Tabloid Bintang: Sejak Film Indonesia Pingsan, sampai Dilan 1990 Bikin Baper

Suyanto Soemohardjo Kamis, 8 Maret 2018 16:20:57
Tabloid Bintang edisi 000 (Februari 1991) dan Tabloid Bintang edisi 1387 (Februari 2018).

TABLOIDBINTANG.COM - 5 Maret 2018 tabloid Bintang Indonesia merayakan ulang tahun ke-27.

Ya, 27 tahun! Tabloid Bintang sudah ada saat industri film Indonesia mati suri dan tetap eksis saat Dilan 1990 membuat baper generasi milenial.

Dari zaman sinetron mingguan sampai stripping, dari era telenovela sampai serial Korea; dari Agnes Monica masih bocah sampai jadi penyanyi internasional bernama Agnez Mo; dari zaman Friendster sampai Facebook dan Instagram.

Banyak yang sudah dilalui Tabloid Bintang selama 27 tahun perjalanannya, tapi seperti semua pengelola media cetak, kami juga tengah menghadapi tantangan serius di tengah perubahan bersama datangnya era digital.

Banyak grup media cetak besar rontok. Banyak majalah yang pernah dicatat sebagai pembuat sejarah sekarang tinggal nama. Lenyap digulung perubahan.

Era digital membunuh banyak media cetak, tapi kami tak ingin terjebak pertentangan cetak dan digital. Cetak atau digital, sebagai penyedia konten kami harus sigap memanfaatkan semua medium. Era digital memang tak mudah dipahami oleh pengelola media konvensional.

Banyak penerbit membuat versi online sebagai langkah antisipasi. Tapi, sekedar pindah ke versi online bukan ide memadai, kecuali Anda New York Times, kata Phil Simon penulis buku The Age Of Platform, menghentikan versi cetak dan pindah ke online sering malah membuat gulur tikar selamanya.

Media cetak menghadapi masa sulit, tapi membuat media online tak serta merta menyelesaikan masalah. Perubahan dalam mengakses informasi terjadi bersamaan dengan cara pengiklan mengkomunikasikan produk. Ini juga era ketika pengiklan memiliki begitu banyak pilihan dan kemungkinan juga cara beriklan, sesuatu yang tak bisa ditawarkan media di masa lalu.  

Bisnis media cetak memang mengalami masa sulit, tapi sebenarnya tabloid Bintang tidak pernah kekurangan pembaca, bahkan terus bertambah.

Setiap bulan situs tabloidbintang.com dikunjungi sedikitnya 7 juta. Dari segi jumlah, kalau digabungkan pembaca tabloid Bintang cetak dan online, malah bertambah dibanding sebelum era digital. (Jumlah pembaca tabloid Bintang tertinggi sekitar 1,6 juta di tahun 90-an sampai 2000-an awal).

Tabloid Bintang edisi 002 (Maret 1991) dan Tabloid Bintang edisi 1388 (Februari 2018).
Tabloid Bintang edisi 002 (Maret 1991) dan Tabloid Bintang edisi 1388 (Februari 2018).

Tak ada di Google berarti Anda tidak eksis, kata Jeff Jarvis dalam bukunya What Would Google Do?

Kalimat di atas dengan akurat melukiskan perubahan perilaku di era digital dengan mesin pencari google nyaris menjadi segalanya. Butuh apapun kita bertanya pada Google. Ada berita apapun kita tak lagi menunggu media cetak langganan terbit.

Perkembangan masif media sosial dalam hal tertentu juga nyaris menggantikan peran yang sebelumnya dimainkan media.

Lalu di mana posisi Tabloid Bintang saat hampir semua informasi bisa didapat gratis dengan sumber melimpah ruah? Pertanyaan yang tak mudah dijawab

Selain pembaca, iklan juga penunjang penting dalam eksistensi media cetak. Kabar baiknya, sampai sekarang banyak pengiklan yang masih menaruh kepercayaan pada kami.

Dalam hal efektivitas, media cetak punya keunggulannya sendiri. Karena berbentuk fisik media cetak bisa disimpan lama; kredibilitas media yang bertahan berarti benar-benar teruji; target market yang sudah terseleksi, dan banyak lagi faktor lain yang membuat media cetak masih efektif untuk beriklan.

Tabloid Bintang memang bukan film box office seperti Ada Apa dengan Cinta? atau Gita Cinta dari SMA yang bisa diremake atau dibuat sekuel. Tidak juga seperti sinetron berating tinggi yang bisa dibuat ulang dengan pemain dan cerita yang disesuaikan dengan eranya.

Bukan pula novel percintaan dengan seting masa lalu untuk mengajak pembacanya bernostaliga. Perubahan yang sedang terjadi dalam bisnis media juga bukan tren sesaat yang nanti akan kembali, tapi selamanya. Berharap bisnis media cetak kembali ke era 90-an, misalnya, itu angan-angan kosong. 

Zaman berubah generasi berganti, tapi apa jadinya industri hiburan Indonesia kalau tak ada tabloid Bintang Indonesia?

Saat terjadi deman Dilan seperti sekarang, siapa yang akan menemani Anda baper kalau tak ada tabloid Bintang Indonesia? Saat ada serial India atau Korea, atau ada idola baru yang membuat histeris, betapa ganjil kalau tanpa kehadiran tabloid Bintang Indonesia?

Tabloid Bintang Indonesia bisa bertahan sejauh ini bukan semata karena masih punya pembaca dan pengiklan, tapi kehadirannya memang masih dibutuhkan.

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Tabloid Bintang Indonesia (1999 - 2012) dan Pemimpin Redaksi tabloidbintang.com (2013 - sekarang).

Penulis Suyanto Soemohardjo
Editor Tubagus Guritno
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.