5 Momen Penting untuk Dikenang Selama Syuting Film Susah Sinyal

Wayan Diananto Minggu, 14 Januari 2018 17:30:00
5 Momen Penting untuk Dikenang Selama Syuting Film Susah Sinyal (Seno / tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Pesan penonton memberikan kepuasan yang tidak dapat diuangkan. Pesan itu membuatnya bersemangat membuat film lagi.

Momen membaca testimoni penonton membuat Ernest Prakasa teringat romantika di lokasi syuting. Setidaknya, ada 5 momen yang dikenangnya.

1.    Dua jam, 2 toilet, dan 26 mobil

Mayoritas penonton Susah Sinyal, terkesima keindahan Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur. Airnya sebening kaca. Air terjun itu jaraknya 2 jam dari pusat kota. Sejam melewati jalan raya, sisanya melintasi jalur terjal berupa tebing dan bukit kapur. Pemain dan kru yang diboyong Ernest mengendarai 26 mobil, termasuk truk yang mengangkut 2 toilet.

Di tengah jalan, beberapa mobil tergelincir. Ini mimpi buruk bagi Ernest. Padahal, beberapa hari sebelumnya ia dan tim telah memperbaiki kondisi jalan agar mudah dilewati. Karena mobil yang melintas banyak dan membawa beban berat, jalannya rusak lagi. Yang disyukuri Ernest, insiden mobil tergelincir tak sampai menimbulkan korban jiwa. 

2.    Tiga hari mengejar matahari

Panorama lain yang membuat penonton kesengsem, adegan Kiara (Aurora Ribero) dan Abe (Refal Hady) menyaksikan matahari terbenam di Pantai Walakiri. Rupanya ada drama di balik syuting adegan ini. Dua kali ke sana, matahari bersembunyi di balik awan. Hari ketiga, barulah matahari menampakkan diri.

“Saya bilang kepada kru, 'Maaf, ini hari libur tapi kita harus kerja setengah hari jelang sore karena belum dapat adegan matahari terbenam,’” Ernest berbagi cerita seraya menambahkan, “Tiga hari mengejar matahari rasanya saya mau marah, tapi sama siapa?”

Film Susah Sinyal
Film Susah Sinyal

3.    Ruang tunggu terpisah untuk Adinia Wirasti

Ernest beserta pemain lain tiba di Sumba Timur dua hari sebelum syuting dimulai. Alasannya, agar bisa mendalami skenario di lokasi syuting. Adinia Wirasti dan Aurora reading di pantai untuk membangkitkan empati terhadap karakter. Hari-hari tertentu, Asti meminta ruang tunggunya dipisah dengan alasan ingin fokus mendalami skenario.

“Permintaanya masih masuk akal. Dia tidak sok diva. Saya cocok dengan gaya kerja Asti. Kami sama-sama detail, banyak maunya. Kami rempong kayak emak-emak. Mending ribut di awal daripada hasil akhirnya mengecewakan. Tidak apa-apa saya dicap rempong. Inilah saya!” Ernest menukas. 

4.    Menolak nasi kotak    

Selama syuting, Ernest menolak nasi kotak. Ia ingin kru dan pemain mendapat menu prasmanan saat makan. Alasannya, dengan menu prasmanan, pemain dan kru mendapat asupan gizi harian yang cukup karena bisa mengatur porsi makan sesuai kebutuhan.

5.    Dua kamera, satu alasan

Khusus untuk syuting Susah Sinyal, Ernest meminta dua kamera. Konsekuensinya, biaya produksi lebih mahal. Dampak positifnya, kerja lebih cepat dan manusiawi. Jam 9 malam atau paling telat jam 10 malam, syuting selesai sehingga waktu istirahat pemain dan kru lebih lama.

“Saat ada panggilan syuting jam 6 atau 7 pagi keesokan harinya, mereka siap. Kru tidur 6 jam per hari, film selesai. Kru tidur 2 jam per hari pun, filmnya akan tetap jadi. Tapi saya percaya hasilnya akan beda dan penonton bisa merasakannya,” beber Ernest.

(wyn / gur)

Penulis Wayan Diananto
Editor Tubagus Guritno
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.