Persamaan dan Perbedaan antara Prilly Latuconsina dan Maxime Bouttier

Wayan Diananto | 26 Februari 2018 | 04:15 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Meski baru 2,5 bulan berpacaran, Maxime Bouttier berani menilai Prilly Latuconsina dari berbagai aspek. Setelah menilai dari kehidupan personal, Maxime menilai sang pacar dari kacamata pekerja seni.

Masih segar dalam ingatan Maxime, Prilly memulai debut di layar lebar lewat film Surat Untukmu. Sayang, debut ini ditanggapi dingin. Jumlah penontonnya tak sampai ratusan ribu.

Bukannya menyerah, Prilly ingin membuktikan lebih. Ia mendapatkan momentum lewat film Hangout yang mengumpulkan 2,6 juta penonton lebih. Pada momen inilah, Maxime tahu siapa Prilly sebenarnya. Saat dinilai gagal, ia tidak pernah mengurangi energi dalam bekerja. 

“Dia selalu bilang kepada saya, 'Aku mau lebih.' Saya tahu dia memiliki ambisi dan dia mau bekerja keras. Saya dan Prilly tidak memiliki banyak kesamaan. Kini, saya menemukan kesamaan, yakni ingin menjadi sesuatu di masa depan,” Maxime mengungkapkan dengan serius.

Prilly dan Maxime juga menyadari adanya perbedaan yang cukup mencolok di antara mereka. Maxime romantis, Prilly cuek. Perbedaan sifat ini memberi warna tersendiri pada gaya pacaran mereka. 

“Gaya pacaran kami santai, malah bisa dibilang kayak enggak sedang berpacaran. Maxime yang romantis melengkapi saya yang enggak romantis. Kadang-kadang saya enggak enak hati karena terlalu cuek,” tutur Prilly.

Contohnya seperti pada Hari Kasih Sayang pekan lalu, sama sekali tak terpikir olehnya bagaimana menghabiskan hari itu atau memberikan hadiah apa kepada Maxime. “Enggak ada ide. Saya tanya dia mau apa, dia juga enggak tahu,” ucap Prilly.  

Masih soal kesamaan dan perbedaan, pasangan ini gemar menonton film, tapi berbeda genre.  Awal tahun ini, keduanya berkencan di bioskop. Prilly ingin menonton Insidious: The Last Key, sementara Maxime yang penakut berupaya mengalihkan perhatian dengan mengajaknya ke studio sebelah yang memutar The Greatest Showman. 

“Saya membujuk Prilly dengan mengatakan, 'Eh kita menonton The Greatest Showman saja, yuk!' Sialnya, Prilly menjawab, 'No, no! Aku mau menonton Insidious.' Saya lalu berpikir ini kencan rasanya seperti uji nyali ha ha ha!” papar Maxime. Selama menonton, Maxime benar-benar ketakutan. Prilly mengabadikan momen itu dengan mengunggah foto Maxime di Instagram Stories. Di foto itu, Prilly membubuhkan keterangan: “si penakut.”

Dari Prilly, Maxime belajar memiliki nyali. Ini bukan perkara menonton film horor semata. Tahun lalu, genre horor lokal kembali bergairah setelah Prilly merilis film Danur: I Can See Ghost. Film ini ditonton 2,7 juta orang lebih. Danur membuka jalan bagi 4 film horor lain untuk mencetak box office, termasuk Pengabdi Setan yang mendulang 4,2 juta penonton.

Maxime membayangkan, andai Prilly tak punya nyali untuk menjajal genre horor, kariernya di layar putih tak akan segemilang ini. Prilly bersama pemain dan kru lain berhasil memopulerkan genre horor yang sebelumnya dipandang sebelah mata.

“Saya ingat, dulu sering membintangi film horor. Saya dikritik mengapa sering tampil di film horor. Saat tidak lagi tampil di film horor kemudian genre ini meledak tahun lalu, mereka yang dulu mengkritik balik bertanya, 'Mana film horornya? Kok sekarang enggak pernah main film horor lagi?' Maka, saya harus berani mencoba lagi kayak Prilly,” simpul Maxime Bouttier.

(wyn / val / gur)

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto