Membangun Kepercayaan Konsumen lewat Etalase Busana Toko Digital

Yohanes Adi Pamungkas | 17 Agustus 2018 | 13:30 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Tinkerlust dan Cottonink, dua dari sekian banyak toko daring yang menjual busana untuk perempuan. Pekan lalu, kami berkesempatan mewawancara para pendiri Tinkerlust dan Cottonink.

Mereka berbagi cerita tentang bagaimana platform digital membantu membesarkan merek dagang dan mendatangkan lebih banyak pesanan.

Ria Sarwono (31) merintis Cottonink bersama temannya, Carline Darjanto pada 2008. Kala itu, Cottonink menjual kaus bergambar mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang tengah dibicarakan publik.

Dua tahun kemudian, mereka membangun situs web khusus untuk menjual produk baru Cottonink. Dengan mendirikan toko daring, produk menjadi lebih mudah diakses. Ternyata proses adaptasi konsumen terhadap gaya hidup digital lebih cepat dari perkiraan.

“Padahal, gaya belanja daring belum menjadi tren waktu itu. Karena belum memiliki toko fisik, jadi kalau mau membeli harus membuka dan memesan melalui situs web,” kenang Ria ketika dihubungi Bintang, pekan lalu.

Dari awal berdiri, Cottonink menerapkan konsep casual with a twist. Pakaian yang dijual cocok untuk aktivitas sehari-hari.

“Selanjutnya, kami konsisten melakukan promosi dan pemasaran melalui medsos. Promosi di medsos sangat efektif,” bilang Ria.

Berbeda dengan Cottonink, Aliya Amitra (34) dan Samira Shihab (32) mendirikan Tinkerlust untuk mengedukasi perempuan bahwa barang preloved (seken) tak selamanya berkualitas buruk. Keduanya mengimbau kaum hawa untuk tidak malu membeli barang preloved.

Barang preloved, menurut Aliya, salah satu solusi mendapat barang bermerek dalam kondisi masih bagus dengan harga miring. Sejak 2016, Tinkerlust memosisikan sebagai preloved branded marketplace. 

“Toko daring kami mediator yang menjamin kualitas barang bagus meski tidak baru. Kami memiliki daftar merek busana lokal dan luar negeri yang layak dikurasi. Jadi enggak sembarang merek bisa dijual di toko kami,” beri tahu Aliya lalu menambahkan, “Menjamurnya platform digital saat ini justru membuat Tinkerlust yakin dengan konsep yang dijalankan sekarang.

Konsepnya tidak berubah dari sejak dirintis yakni menyediakan barang bermerek dengan harga terjangkau.”

Ia ingin menularkan kebiasaan menjual barang bagus yang tidak terpakai melalui Tinkerlust. Aliya kemudian berbagi kiat menyeleksi barang bekas sebelum dijual kembali.

“Barang dari penjual dikurasi, masih layak atau tidak. Jika tidak, kami kembalikan karena kami harus berhati-hati dalam memilih barang. Jadi pembeli yakin pasti mendapat kualitas terbagus meskipun statusnya preloved. Mungkin ada kompetitor yang tidak mengecek kondisi barang yang mau dijual, sehingga banyak yang percaya kepada Tinkerlust,” Aliya berbagi kiat.

(han / gur)

Penulis : Yohanes Adi Pamungkas
Editor: Yohanes Adi Pamungkas
Berita Terkait