Nada Untuk Asa : Tidak Mendramatisasi, yang Penting Penerimaan Diri

Wayan Diananto Sabtu, 7 Pebruari 2015 08:50:11
Nada Untuk Asa (Dok. Magma Entertainment)

TABLOIDBINTANG.COM - "Penyakitnya" film Indonesia, ketika menuturkan kisah seorang tokoh melawan penyakit, terlalu didramatisasi. Para penulis itu tampaknya menganut asas "sudah jatuh, tertimpa tangga, digigit anjing, ditimpuk orang sekampung." Didramatisasi sedemikian rupa dengan tujuan akhir mendatangkan air mata penonton. Alih-alih menjadi inspiratif, film itu malah terasa lebay. Nada Untuk Asa (NUA) hadir tidak untuk mengekor formula itu.

NUA bekerja dengan rumus, setiap orang pernah jatuh. Namun tidak semua orang mau dan berhasil bangkit. Mereka yang pernah jatuh mencapai hasil akhir berbeda. Ada yang berhasil, ada yang berhasil banget, ada yang tetap tinggal dalam gelap. Menyadari proses dan hasil akhir setiap orang berbeda-beda, maka Charles membangun kisahnya lewat tiga karakter berbeda.
    
Nada (Marsha) seperti disambar petir empat kali. Petir pertama terjadi ketika suaminya, Bobby (Irgi), meninggal akibat kanker paru-paru yang menyebar begitu cepat. Petir kedua, ketika Dokter Arya (Donny) mengabarkan sel kanker itu mengganas karena sistem kekebalan tubuhnya melemah drastis. Itu disebabkan inveksi HIV. Petir ketiga, Dokter Arya menyarankan Nada menjalani medical check up untuk melihat apa ia tertular HIV dari suaminya. Ternyata hasilnya, positif. 
    
Petir terakhir yang paling menyakitkan. Nada baru saja melahirkan si bungsu. Bayi itu terinfeksi HIV juga. Di sudut lain, Asa (Acha), meski mempunyai prestasi dan reputasi bagus di kantor, dipecat. Alasannya, perusahaan mendapatinya terinveksi HIV. Suatu hari, ia berkenalan dengan Wisnu (Darius), pendamping pasien yang hidup dengan AIDS. Setelah makan siang di kantin rumah sakit, tidak sengaja ia berbenturan dengan Wanda (Wulan), wanita tua kesepian, yang juga terinfeksi HIV. 
    
Tiga wanita ini terjebak dalam masalah sama. Mereka melawan masalah dengan cara berbeda. Ada yang semula menghindari sampai menemukan momentum untuk berani melawan. Ada yang sejak awal melakukan penerimaan diri. Ada pula yang memaknai tragedi beruntun itu ketidakadilan hidup.
    
Diperankan tiga aktris dengan interpretasi memikat, NUA bagai peragaan akting yang menyihir hati. Wulan dengan porsi paling sedikit, makeup ciamik, seketika mencuri perhatian. Marsha memang tidak bermain rias. Porsi peran melimpah, membuatnya tampak leluasa menerjemahkan kemelut hidup. Ia poros yang jika dihilangkan, roda skenario diyakini tidak akan semenarik ini. 
    
Persamaan keduanya, hidup di jalan "berkabut". Kadar kepekatannya berbeda. Agar mood lebih cerah, Asa hadir dengan romansa yang mempermanis cerita. Alurnya bersama Darius membuat wajah film ini lebih semringah. Bahwa film ini menampilkan penderitaan akibat HIV, ya. Namun difokuskan pada penerimaan diri dan sikap orang-orang terdekat terhadap mereka. Itu yang dibutuhkan penonton. Ini sudah drama. Tak perlu didramatisasi lagi. 
    
Pemain    : Marsha Timothy, Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Wulan Guritno, Irgi A. Fahrezi
Produser    : Hendrick Gozali
Sutradara    : Charles Gozali
Penulis        : Charles Gozali
Produksi    : Magma Entertainment
Durasi        : 98 menit

(wyn/adm) 
Foto. Dok. Magma Entertainment

Penulis Wayan Diananto
Editor Suyanto Soemohardjo
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.