Sutradara Ungkap Kunci Sukses Sinetron Jodoh Wasiat Bapak ANTV

Ari Kurniawan Rabu, 9 Agustus 2017 10:20:42
Ceppy Gober, sutradara Jodoh Wasiat Bapak. (Seno Susanto / tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Sinetron Jodoh Wasiat Bapak ANTV (sebelumnya berjudul Jodoh Pengantar Jenazah) berhasil mencuri perhatian pemirsa televisi. Dalam perolehan rating, sinetron yang dibintangi Adly Fairuz dan Vinessa Inez itu stabil di posisi kedua, di bawah Dunia Terbalik RCTI. 

Sejak awal, Ceppy Gober selaku sutradara sudah menilai cerita Jodoh Wasiat Bapak yang ditulis Wahyu HS sangat menarik. Namun dia tak menduga respon masyarakat akan sebesar sekarang. 

Rasa penasaran membawa Ceppy untuk melakukan survey ke 100 orang yang ditemuinya secara acak. Dari situ, ia menemukan beberapa fakta yang cukup menarik.

"Ada kedekatan antara masyarakat dengan Jodoh Wasiat Bapak. Sehari-hari kalian lihat orang jahat, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Paling dalam hati kalian beharap orang itu dihukum oleh Allah. Nah, kami di Jodoh Wasiat Bapak menghadirkan cerita azab untuk orang-orang jahat," tutur Ceppy, saat berbincang dengan tabloidbintang.com.

Para pemain Jodoh Wasiat Bapak menggelar syukurang 100 episode. (Instagram)
Para pemain Jodoh Wasiat Bapak menggelar syukurang 100 episode. (Instagram)

Jodoh Wasiat Bapak mengusung konsep serial lepas, yang setiap harinya menghadirkan cerita yang berbeda-beda. Ceppy yakin ada kepuasan tersendiri yang dirasakan penonton saat melihat karakter jahat dalam sinetronnya mendapat azab di akhir cerita. 

"Ada sedikit rasa dendam atau rasa ingin menghukum orang jahat di keseharian, kami visualkan. Di sini dibalas. Ada sebuah kepuasan di hati pemirsa saat melihat tokoh jahat mendapat balasan dari apa yang mereka lakukan," tuturnya.

(ari/ari)

Penulis Ari Kurniawan
Editor Ari Kurniawan
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.