Zoom Fatigue: Kelelahan Usai Melakukan Video Conference

Adhisty Michelia Alba (Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya) Selasa, 15 Desember 2020 11:20:22
ilustrasi

TABLOIDBINTANG.COM - Selama pandemi COVID 19 ini, banyak hal yang berubah dari berbagai aspek kehidupan manusia, salah satunya proses interaksi. Kondisi wabah COVID 19 yang dapat menular dengan sangat mudahnya melalui droplets atau tetesan air liur dari hidung atau mulut yang dihasilkan ketika seseorang yang terinfeksi virus ini batuk ataupun bersin, mengakibatkan pemerintah mengambil kebijakan untuk menghentikan segala aktivitas yang memungkinkan terjadinya pembentukan kerumunan, di antara lainnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah secara tatap muka dan juga kegiatan di perkantoran. Pertemuan secara virtual atau daring pun akhirnya menjadi solusi terbaik untuk memastikan aktivitas manusia tetap dapat berjalan dengan baik.

Hal ini pun membuat kita mulai berhubungan akrab dengan berbagai platform konferensi video seperti Zoom, Google Meet, Microsoft Teams, dan lain lainnya. Kebijakan Work From Home (WFH) ataupun School From Home (SFH) yang ditetapkan pemerintah  membuat para pekerja maupun pelajar kerap menghabiskan waktunya di depan laptop, ponsel, PC, dan berbagai jenis gawai lainnya untuk melakukan pertemuan virtual atau online meeting. Dengan konsep yang sangat sederhana dimana kita hanya perlu duduk di depan laptop untuk berinteraksi dengan rekan kerja ataupun teman sekolah, tentu hal ini seharusnya tidak begitu memberatkan. Namun dewasa ini, mulai muncul keluhan timbulnya perasaan lelah setelah melakukan online meeting bahkan melebihi lelah ketika melakukan pertemuan secara tatap muka. Mengapa demikian?

Fenomena ini dikenal dengan nama Zoom Fatigue, yaitu suatu kondisi di mana seseorang merasa sangat lelah karena terlalu sering melakukan pertemuan virtual atau online meeting. Meskipun dinamakan Zoom Fatigue, namun fenomena ini tetap dapat terjadi meskipun kita menggunakan platform konferensi video lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Wind (2020) mengungkapkan hal ini dapat terjadi karena otak kita harus bekerja lebih keras dalam menafsirkan komunikasi non verbal. Ketika kita berinteraksi dengan seseorang secara langsung, kita tidak hanya mendengarkan suara ataupun melihat wajah mereka tetapi juga memperoleh makna tambahan dengan menangkap isyarat sosial seperti gerakan tangan dan berbagai gestur tubuh lainnya secara keseluruhan bahkan kita juga dapat merasakan emosi ataupun energi dari orang tersebut. 

Dengan kebiasaan untuk menangkap segala stimulus tersebut ketika berinteraksi secara langsung, maka otak kita terbiasa untuk mengidentifikasi pola-pola tertentu dalam berinteraksi. Dan ketika interaksi ini berubah dari tatap muka menjadi virtual atau daring yang mana membatasi kita untuk dapat menangkap berbagai stimulus tersebut, otak harus bekerja lebih keras dalam memproses informasi yang didapatkan. Hal ini dikarenakan pembingkaian pada platform konferensi video yang membatasi visual seseorang hanya dari kepala hingga bahu mengakibatkan terbatasnya proses pengidentifikasian isyarat sosial seperti gerakan tangan dan gestur seluruh tubuh lain yang biasanya menjadi makna tambahan di dalam interaksi sehari-hari. Dan hal ini lah yang akhirnya mengakibatkan stress pada pikiran dan energi yang terkuras lebih banyak dari biasanya.
    
Selain itu, dengan konsep konferensi video yang mana menggabungkan berbagai kepala dalam satu layar laptop ataupun ponsel mengakibatkan otak harus kembali bekerja keras dalam membagi perhatiannya. Fitur gallery view yang membuat semua partisipan dapat terlihat dalam satu layar menghadirkan tantangan yang tidak biasa bagi sistem perhatian visual otak  karena otak memproses lebih banyak informasi visual daripada yang kita sadari (Kastner, 2020). Pada dasarnya sistem perhatian visual kita disetel untuk memfilter berbagai rangsangan yang ada di sekitar, sementara kehadiran orang-orang merupakan rangsangan yang paling menarik perhatian. Dengan konsep gallery view ini mengakibatkan kita dihadapkan pada banyaknya rangsangan yang memiliki daya tarik seimbang sehingga melebihi kapasitas dan mengurangi keefektifan pemfilteran tersebut.
    
Hal lainnya yang juga mempengaruhi terjadinya Zoom Fatigue adalah adanya perasaan menjadi pusat perhatian sebagaimana yang dikatakan oleh (Concannon,2020). Dengan fitur konferensi video yang memungkinkan kita untuk melihat diri kita sendiri di layar, yang mana ini merupakan sesuatu yang tidak kita alami saat berinteraksi dengan orang secara langsung. Hal ini membuat otak mempersepsikan bahwa kita menjadi sebuah pusat perhatian dan pada akhirnya kita kerap merasakan berbagai tekanan untuk berpenampilan ataupun berperilaku sedemikian rupa.
    
Dengan kondisi seperti ini yang akan memungkinkan kita untuk terus menggunakan konferensi video dalam beberapa waktu kedepan untuk beraktivitas dan berinteraksi, Zoom Fatigue mulai menjadi suatu hal yang harus kita perhatikan karena jika terus berlangsung tanpa pencegahan yang baik maka akan berdampak pada kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Lantas apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya Zoom Fatigue?
    
Yang pertama adalah mengatur agenda dan durasi online meeting dengan baik. Setelah otak dipaksa untuk bekerja keras selama konferensi video, alangkah baiknya kita juga harus mempersiapkan waktu istirahat yang seimbang. Berikan jeda antar meeting satu dengan meeting lainnya dan juga pastikan bahwa meeting berjalan dengan efektif dengan membuat susunan acara atau menargetkan durasi meeting berlangsung agar kita tidak membuang-buang waktu dengan berlama-lama di depan layar yang membuat otak dan tubuh semakin lelah.
    
Kemudian, kita dapat mengubah tampilan layar online meeting. Jangan menggunakan fitur gallery view yang memungkinkan kita untuk melihat semua partisipan yang ada di konferensi video tersebut, hal ini dapat membuat otak bekerja lebih keras karena dipaksa untuk fokus pada semua orang. Lebih baik menggunakan fitur speaker view sehingga kita dapat memfokuskan diri untuk hanya memerhatikan orang yang sedang berbicara.
    
Menonaktifkan kamera jika memungkinkan juga dapat membantu pencegahan timbulnya Zoom Fatigue. Sebagaimana yang sudah dipaparkan diatas terkait persepsi otak tentang menjadi pusat perhatian ketika kita melihat diri sendiri di layar, maka dengan menonaktifkan kamera bisa sedikit membantu menghilangkan tekanan untuk tampil sedemikian rupa.
    
Dan hal terakhir yang dapat dilakukan adalah menjauhkan diri dari ponsel, laptop, tablet, dan gawai lainnya ketika sedang tidak memiliki agenda untuk melakukan konferensi video. Hal ini sangat penting untuk mengistirahatkan dan memberikan waktu pada otak untuk menetralkan dan mengatur ulang fokus terhadap hal-hal di luar dunia digital. Matikan gawai kita selama satu atau dua jam dan berikan waktu untuk diri sendiri untuk menikmati dunia sekitar dengan tenang. Setelah otak dan tubuh diberikan waktu cukup untuk beristirahat, niscaya kita akan lebih siap untuk melakukan konferensi video selanjutnya.
 

 


Referensi:

Callahan, M. (2020). Zoom Fatigue Is Real. Here’s Why You’re Feeling It, And What You Can Do About It. Retrieved from https://news.northeastern.edu/2020/05/11/zoom-fatigue-is-real-heres-why-youre-feeling-it-and-what-you-can-do-about-it/

Dubin,M. 2002. How the Brain Works. United States of America : Wiley-Blackwell. Gillespie, C. (2020, May 26). Zoom Fatigue: Why Video Chat Is Exhausting You Right Now,
and What to Do About It. Retrieved from https://www.health.com/condition/infectious-diseases/coronavirus/zoom-fatigue

Kadaba, L. (2020, May 20). Zoom Fatigue Is Real. Why Video Meetings Strain Your Brain and How To Fix It. Retrieved from https://www.inquirer.com/health/coronavirus/zoom-fatigue-science-brain-how-to-combat-20200520.html

Lee, Jena. 2020. A Neuropsychological Exploration of Zoom Fatigue. Retrieved from https://www.psychiatrictimes.com/view/psychological-exploration-zoom-fatigue

Morris, B. (2020, May 27). Why Does Zoom Exhaust You? Science Has an Answer. Retrieved from https://www.wsj.com/articles/why-does-zoom-exhaust-you-science-has-an-answer-11590600269

Wiederhold, B.K. (2020). Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking. Vol. 23, No. 7, 437-438. 

Wnuk,A. (2020). This Is Why You Get Zoom Fatigue. Retrieved from https://www.brainfacts.org/neuroscience-in-society/tech-and-the-brain/2020/this-is-why-you-get-zoom-fatigue-092320
 


 

Penulis Adhisty Michelia Alba (Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya)
Editor Tubagus Guritno
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
loading...
YANG INI LEBIH HEBOH
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.