Tentang Tiga Film Hollywood Bertema Natal yang Klasik

Ade Irwansyah | 24 Desember 2013 | 12:19 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - NATAL jadi momen penting tidak hanya bagi yang merayakannya. Tapi juga bagi Hollywood.

Saban tahun setidaknya ada 2-3 film bertema Natal dirilis. Bahkan, film-film bertema Natal pernah booming pada 1940-an dan 1950-an. Film-film itu biasanya berisi kisah sederhana dengan pesan Natal yang membuat haru dan permukaan mata basah. Para sejarawan film sepakat, kala itu Amerika, tempat Hollywood berada, tengah dikecamuk ketidakpastian (karena Perang Dunia II) lalu penyembuhan (saat perang usai). Suasana hati Hollywood pun sesuai zamannya, mereka memberi film yang memberi harapan, kekuatan Tuhan dan mukjizat, dan kasih pada sesama.

Film-film betema Natal terbagi 3 jenis: Pertama, film yang sepenuhnya tentang liburan Natal. Film-film ini biasanya menampilkan Natal dengan simbol-simbol seperti keluarga kumpul bersama, pohon Natal, atau Sinterklas. Kedua, film-film yang kisahnya terjadi saat Natal. Libur Natal jadi bagian dari film, tapi bukan yang paling utama. Ketiga, film-film yang tak ada hubungannya dengan Natal, tapi kisahnya terjadi di sekitar hari Natal.

Nah, karena film-film bertema Natal paling banyak dibuat kurun 1940-an dan 1950-an, film-film Natal terbaik pun lahir di era itu. Hingga kini tercatat tiga film bertema Natal dari era itu yang masuk kategori klasik, enak ditonton kapan pun. Yakni It's a Wonderful Life (1946), Miracle on 34th Street (1947), dan Scrooge/A Christmas Carol (1951).

Yuk, berkenalan dengan tiga film tersebut.

It's a Wonderful Life (Frank Capra, 1946)
Seperti apa jadinya bila kita tak pernah ada di dunia? Apa akan ada pengaruhnya? Itu yang dirasakan George Bailey (James Stewart). Ia terpaksa melupakan impiannya dan terpaksa tinggal di Bedford Fall melanjutkan usaha ayahnya, membangun rumah murah bagi keluarga-keluarga kurang mampu. Suatu saat menjelang Natal, perusahaannya terancam bangkrut. Frustasi, ia nyaris memberi hadiah Natal muram bagi keluarganya: bunuh diri. Datanglah seorang malaikat membatalkan niatnya, dan memberinya sebuah kesempatan langka: melihat keadaan kotanya seandainya ia tidak pernah dilahirkan. George pun tersadarkan bahwa kehidupannya ternyata telah menyentuh banyak orang. Sebenarnya, saat filmnya diputar di bioskop, sambutan orang biasa saja, Hingga di tahun 1970-an, film ini diputar di televisi dan orang baru sadar kalau filmnya bagus sekali. Sejak itu film ini jadi tontonan wajib saban tahun setiap libur Natal.?

Miracle on 34th Street (George Seaton, 1947)
Pada 1994 film ini dibuat ulang dengan sutradara Les Mayfield. Hasilnya tetap tak bisa melampaui versi 1947 karya George Seaton. Filmnya sudah dianggap klasik alias tahan zaman. Semua berkat akting Edmund Gwenn yang meraih Oscar atas perannya sebagai Kris Kringle, pemeran Sinterklas di sebuah department store yang kemudian mengaku kalau ia Sinterklas asli. Ada yang percaya dan yang tidak. Ia lalu diajukan ke pengadilan, diminta membuktikan kalau ia benar-benar Sinterklas dan bukan orang tak waras. Dari sinilah kemudian filmnya mengajak kita pada sebuah pertanyaan besar: apakah kita percaya mukjizat itu nyata? Sinterklas di sini adalah simbol keberadaan mukjizat. Ada hal-hal yang tak bisa diterangkan nalar manusia, tapi kita mempercayainya dengan iman.

Scrooge/ A Christmas Carol (Brian Desmond-Hurst, 1951)
Film ini disebut juga A Christmas Carol karena kisahnya memang diangkat dari novel karangan Charles Dickens yang sudah tenar itu. Saking tenarnya, kisahnya sudah berkali-kali dibuat dalam beragam versi, entah live action atau kartun. Tapi di antara semua film A Christmas Carol yang paling dikenang yakni versi 1951 dengan Alastair Sim sebagai Scrooge. Sim paling pas jadi Scrooge, seorang pria kaya di London yang kelewat kikir. Ia tak pernah menyumbang buat orang miskin selama hidupnya. Hingga, di malam Natal, Scrooge kedatangan hantu-hantu, semuanya bertujuan membuat Scrooge tobat. Hantu pertama mantan rekan Scrooge, mendiang Jacob Marley (Michael Hordern) yang memperingatkannya apa yang terjadi pada orang yang hanya hidup demi uang. Hantu kedua Christmas Past (Michael Dolan) yang mengajaknya ke masa lalu saat ia belum diperbudak uang. Hantu ketiga Christmas Present (Francis de Wolff) yang tugasnya mengajak Scrooge melihat orang lain merayakan Natal. Terakhir Christmas Yet to Come (C. Konarski) yang mengajak Scrooge melihat masa depannya bila ia tak bertobat.

(ade/ade)

Penulis : Ade Irwansyah
Editor: Ade Irwansyah
Berita Terkait