4 Cara Mengabarkan Kehamilan yang Tidak Direncanakan kepada Pasangan

Wida Kriswanti | 29 September 2022 | 07:00 WIB

Anda dan pasangan sedang tidak merencanakan kehamilan atau memiliki anak. Namun sebagai wanita, Anda merasakan sesuatu yang berbeda telah terjadi di dalam tubuh. Hingga kemudian Anda melakukan tes kehamilan, dan ternyata hasilnya positif.

Tidak dipungkiri, sensasi mendapati diri hamil di saat tidak mengharapkannya, bisa menimbulkan banyak gejolak emosi. Sulit rasanya untuk seketika bahagia, bersorak, dan cepat-cepat mengabarkan kepada semua orang. Namun fakta bahwa Anda benar hamil tidak bisa dielakkan begitu saja. Sebagai orang yang sudah dewasa, Anda tetap harus menyikapinya dengan tanggung jawab.

Menjadi hal pertama yang harus dilakukan, yaitu mengabari pasangan soal kehamilan tidak diharapkan yang telanjur terjadi. Namun melakukannya jadi susah-susah gampang. Karena Anda tahu pasti dia pun sedang tidak mengharapkan kehamilan istrinya. Lantas harus bagaimana? Dilansir dari Pink Villa, berikut ini langkah-langkah yang harus Anda lakukan saat memberi kabar yang "mengejutkan" ini.

1. Kabari langsung jika memungkinkan 

Jangan mengabari lewat chat atau telepon. Karena belum diketahui pasti bagaimana dia akan bereaksi nun jauh di sana. Selain itu, ada risiko miskomunikasi yang bisa jadi memperburuk situasi. Tunggulah sampai bertemu langsung. Lihat mood-nya sebelum meminta waktu untuk bicara berdua. Pilih tempat bicara di area pribadi saja. Seperti saat di dalam kamar di rumah sendiri. Tidak perlu mengajak suami ke restoran atau kafe untuk membicarakannya. Karena tidak diketahui pasti bagaimana dia akan bereaksi, sehingga ini sangat berisiko. 

2. Bersikaplah jujur

Awali percakapan dengan cara yang positif. Pilihan kalimat pembuka seperti, "Aku punya kabar buruk," sangat tidak direkomendasikan. Ingat, bukan Anda yang bertanggungjawab sendirian atas apa yang terjadi. Kehamilan adalah tanggung jawab dua belah pihak. Dan kehamilan yang tetap terjadi, walau usaha mencegah sudah dilakukan semaksimal mungkin, adalah takdir. Jadi, ungkapkan saja dengan emosi yang jujur, apa adanya.

3. Beri waktu suami untuk memberikan tanggapannya

Setelah semua diungkapkan, tidak perlu tergesa-gesa menuntut jawaban suami. Beri waktu suami mencerna dan memperhitungkan segala kemungkinan. Karena tidak mengharapkan kehamilan bisa karena berbagai alasan. Alasan ekonomi, kesehatan istri, atau jarak kelahiran yang terlalu dekat tentu butuh pemikiran bijak seorang suami. Namun Anda juga harus memperhitungkan kemungkinan suami akan marah, menyangkal, atau bahkan berniat lepas tanggung jawab. Kepribadian suami, Anda sendiri yang memahaminya. 

4. Cari bantuan pendampingan terkait kehamilan yang tidak direncanakan

Jika Anda dan suami tidak bisa memutuskan sendiri perihal kehamilan yang terjadi, maka mencari bantuan pendamping sangat direkomendasikan. Jika masalah yang mengganjal terkait kesehatan istri atau jarak kelahiran yang dekat, konsultasi dengan dokter spesialis bisa jadi pilihan. Membuat keputusan dengan bantuan pandangan dari ahlinya tentu akan membuat pengambilan keputusan lebih objektif dan menenangkan. Sebaliknya, jika Anda justru dibiarkan sendiri menanggung kehamilan yang tidak diharapkan ini, meminta bantuan pendampingan dari konselor pernikahan atau psikolog patut diupayakan. Semoga apapun hasilnya, menjadi yang terbaik, terutama untuk Anda sendiri.

Penulis : Wida Kriswanti
Editor: Wida Kriswanti
Berita Terkait