Mengenal Penyakit Trigeminal Neuralgia yang Membuat Salman Khan Nyaris Tak Bisa Bicara

Ari Kurniawan Jumat, 8 Oktober 2021 08:30:39
Salman Khan pernah mengalami kelainan pada syaraf wajah. (dok.IST)

TABLOIDBINTANG.COM - Trigeminal neuralgia merupakan kelainan saraf yang menyebabkan nyeri wajah sebelah yang tidak tertahankan. Saking hebatnya nyeri yang ditimbulkan, seringkali memunculkan dorongan untuk bunuh diri pada para penderitanya. Tak heran, penyakit ini dijuluki sebagai suicide disease (penyakit bunuh diri). 

Tidak ada kata yang mampu menggambarkan nyeri trigeminal neuralgia. Banyak yang menderita rasa tertusuk jarum pada wajahnya, tak sedikit pula yang merasakan sengatan listrik, dan ada pula yang merasakan kesemutan yang tak tertahankan pada pada satu sisi wajahnya. 

Aktor India Salman Khan merupakan salah satu public figure yang diketahui menderita kelainan syaraf ini. Dalam sebuah wawancara dengan media, Salman mengaku sempat tak bisa bicara akibat penyakit ini. Dokter spesialis saraf, dr. Astryanovita, SpS mengatakan Trigeminal neuralgia pertama kali  ditemukan oleh John Fothergill pada 1773, dan oleh karenanya dikenal dengan Fothergill’s disease.

Organisasi kesehatan yang mendalami nyeri, International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan trigeminal neuralgia sebagai nyeri yang tiba-tiba, biasanya unilateral (sebelah wajah), tajam, hebat, singkat, dan  berulang dengan distribusi pada satu atau lebih  cabang dari saraf trigeminal (saraf  kranial  kelima).

Sedangkan, menurut International  Headache  Society  (IHS),  trigeminal  neuralgia  adalah  nyeri  wajah  yang  tajam,  seperti  tersengat  listrik, terbatas pada satu atau lebih cabang saraf trigeminal. 

Saraf trigeminal sendiri adalah saraf kelima pada otak yang menghantarkan sensasi dari wajah dan rongga mulut serta memiliki 3 cabang yaitu: Oftalmikus (area mata, dahi hingga kepala atas), Maksilaris (pipi, kelopak mata bawah, bibir atas, hidung, geligi rahang atas, langit-langit rongga mulut, nasofaring), dan Mandibularis (mempersarafi otot-otot untuk mengunyah dan daerah kulit rahang bawah). 

“Nyeri ini memiliki tanda khas yakni hanya terjadi pada salah satu sisi wajah saja dan area yang terserang nyeri sesuai dengan 1 atau lebih percabangan saraf trigeminal,” jelas dr. Mustaqim Prasetya, SpBS, dalam webinar ‘International Trigeminal Neuralgia Awareness Day’ yang digelar Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta, Kamis (7/10).

Penyebab Nyeri

Nyeri secara umum dibedakan menjadi dua macam, yaitu somatik dan neuropatik. Nyeri somatik akan terjadi bila ada kerusakan jaringan, terdapat stimulus yang menyebabkan cedera, berasal dari reseptor nyeri dan biasanya akan sembuh dengan pemberian obat antinyeri yang lazim digunakan sehari-hari. 

Sedangkan nyeri neuropatik, berasal dari kelainan saraf, stimulus penyebab nyeri tidak ditemukan, tidak merespons dengan pemberian obat antinyeri lazimnya sehingga membutuhkan obat lain, seperti obat antiepilepsi, misalnya. 

Perlu diingat pula, bahwa nyeri wajah tidak melulu hanya disebabkan trigeminal neuralgia. Migrain, nyeri kepala tipe tegang, nyeri kepala kluster, glaukoma, sinusitis, temporomandibular joint pain (TMJ), dan masalah gusi juga bisa menyebabkan nyeri pada wajah. 

Lebih lanjut, drg. Nella Arman Saibi memaparkan mengenai penyakit gigi dan mulut yang menyerupai trigeminal neuralgia. “Terkadang penderita trigeminal neuralgia memeriksakan diri ke dokter gigi karena merasa ada masalah pada giginya dan setelah berobat, nyerinya masih menetap. Bila hal ini terjadi, kemungkinan besar disebabkan oleh trigeminal neuralgia yang dipastikan dengan pemeriksaan penunjang lainnya.”  

Walaupun kecurigaan nyeri wajah akibat trigeminal neuralgia berdasarkan riwayat penyakit pasien, untuk memastikannya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang radiologi, yaitu MRI, guna memastikan diagnosis dan menyingkirkan penyakit lain yang bukan trigeminal neuralgia.  

Pengobatan Trigeminal Neuralgia dengan MVD

Pengobatan atau penanganan trigeminal neuralgia biasanya dilakukan secara bertahap. Langkah pertama adalah dengan pemberian obat antiepilepsi. Bila nyeri masih ada dan tidak ada perbaikan, maka akan dipertimbangkan untuk meningkatkan dosis atau mengombinasikan obat. 

Bila hal-hal tersebut tak kunjung meringankan nyeri, maka dokter akan menganjurkan tindakan bedah mikro, yang dinamakan MVD (MicroVascular Decompression). 

“Di RS PON, operasi bedah mikro akan dilakukan di bawah kerjasama tim dokter bedah saraf dan dokter spesialis saraf, guna mencapai hasil yang maksimal dan dengan menekan risiko seminimal mungkin. Untuk meminimalkan risiko komplikasi, maka selama tindakan MVD berlangsung akan dilakukan pemantauan ketat fungsi saraf dengan menggunakan alat IOM atau intraoperative monitoring untuk memonitor saraf-saraf lain yang berdekatan dengan lokasi operasi. Jadi tindakan operasi MVD sejauh risikonya minimal dengan hasil yang memuaskan. Data internal kami menunjukkan angka bebas nyerinya bisa mencapai 90%,” papar dr. Mustaqim Prasetya, SpBS lebih lanjut. 

Dokter Mustaqim sekali lagi menegaskan,”Nyeri trigeminal neuralgia dapat disembuhkan dengan metode yang tepat, yang dapat mengatasi sumber penyebab nyeri tersebut. Selanjutnya pasien bisa hidup bebas nyeri tanpa perlu mengkonsumsi obat.” 

MVD ini merupakan pilihan pengobatan utama dan tidak ada pantangan usia atau tidak ada batasan usia, selama kondisi kesehatan memungkinkan dilakukan tindakan pembedahan. “Pasien tertua yang pernah kami tangani dengan MVD berusia 85 tahun dan beliau sangat bersyukur karena nyeri trigeminal neuralgia yang beliau alami dapat teratasi.”
 


Penulis Ari Kurniawan
Editor Ari Kurniawan
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore