Tidak Ada Anak, Rumah Tangga Tetap Bisa Bahagia Kok!  

Redaksi Sabtu, 25 September 2021 06:00:23
Sebisa mungkin hindarkan menjadikan anak sumber kebahagiaan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - “Bagaimana, sudah isi?’” Ini pertanyaan yang biasa dilontarkan orang-orang kepada pasangan menikah, yang semakin menguatkan kesan “menikah, maka harus punya anak”. Kalau berpikiran positif, anggaplah itu doa. Tapi, bagi kebanyakan orang, merupakan momok.    

Anak Bukan “Sumber Kebahagiaan”

Saat tekanan tentang keharusan punya anak semakin meningkat, tidak sedikit pasangan yang biduk perkawinannya goyah atau sulit mendapatkan kebahagiaan, ketika apa yang diharapkan -- memiliki anak -- belum membuahkan hasil. Ditambah adanya intervensi keluarga besar, seperti mengharapkan cucu atau bahkan keinginan memiliki pewaris. “Bukan hal yang asing, jika kemudian muncul perselingkuhan dan perceraian yang bahkan melibatkan kedua keluarga besar terkait ketiadaan anak,” ujar konselor dan terapis Anggia Chrisanti Wiranto.

Jadi sebisa mungkin hindarkan menjadikan anak “sumber kebahagiaan” di dalam pernikahan. Meyakini ini hanya membuat Anda dan pasangan ngoyo memiliki anak, seolah tidak ada hal penting lainnya. “Ini anggapan yang harus ditepis. Karena kebahagiaan tidak pernah bersumber atau berasal dari apa pun dan mana pun, tidak pernah datang sendiri atau dari pemberian (misal, kehadiran anak), kecuali dari diri kita sendiri yang memperjuangkannya,” urai Anggia. Logikanya sederhana. Jika ketidakhadiran anak dianggap mengurangi kebahagiaan, mengapa pasangan-pasangan dengan anak masih ada saja yang tidak bahagia? 

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Saat ini, telah terjadi pergeseran yang cukup membuat perbedaan signifikan. “Banyak individu-individu dewasa, bahkan yang belum menikah, yang tidak lagi menjadikannya masalah yang harus diperdebatkan secara prinsipiel. Ini didasari tingkat pendidikan, wawasan, informasi modern, gaya hidup, dan teknologi tinggi yang menjadi dasar dari memandang kehadiran anak bukanlah yang utama dalam sebuah pernikahan,” papar Anggia. Tapi, bagi yang masih cemas atau merasa tidak tahu harus bersikap apa saat buah hati belum kunjung datang di tengah keluarga kecil Anda, berikut beberapa anjuran Anggia. Wajib dilakukan bersama pasangan! 

- Saat ini begitu mudah dan luas untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan agama yang membahas tentang hal ini, yang kemudian bisa menjadi referensi tentang hakikat kebahagiaan, hakikat pernikahan, dan hakikat tentang keturunan. Pahamilah seluruh pengetahuan itu, sehingga kita bisa mendapatkan jawaban atas kecemasan yang dirasakan.

- Perbanyak pengetahuan wawasan tentang alat reproduksi, gizi, hormon, faktor keturunan, dan hal-hal lainnya yang bisa menyebabkan kesulitan mendapatkan keturunan. Intinya, segala hal yang terkait dengan kesehatan diri. Tentu yang terbaik adalah saat diri kita sehat secara jasmani dan rohani. Mengenai buah hati, jadikan itu bonus saja. 

- Cari informasi tentang pengetahuan modern, terutama teknologi kedokteran terkait kesuburan. Tentu semua hal patut kita coba, maksimalkan, dan ikhtiarkan. Dengan tujuan memaksimalkan apa yang bisa dilakukan dan menyerahkan hasilnya di tangan Allah semata.

- Dengan tubuh yang sehat, bergaul dan berkaryalah. Nikmati hidup dengan memaksimalkan semua potensi yang kita punya. Jadikan diri Anda bahagia karena diri Anda saja, tidak tergantung kepada apa-apa yang menempel pada Anda (pasangan, anak, harta benda, tahta). Semuanya aksesori yang bisa menambah kebahagiaan, bukan sumber kebahagiaan. 

- Penting untuk kompak sebagai suami dan istri dalam semua pemahaman dan usaha apa pun dalam upaya mendapat keturunan. Karena tidak ada yang lebih membahagiakan selain pasangan yang saling mendukung, mengerti, mengupayakan kebahagiaan pribadi masing-masing dengan tidak membebankan kebahagiaan pribadi kepada yang lainnya. Tetap semangat! 
 


Penulis Redaksi
Editor Binsar Hutapea
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore