Menikmati Festival Kopi Tokyo di Bawah Ancaman Taifun

Ika Nurhayati | 24 Oktober 2018 | 19:40 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Mungkin tidak pernah terpikir oleh kita, saat ini Tokyo, selain ibu kota Jepang, juga menjabat ibu kota kopi Asia. Jepang memang bukan penghasil kopi terkemuka. Namun antusiasme orang Jepang akan kopi mewujud dalam tebaran kafe di berbagai sudut di Tokyo—juga kota besar Jepang lainnya. 

Tidak jarang kita menemukan beberapa kafe bertetangga di satu jalan. Kafe lokal dan kafe luar hidup rukun. Sampai kami sulit memilah kafe yang harus kami kunjungi dalam liburan sepekan di Tokyo. Agar eksplorasi rasa kopi di Tokyo lebih ringkas, perlu mendatangi Festival Kopi Tokyo, yang diikuti puluhan kafe dari berbagai penjuru Jepang termasuk Tokyo.

Festival Kopi Tokyo, yang digelar sejak musim semi 2015, biasanya diselenggarakan 2 kali dalam setahun. Untuk kepastian waktunya, bisa dicek di situs web dan akun Instagram resmi mereka. Nah kebetulan kunjungan kami ke Tokyo akhir September-awal Oktober lalu bertepatan dengan Festival Kopi Tokyo Musim Gugur 2018, pada 29-30 September 2018. Ancaman Taifun Trami pada 30 September malam mengubah jadwal penyelenggaraan hari itu, dari semula jam 11 siang-5 sore menjadi 10 siang-4 sore. Untuk kali pertama di Tokyo, semua perjalanan dengan kereta dibatalkan mulai jam 8 malam.

Toh tidak menyurutkan antusiasme orang, termasuk wisatawan asing, untuk bergerombol dan menikmati kopi yang baru diseduh di lebih dari 40 tenda kafe dan penyangraian. Apalagi pada 30 September siang itu cuaca cerah, barulah mulai jam 2 siang hujan rintik-rintik membasahi area festival yang bertempat di Universitas Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di kawasan sibuk Shibuya.

Di festival ini, pengunjung bebas masuk tanpa dipungut biaya. Namun jika ingin mencicipi kopi, 1.500 yen atau sekitar 200 ribu rupiah perlu dikeluarkan untuk menebus 4 koin khusus untuk ditukar dengan 4 cangkir kopi dari tenda mana saja, plus cangkir kecil bertulis “Tokyo Coffee Festival” sebagai wadah minuman kopi. Datang tanpa membekali diri dengan pengetahuan tentang para partisipan, kami secara acak memilih menebus koin di 3 tenda yang diserbu antrean. Cuma 3, karena maksudnya ingin menyimpan satu koin sebagai kenang-kenangan, eh tapi hilang entah di mana.

Ternyata 3 tenda kafe pilihan kami tidak satu pun berasal dari Tokyo—kafe populer Tokyo yang berpartisipasi kali ini adalah Lattest Omotesando Espresso Bar, Woodberry Coffee Roasters, dan Light Up Coffee. Namun kami senang bisa mencicipi kopi dari Rokumei Coffee Co. dari Nara yang sudah berdiri sejak 1974, And Coffee Roasters dari Kumamoto di Pulau Kyushu, dan Shimaji Cofffe Roasters dari Hiroshima.

Di dua tenda pertama yang kami hampiri, setiap pengunjung yang mengulurkan koin akan mendapatkan secangkir kopi dari Ethiopia. Antrean terpanjang terbentuk di tenda milik And Coffee Roasters, sampai salah seorang dari kafe ini mengacungkan kertas karton bertulis “ujung antrean” dan mengatur antrean, agar tidak mengganggu jalur pengunjung tenda-tenda lain. Tidak bisa berbahasa Jepang, jangan khawatir, kita tetap dilayani dengan ramah. Kami pun cuma bermodal kata “arigato gozaimasu”.

Di Shimaji Coffee Roasters untuk kali pertama kami mencicipi kopi dari Burundi, negara di tengah Afrika. Kopi Burundi Buzira ini terasa tidak berat karena jejak rasa yang dihasilkan memiliki rasa buah. Sebetulnya beberapa tenda menyajikan kopi asal Indonesia, seperti kopi Toraja di tenda Key Coffee asal Tokyo dan Goridou Coffee Factory dari Tochigi, kota yang berjarak sekitar 120 km dari Tokyo. Oh ya kafe dan penyangraian di festival ini menjual biji kopi andalan masing-masing, bisa dibeli langsung di tenda.  Hari itu, pengunjung juga dihibur pertunjukan dari The Lagerphones, grup musik jaz asal Australia.

Yang buat kami menarik, ternyata di lokasi yang sama setiap akhir pekan digelar pasar petani atau Farmer’s Market. Yang bikin kami akhirnya pulang dengan bawaan berat adalah Le Sentier de la Lavande, gerai yang menawarkan aneka bunga lavendel kering dan juga olahan dari bunga lavendel. Setelah memborong lima stoples selai lavendel plus dua kantong sayur, sayang sekali tidak ada ruang tersisa di dalam tas untuk membawa hasil pertanian lain seperti teh moringa atau daun kelor dan sirup jeruk mandarin khas Jepang.   

Taifun Trami akhirnya menyerempet Tokyo tengah malam. Angin menderu dan menampar kaca jendela, membuat lantai 3 rumah tempat kami bermalam terasa bergetar. Syukurlah jam 3 dini hari angin ribut itu berlalu. Ternyata bulan Juli-Oktober itu adalah waktunya Jepang rentan dilanda taifun. Namun setelah taifun berlalu, sisa 3 hari jalan-jalan di Tokyo kami lalui dengan aman dan nyaman karena matahari bersinar cerah sepanjang pagi hingga sore.

(ika/bin)

Penulis : Ika Nurhayati
Editor: Ika Nurhayati
Berita Terkait