Media Visit NAWAL, Film tentang Keluarga Aktivis Hilang Pada Masa Reformasi 1998

Seno Susanto Sabtu, 18 Mei 2019 13:30:25

TABLOIDBINTANG.COM - UncleS Film memproduksi sebuah film pendek berjudul NAWAL yang berasal dari kata yang dibaca terbalik, LAWAN. Pada Sabtu (18/05/2019) pemain dan kru melakukan media visit ke studio tabloidbintang.com.

Film berdurasi 18 menit ini berkisah tentang seorang mahasiswa bernama Mahatma atau biasa disapa Maha, yang mendapat kabar bahwa banyak rekannya sesama aktivis pro demokrasi hilang dan diduga diculik penguasa. 

Maha akhirnya dia juga ikut diculik. Ibu dan adiknya, Drupadi, menunggu kepulangan Maha. Pada akhirnya mereka tahu bahwa Maha dihilangkan secara paksa. Namun mereka selalu berharap Maha akan kembali di pagi hari dan memakan sarapan kesukaannya bersama mereka.

Noviya Setiyawaty, pemeran Ibu, yang saat mahasiswa mengalami langsung bagaimana hiruk pikuk aksi demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi, bahkan hingga terjebak  dan saat massa mengepung kampusnya ketika kerusuhan Mei 1998, merasa film ini seperti membawanya ke masa-masa mencekam saat itu.

"Nawal membawa saya kembali bercermin ke masa tragedi reformasi 1998, bercermin kembali pada kejadian tragis yang menjadikan Indonesia berada di titik sekarang ini. Namun, film ini mampu membawa saya menyelami satu sisi yang sempat luput dari perhatian saya, yaitu sisi derita dan arti sebuah kehilangan dari seorang ibu, dalam sebuah keluarga," ujar Noviya Setiyawaty yang sehari-harinya berprofesi sebagai pendidik dan pemain teater ini.

Menurut Julfikar Mahaputra, film Nawal mengingatkan kita semua, bahwa kemewahan yang didapat kita sebagai bangsa Indonesia hari ini adalah hasil perjuangan yang tidak mudah.  "Yang kita nikmati hari ini adalah hasil perjuangan yang sertai tetesan darah dan airmata para pejuang reformasi. Sampai detik ini, keadilan adalah hal yang dirasa tak pernah dicicipi oleh keluarga korban oleh sebab itu satu kata yang tak boleh lepas dari sekedar menolak lupa, LAWAN," tandas Julfikar Mahaputra.

Nadia Karina, pemeran Drupa, yang merupakan remaja kelahiran tahun 2000-an, tentunya jauh setelah masa reformasi, punya pendapat tak jauh berbeda.

"Meskipun saya jauh dari keberadaan kala tragedi itu terjadi, bukan berarti waktu dapat mengisi kehilangan keluarga-keluarga korban ketidakadilan. Nawal adalah pengingat bahwa mereka adalah manusia, yang dulu mengisi kehidupan orang-orang disekitarnya," Nadia Karina, ujar siswi SMA yang akrab disapa Karin itu.

Menurut sang sutradara, Bayu Adityo Prabowo, film Nawal adalah sebuah pesan tentang rasa kemanusiaan yang mungkin luput dari perhatian kita semua. "Sudah 21 tahun berlalu, mereka lenyap, keluarga mereka tetap menanti hingga hari ini. Semangat perjuangan mereka tetap hidup dan tidak akan pernah mati," ujar sutradara jebolan Institut Kesenian Jakarta ini.

Julfikar Mahaputra, pemeran tokoh Maha dan Nadia Karina, pemeran Drupa.

Noviya Setiyawaty, pemeran Ibu dan Nadia Karina, pemeran Drupa.

Noviya Setiyawaty, pemeran Ibu dan Julfikar Mahaputra, pemeran tokoh Maha

Para pemain, sutradara, dan kru film Nawal.

Install App Bion
Intip Foto-foto Ekslusif Artis
Download Aplikasi Android
Google playstore
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.