Sinetron "Stripping" Mengubah Kebiasaan Penonton TV Indonesia, Pelopornya Bukan “Liontin” atau “Doaku Harapanku”

Panditio Rayendra Minggu, 13 Maret 2016 16:00:50
Sinetron Liontin (Bambang/tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Tayangan serial drama TV dikenal dengan istilah berbeda di berbagai negara. Di Amerika Serikat, jenis acara ini digolongkan sebagai soap opera atau opera sabun.

Serial drama produksi Meksiko dan negara Amerika Latin yang menggunakan bahasa Spanyol, dikenal dengan telenovela. Serial drama TV produksi Jepang, biasa disebut dorama. Sementara di Thailand, istilahnya lakorn. 

Indonesia mengenal serial drama TV dengan istilah sinetron (akronim sinema elektronik) sejak era 80-an, saat stasiun TV yang mengudara hanya TVRI.

Setiap ada momen spesial, seperti ulang tahun TVRI atau jelang pergantian tahun, stasiun TV plat merah ini meluncurkan program “Sepekan Sinetron TVRI”. Beberapa judul yang terkenal adalah Losmen dan Jendela Rumah Kita.

(ray/gur)

Berdirinya Stasiun TV Swasta Pertama, RCTI

Berdirinya Stasiun TV Swasta Pertama, RCTI

Tahun 1989, berdiri stasiun TV swasta pertama: RCTI. Hadirnya RCTI memperkaya ragam genre sinetron. Komedi situasi seperti Keluarga Van Danoe atau Gara-gara, populer di era 90-an (kalau di tahun 2016 sekarang, hanya NET. TV yang konsisten menayangkan komedi situasi, di antaranya Tetangga Masa Gitu dan OK Jek).

Kehadiran stasiun TV swasta mengubah imej sinetron bergenre drama. Sinetron tak lagi mengusung unsur budaya atau edukasi, seperti Siti Nurbaya atau Aku Cinta Indonesia. Sinetron drama di TV swasta memotret kehidupan kaum berada Ibu Kota, menyajikan menu utama konflik cinta dengan bumbu persoalan harta dan takhta. 

Hati Seluas Samudera dan Bella Vista mewakili genre ini. Keduanya diproduksi Multivision Plus, yang merupakan produsen utama sinetron di era 90-an. Mereka yang tumbuh di era ini, rasanya tak mungkin tak mengenal sinetron garapan Multivision.

Judul populer lain bikinan rumah produksi ini  adalah Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Janjiku, sampai Tersanjung. Kala itu slot sinetron ditempatkan antara   19.30-21.00 WIB, mengingat pukul 19.00 WIB dan 21.00 WIB seluruh stasiun TV wajib me-relay siaran Berita Malam dan Dunia dalam Berita TVRI.

Setelah reformasi tahun 1998, stasiun TV tak lagi wajib menyiarkan siaran berita TVRI. Stasiun TV baru pun bermunculan. Demikian pula rumah produksi baru. 

Dengan format mingguan, dalam sehari stasiun TV seperti RCTI, SCTV dan Indosiar menayangkan minimal dua judul sinetron. Berdasarkan angka itu, maka stasiun TV itu butuh (minimal) 14 judul sinetron setiap minggunya. Itu baru satu TV, lo.

Bandingkan dengan saat ini. Setiap stasiun TV hanya punya rata-rata lima judul sinetron yang running. Ini karena sistem stripping atau tayang harian, yang memaksa penonton menyaksikan judul yang sama dari Senin sampai Senin lagi.

Perubahan Sinetron Mingguan ke Harian

Perubahan Sinetron Mingguan ke Harian

Pergeseran tren sinetron mingguan ke harian ini dipicu Liontin (2005). RCTI menggandeng SinemArt untuk membuat sinetron harian (tayang Senin sampai Sabtu) di slot pukul 18.00 WIB. 

Percobaan ini ternyata berhasil, sehingga RCTI menambah slot sinetron harian pada pukul 21.00 WIB lewat Cincin (Senin-Jumat), yang juga direspons hangat. 

Per November 2006, RCTI menerapkan tayang harian Senin-Minggu atau benar-benar setiap hari, lewat judul Intan di slot pukul 18.00 WIB. Intan tak tergoyahkan menjadi jawara rating.

Melihat dominasi RCTI, SCTV kemudian berpartner dengan MD Entertainment, meluncurkan sinetron harian sejak Januari 2007 di slot 21.00 WIB lewat sinetron Putri, disusul Cinderella di slot 18.00. Tahun 2007 merupakan akhir kejayaan masa sinetron mingguan. Pada tahun 2008, dua stasiun swasta tertua ini mengisi  jam tayang utamanya dengan sinetron harian.

Liontin, boleh dibilang sebagai trendsetter sinetron harian. Tapi bukan yang pertama. Kebanyakan orang menganggap sinetron harian pertama adalah Doaku Harapanku (1998). Doaku Harapanku begitu fenomenal di masanya, konon ditonton 20 juta orang setiap episodenya. 

Sinetron produksi Multivision Plus untuk RCTI ini tayang dalam rangka bulan Ramadan, dipasang di jam jelang berbuka puasa. Sukses sinetron ini embuat stasiun TV lain ikut membuat sinetron harian, tapi hanya tayang saat bulan Ramadan.

 

Apakah "Doaku Harapanku" Sinetron Harian Pertama?

Apakah

Indosiar sudah mulai menayangkan sinetron harian sejak stasiun TV itu beroperasi pada tahun 1995.

Sinetron harian ditempatkan Indosiar di slot 18.00 WIB, lewat judul Tahta, yang memasang Mathias Muchus sebagai pemeran utama. Sinetron ini tayang Senin-Jumat.

Tahta mengisahkan seorang pria jujur yang memulai usaha dengan koperasi kecil, kemudian sukses membuka usaha perbankan.

Tahta mungkin tidak begitu memorable, namun penggantinya, kami yakin Anda masih ingat: Noktah Merah Perkawinan. Sinetron yang tayang mulai 23 Mei 1995 ini, merupakan sinetron pertama Rapi Films.

Cok Simbara dan Ayu Azhari dipercaya mengemban peran utama. Noktah Merah Perkawinan menjadi fenomenal dengan adegan Priambodo (Cok Simbara) menampar Ambar (Ayu Azhari), kemudian Ambar berkata “Tampar aku, Mas. Tampar!”

 

Program Lain Juga Ikut Tayang Harian

Program Lain Juga Ikut Tayang Harian

Setelah Noktah Merah Perkawinan tamat, Indosiar cukup konsisten menayangkan sinetron harian di slot 18.00 WIB, di antaranya Tirai Sutra, Manisnya Cinta, Bias-bias Kasih, dan Lentera Merah. RCTI, pada 1996 turut menyemarakkan sinetron harian sore. Dengan strategi 30 menit tayang lebih awal dari Indosiar, yaitu pukul 17.30 WIB, RCTI menayangkan sinetron Setangkai Bunga Mawar.

Memang, sinetron harian era 90-an berbeda dengan sekarang. Jumlah episodenya tidak ratusan atau ribuan seperti saat ini. Noktah Merah Perkawinan, misalnya. Meski tergolong berhasil pada masanya, hanya dibuat 25 episode. Setelah selesai, tahun berikutnya muncul Noktah Merah Perkawinan 2 yang tayang secara mingguan, dan tidak sepopuler jilid pertamanya.

Saat ini usia sebuah sinetron ditentukan rating. Banyak sinetron yang bahkan hanya bertahan seminggu saja. Contohnya, di awal 2016 ada Trio Ubur Ubur Mengejar Cinta (Amanah Surga Productions, SCTV) dan Bajaj Bang Gocir (MD Entertainment, MNCTV). Sementara yang ratingnya stabil, ya bakal terus diproduksi. Seperti Tukang Bubur Naik Haji yang kini membukukan 1.900 episode.

Rumah produksi, dan stasiun TV memang lebih cepat mereguk untung. Namun semakin sulit mempertahankan kualitas. Apalagi durasi sinetron saat ini panjang. Jika dulu hanya 30-60 menit sekali tayang, kini umumnya sebuah sinetron tayang 75-120 menit setiap harinya. Proses pembuatan semakin singkat, durasi tayang justru bertambah. Penulis skenario rentan kehabisan ide. Pengulangan konflik tak bisa dihindari. Lihatlah Putri yang Ditukar (SinemArt, RCTI). Ada empat karakter yang diceritakan mengalami amnesia alias hilang ingatan sepanjang penayangan yang berjumlah 676 episode.

Sementara bagi pemain, juga ada plus dan minusnya. Plus-nya jelas, lebih cepat dikenal dan lebih cepat mengumpulkan honor. Tapi, ada risiko penonton cepat bosan karena melihat wajah yang sama setiap hari. Pemain yang terlibat di sinetron berjumlah panjang juga kehilangan kesempatan mengembangkan aktingnya dengan memerankan karakter lain. Contoh, Citra Kirana yang selama lima tahun “terjebak” dengan peran Rumana di Tukang Bubur Naik Haji The Series.

Dengan kekuatan sinetron harian yang merajai rating AGB Nielsen, rasanya sulit untuk menggeser tren kembali ke sinetron mingguan. Bukan hanya sinetron, sekarang hampir semua jenis acara di TV Indonesia tersedia dalam format harian. Inilah bukti hebatnya efek sukses sinetron harian.

Program lawak yang dulu hanya tampil mingguan seperti Aneka Ria Srimulat atau Extravaganza, kini tayang setiap hari. Misalnya, Pesbukers yang hadir Senin-Jumat. Reality show pun juga ikut-ikutan tayang harian. Ambil contoh, Katakan Putus yang tayang setiap Senin-Minggu. Bahkan ajang kompetisi, dalam hal ini diwakili D’ Academy, tayang tujuh kali seminggu.

Tak ada yang tahu sampai kapan format harian akan menjadi jurus utama stasiun TV untuk meraup penonton. Yang pasti, kebangkitan pamor sinetron harian di pertengahan era 2000-an telah mengubah kebiasaan penonton TV di Indonesia untuk menyaksikan program yang sama, setiap hari. 

 

Penulis Panditio Rayendra
Editor Tubagus Guritno
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
loading...
YANG INI LEBIH HEBOH
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.