Jadi Juri Police Movie Festival 2019, Prilly Latuconsina Sempat Tak Pede

Ari Kurniawan Senin, 28 Oktober 2019 06:30:11
Prilly Latuconsina jadi juri Police Movie Festival (PMF) 2019. (Instagram)

TABLOIDBINTANG.COM - Kiprah Prilly Latuconsina di industri film Tanah Air semakin mendapat pengakuan. Di ajang penghargaan Police Movie Festival (PMF) 2019, bintang film Danur itu dipercaya menjadi juri. 

Selain Prilly Latuconsina, kursi juri juga ditempati Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Wahyu Aditya, dan Monty Tiwa. Prilly mengaku heran saat pertama kali ditawarai jadi tim penilai. Mantan kekasih Maxime Bouttier merasa merasa minim pengetahuan soal film.

“Aku sebenarnya pede (percaya diri) enggak pede, sih. 'Kan nama jurinya yang sudah senior banget, sudah lama banget berdedikasi di perfilman Indonesia,” kata Prilly Latuconsina, di acara Pre Event Police Movie Festival 2019 di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Sabtu (26/10).

“Aku bisa dibilang baru terjun ke dunia film. Sebenarnya, pas ditawarin, aku tuh yang heran dulu. Serius enggak, sih?” imbuhnya.

Sebelum memulai tugasnya, Prilly Latuconsina lebih dulu berkonsultasi dengan Monty Tiwa, yang dikenal sebagai salah satu sutradara terbaik Indonesia. Prilly bertanya banyak hal, khususnya tentang teknis dalam suatu produksi film.

"Aku konsul ke Pak Monty. Kebetulan aku deket banget sama Pak Monty dan anggap dia ayah aku. Jadi, apapun tawaran yang ada, konsul dulu. 'Pak Monty, ini yakin aku jadi juri Police Film Festival? Terus, apakah aku capable segala macem?'. Jawaban Pak Monty, 'Akan ada namanya pertama kali setiap hal. Jadi, harus kau coba'. Dan aku akhirnya berani," pungkas Prilly Latuconsina. 

(ari)

Penulis Ari Kurniawan
Editor Ari Kurniawan
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.