Dena Rachman Berbagi Tips Atas Trauma Masa Kecil

Vallesca Souisa Jumat, 3 Desember 2021 01:00:23
Dena Rachman, seorang aktris juga aktivis yang banyak bekerja sama untuk pelaksanaan berbagai kampanye dengan banyak organisasi. (Seno/tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Dena Rachman, seorang aktris juga aktivis yang banyak bekerja sama untuk pelaksanaan berbagai kampanye dengan banyak organisasi, seperti UNDP, UNESCO, UNFPA, ILO, Hivos, dan Rutgers. Ia juga aktif memproduksi talkshow-nya sendiri, BEBI Talk (Bebas Bicara Talk), sebuah platform untuk kebebasan berbicara di YouTube. Sebagai ruang bagi millenial dan Gen Z untuk saling berbagi, Dena berbincang mengenai “Childhood Trauma: Mengurai Masa Lalu untuk Kuat di Masa Depan”.

Childhood trauma tak selalu berasal dari keluarga
Beberapa waktu menghilang dari dunia hiburan, mantan artis cilik era 90-an, Dena Rachman, sempat menjadi perbincangan hangat publik setelah mengungkapkan identitas barunya sebagai seorang transgender. Pemilik nama asli Renaldy Denada Rachman ini memutuskan mengubah dirinya dari laki-laki menjadi perempuan beberapa tahun yang lalu. Semasa kecil, ibu Dena yang mengetahui bakat anaknya mendorong Dena untuk menjadi artis. “Tidak ada maksud buruk, tapi hal ini tanpa disengaja menekan aku dan membentuk sebuah trauma,” ia mengaku.

Dena kemudian terbentuk menjadi pribadi yang ambisius. Ia mengartikan bahwa untuk menjadi apa yang dirinya mau, Dena harus sukses. Memang betul, tapi yang membuatnya kurang tepat adalah sudut pandang Dena yang hanya terpatri pada aspek materialnya saja. “Punya mobil, bisa S-2 di luar negeri, punya rumah itu definisi suksesku dulu. Sempit sekali maknanya. Aku tidak menyalahkan orang tua ku mengenai hal ini, sama sekali, karena mereka tidak melakukannya on purpose. Mereka hanya menginginkan yang terbaik buatku.”

Dena Rachman (Seno/tabloidbintang.com)
Dena Rachman (Seno/tabloidbintang.com)

• Sesuatu yang menyakitkan secara emosional dan dapat memberikan efek berkepanjangan
Ia mengungkapkan secara lugas, “Ambisiku saat itu menyebabkan pergumulan yang luar biasa di aku secara personal. Hal ini kemudian menjadi bentuk lain dari childhood trauma.” Ia sempat berpikir bahwa keluarganya bukanlah tipe keluarga yang ia dambakan. Padahal, di sisi lain, teman-teman Dena mengungkapkan betapa keluarga Dena adalah keluarga impian. “Kata mereka, keluargaku terbuka dan sangat suportif. Hal ini baru kusadari setelah aku pulih. Kini aku sadar bahwa hal ini tak selalu dimiliki oleh teman-teman ‘minoritas’ di luar sana. Mereka bahkan tak bisa merasakan family value karena dibuang oleh keluarga mereka,” ucap Dena.

Setiap kita lahir dan tumbuh di lingkungan yang berbeda. Kita pun memiliki pengalaman yang unik sesuai dengan bagaimana dan di mana kita bertumbuh. Sebagaimana hidup tak selalu tentang suka cita, pengalaman yang kita alami selama masa kanak-kanak tidak hanya meliputi pengalaman menyenangkan saja, sebagian dari kita pun harus melewati pengalaman yang buruk sekali pun. Dena mengungkapkan, “Seperti apa yang aku alami, hal ini dapat disebut sebagai peristiwa traumatis masa kecil atau childhood trauma. Sebuah peristiwa menakutkan atau berbahaya yang dialami seorang anak, yang menyakitkan secara emosional, membuat anak dalam posisi tertekan, dan sering kali memberikan efek berkepanjangan. Ini yang harus diwaspadai.”

• Langkah untuk menyembuhkan childhood trauma
Trauma masa kecil tentu bisa dipulihkan. Sempat mengalami hal serupa, Dena mengungkapkan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkan luka itu. Pertama adalah mengingat kembali memori masa lalu. Terkadang, sebut Dena, kita harus memberikan extra effort untuk mengingat sesuatu yang sebetulnya melukai kita. Alam bawah sadar kita cenderung menguburnya dalam-dalam, jadi kita seolah lupa akan hal tersebut. Coba duduk tenang dan ingat-ingat. Kemudian, di masa sekarang, pikirkan situasi yang membuatmu tak nyaman, yang bisa memicu emosimu. Rasakan, pusatkan pikiranmu.

Langkah kedua adalah dengan mengenali emosi dan sensasi yang kita biasa rasakan di situasi tertentu. Dena mengungkapkan, “Pahami diri kita sendiri. Bila berada di situasi A, respons apa yang akan kita berikan? Emosi seperti apa? Kemudian, coba pahami dan namai emosi tersebut. Oh, ini marah, ini kecewa, ini sakit hati. Be more conscious.”

Langkah ketiga adalah mengambil pesan dari emosi dan sensasi yang kita rasakan. Coba direfleksikan, apakah emosi dan sensasi tersebut memiliki kaitan dengan peristiwa traumatis di masa lalu? Cermati baik-baik. Bila sudah, coba berbagilah dengan orang lain yang kita percayai. “Namun, yang terpenting adalah know that we’re worthy and loved and strong karena kita punya Tuhan yang sertai kita, so be brave,” kata Dena.


Penulis Vallesca Souisa
Editor Binsar Hutapea
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore