Permainan Meresahkan di Kalangan Anak Sekolah dengan Meniru Tragedi Itaewon

Redaksi | 21 November 2022 | 15:00 WIB

Saat tragedi di Itaewon, Seoul, Korea Selatan yang merenggut 158 nyawa dan membuat banyak orang terluka masih meninggalkan duka mendalam, muncul tren meresahkan seputar insiden itu di kalangan anak sekolah. Tagar Itaewon Game dan Itaewon Crush Game sedang populer di media sosial di Korea Selatan. Dalam permainan ini, banyak siswa tampak berbaring di atas satu sama lain, membentuk tumpukan manusia, dan siswa di bawah menang berdasarkan berapa banyak orang yang mampu mereka tahan di atas tubuh mereka.

Game itu, seperti dikutip dari koreaboo.com, telah ada selama bertahun-tahun dengan nama berbeda, seperti Game Hamburger, Tantangan Pass-out, dan Game Sandwich. Sekarang, beberapa anak sekolah di Korea Selatan tampaknya mencari kesenangan dengan meniru kerumunan pada perayaan Halloween di Itaewon yang menelan banyak korban dengan menamainya Permainan Itaewon.

Seorang siswa sekolah menengah atas di Seoul menggambarkan keseluruhan proses permainan. Pertama, para siswa memindahkan semua meja ke samping, dan kemudian seorang anak berbaring di lantai di tengah kelas. Setelah itu, sepuluh orang atau lebih akan mulai menumpuk di atasnya, mencoba menekan orang di bawah. Permainan ini sudah menjadi kegiatan istirahat yang sering dilakukan. Tapi beberapa siswa menolak ikut permainan ini.

Seorang siswa lain yang memberi kesaksian secara online, mengatakan anak-anak meniru tragedi tersebut saat makan siang. "Saat kami makan siang, anak-anak berteriak 'Dorong, dorong' dan menirukan tragedi Itaewon." Siswa lain menulis, "Siswa di sekolah saya memainkannya lagi hari ini, dan seorang anak laki-laki mengatakan punggungnya sakit, dan dia tidak bisa bernapas."

Tren Game Itaewon ini mengguncang para orang tua. Banyak yang khawatir ini akan menjadi cara baru dan fatal untuk melakukan intimidasi di sekolah. Asosiasi Guru Literasi Media Korea (KATOM) telah menyatakan keprihatinan atas masalah ini. Lim Myung Ho, seorang profesor psikologi di Universitas Dankuk, menambahkan bahwa remaja meniru segala sesuatu secara alami. Perilaku ini pernah tercermin dalam Permainan Bunuh Diri, atau dikenal sebagai Tantangan Paus Biru, yang ngetren sekitar tahun 2016. Profesor Lim menambahkan, ketika konsep yang menyimpang seperti itu menjadi tren, kebanyakan remaja mengikuti tanpa memikirkan konsekuensinya.

Penulis : Redaksi
Editor: Redaksi
Berita Terkait