisa melihat dia.

Dari biliknya dia menatap saya, dengan mata cokelat yang mematikan itu. Tak lama dia menghampiri, lalu memegang pundak saya, “Maaf ya, harus menunggu. Sebentar lagi, ya,” ujarnya lembut. Sampai pada bagian ini, masih biasa aja, tak membuat saya terjangkit virus-virus manja.

Dia menuntaskan apa yang harus dikerjakannya di atas panggung, lalu buru-buru menghampiri saya lagi. Kami masuk ke dalam biliknya. Kesan pertama saya, orang ini terlalu ramah, sikapnya kelewat lembut. Kami memperbincangkan banyak hal, seperti: hal pertama yang dilakukannya saat bangun di pagi hari atau hal terakhir yang dilakukannya sebelum menutup mata. Tentang percintaan terakhirnya yang kandas. Tentang mimpi-mimpi liarnya.

Lalu gantian dia bertanya tentang diri ini, “Bagaimana denganmu?”  dia bertanya tentang kehidupan saya dan saya menjawab singkat. “Saya? Saya hanya gadis biasa, yang senang mendengarkan kisah menarik.”

“Saya rasa kamu gadis yang menarik.”

“Terima kasih,” jawab saya.

Sesaat ada rasa tersanjung yang membuat wajah  berseri. Tak hanya wajah yang berseri, lama-lama hati pun ikut berseri kala suatu malam sebuah notifikasi di ponsel berbunyi. Wow, rupanya sang aktor telah mem-follow salah satu akun media sosial saya tanpa saya minta. Rasanya agak spesial.

Ilustrasi: ekspresi senang mengetahui dia follow saya (Deposit Photos)
Ilustrasi: ekspresi senang mengetahui dia follow saya (Deposit Photos)

Sekitar sebulan kemudian tak sengaja saya bertemu lagi dengannya. Saya ada di acara itu untuk mewawancarai salah satu artis dari luar negeri yang lagi hit. William ada di sana, di atas panggung jumpa pers bersama beberapa artis. Dia melihat saya dari atas panggung, melambaikan tangannya dan mengirimkan seuntai senyum untukku.

Usai jumpa pers, saya menanti giliran untuk wawancara eksklusif dengan si bintang impor. Tapi yang datang mendekat kok malah Wiliam? Dalam hati, duh aktor ini kece, manis, baik, tapi gue lagi enggak pengin wawancara lo, William. Lagi-lagi, karena enggak enak, saya mewawancarai dia sambil menunggu giliran bertemu bintang impor. Selepas wawancara singkat, William mengatakan kalau dia mem-follow akun sosial media saya. Ya, saya katakan saya mengetahui itu. Lalu dia menawarkan, mau foto bareng enggak? Tentu saya menjawab mau dong, siapa yang enggak mau foto bareng aktor kece?

Salah satu orang manajemennya  siap mengabadikan momen ini. Lalu dengan senyum manis dia berkata, “Bolehkah saya membelai pipimu?” kata-kata  meluncur cepat dari bibir ini tanpa terkontrol, “Ya, ya tentu, kau boleh membelainya.” Tangan kanan Wiliam yang kokoh dan hangat mendarat di pipi ini dan tangan kirinya merangkul pundak saya. Pose foto ini begitu hangat dan sukses membuat fans mupeng.  Efeknya membekas hingga dua hari mendatang, wajah ini senantiasa berseri. Pelangi seolah menghiasi mata. Saya  ketagihan pengin ketemu William lagi.

Kariernya menanjak. Tak lama, dia mendapatkan peran utama di sebuah sinetron. Fansnya semakin banyak. Saya menghubungi dia lewat sosial media. Kali ini saya yang ingin meawawancari dia, karena dia sudah menjadi bintang utama. Dia menyambut baik dan langsung memberi nomor telepon pribadinya. “Hubungi saya kapan saja,” kata William.

Saya menghubungi William dan bertemu denganya beberapa kali. Kami menjalin interaksi dengan baik. Saya jadi mengetahui lebih banyak tentang dia. Bahkan saya pernah masuk di ruang pribadinya. “Kamu di sini saja. Di luar panas banget.” AC menyala di ruangan itu hampir 24 jam. Dia menjamu dengan makanan-makanan favoritnya dari restoran internasional. Juga membuat saya mencicipi makanan buatannya sendiri. Dia memberi saya julukan spesial, yang hingga hari ini, julukan itu identik dengan saya. Lalu dia mengatakan, dia senang dengan berita-berita yang saya tulis tentang dia. Dia memelukku dengan tipe pelukan antar sahabat seraya berujar, “Saya senang kita bertemu.”

Sampai tahap ini, rasanya saya mulai baper atau jatuh cinta? Khayalan manja pun telintas, berharap punya kekasih seleb? Ke mana-mana, di mana-mana ingat William. Apalagi dia membantu saya mendapatkan narasumber penting untuk laporan eksklusif cover ini. “Apapun yang kamu butuhkan,  bilang saja, kalau saya bisa, akan saya bantu.”

Bahkan di saat saya bersusah hati, saat ayah saya tengah menjalani operasi dan saya harus bolak balik rumah sakit, dia sesekali suka menghibur dari lokasi syuting. Runtuhlah kekokohan hati. Tapi haruskah kuhanyaut terbawa perasaan?

Seperti sebuah kencan, sebuah wawancara dan interaksi yang terbina dapat membuka rahasia-rahasia intim tentang si narasumber, yang akan memengaruhi bagus atau tidaknya sebuah tulisan.  Saya setuju. Tetapi interaksi intens antara  pewawancara dan sang bintang, kerap membuat hati reporter wanita maupun pria terpeleset. Antara baper, ge-er atau terlalu optimis. Seperti saya. atau seperti Anna Benjamin David yang pernah berharap cinlok dengan seleb di tengah pekerjaan. Nyatanya?

Nyatanya, saya mendapati William yang menawan itu diam-diam sudah memiliki istri.

(VALLESCA SOUISA / ray)

Penulis Vallesca Souisa
Editor Panditio Rayendra
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.