Ruben Onsu Cerita tentang Ide Awal Pendirian Bisnis I Am Geprek Bensu

Indra Kurniawan | 23 Juli 2017 | 09:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Ide berbisnis ayam geprek tercetus dari kebiasaan Ruben Onsu membeli telur dari peternak ayam yang ia bantu.

“Saya sebenarnya bermaksud menolong peternak ayam. Ceritanya, saya kebetulan sering beli telur ayam dari teman saya, agen telur di Bali. Sehabis meeting dan foto-foto dengan saya, ada peternak ayam yang tiba-tiba menceletuk, 'Pak Ruben tolong kami, dong. Beli ayam kami. Kan telurnya sudah diambil,’” tutur Ruben.

Ruben mengajak mereka berdiskusi. Dari situ disepakati, Ruben akan membeli ayam peternak itu.

“Peternak itu bukan peternak partai besar. Kasihan. Akhirnya saya beli,” kata Ruben, yang kini juga memasok ayam dari 3 pihak lain. 

Terpikir olehnya untuk membuat usaha. Setelah dipikir matang-matang, ia memilih usaha ayam geprek. Ini mengingat ayam goreng makanan favorit masyarakat Indonesia. Apalagi disantap pakai sambal, sangat menggoda selera.

“Untuk karyawan, saya minta kepada adik saya, Jordi Onsu, merekrut orang-orang yang minta pekerjaan kepada saya. Mereka ternyata mau, yang penting katanya punya penghasilan sendiri,” ungkap Ruben.

Ide nama I Am Geprek Bensu didapat kala ia terjebak macet di jalan raya Ibu Kota. Biar membedakan dengan ayam geprek lain, Ruben menggunakan nama 'I Am' di depan dan nama 'Bensu' di belakang.

“Saya kasih nama asal ngucap. Adik saya tanya, apa, nih nama usahamu? Saya langsung jawab, I Am Geprek Bensu,” beri tahu Ruben.

Penggunaan kata 'I Am' dirasa Ruben fleksibel untuk pengembangan usaha ke depan.

“Seandainya usaha ayam itu nanti berhenti berkembang, saya bisa mengembangkan lagi dengan bahan baku bebek dan lainnya. Karena itu, saya enggak pakai kata ayam di depan,” jelas dia. Gerai pertama Geprek Bensu dibuka di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, Maret 2017. Tidak besar namun cukup untuk menampung bahan baku dan karyawan yang berjumlah 5 orang.

“Rencana awalnya bukan di situ. Tapi karena saya enggak ada bujet lebih untuk sewa, ya sudah di situ saja. Lagi pula harga sewanya murah banget,” Ruben beralasan. Tak sangka, hari pertama buka 100 potong ayam habis terjual. “Buka jam 10, jam 2 siang habis,” ungkap dia.

Besoknya tambah 200 potong ayam. Tidak sampai jam 12 siang ludes. Melihat animo masyarakat yang besar, gerai dibuka lagi jam 4 sore.

“Kami produksi lagi 150 potong. Ternyata habis dalam sekejap. Besoknya tambah 400 potong dan habis jam 5 sore. Sejak itu jadi viral, banyak yang bilang enak, pedas, dan lainnya,” ungkap Ruben. Padahal, ia hanya mempromosikan lewat akun Instagramnya.

“Saya enggak mengundang teman-teman media untuk promosi. Saya cuma pakai medsos sendiri. Padahal follower Instagram saya dibanding yang lainnya enggak seberapa,” Ruben merendah.

Sadar usahanya berhasil menyedot banyak pembeli, 2 minggu kemudian ia membuka cabang di Depok. Animo masyarakat sekali lagi luar biasa. Gerai langsung diserbu pembeli begitu dibuka Mei lalu.

“Sejumlah 1.500 potong ludes dalam 3 hari,” beri tahu Ruben bersemangat. 

 

(ind / gur)

 

Penulis : Indra Kurniawan
Editor : Indra Kurniawan